Wall Street Dibuka Melemah Rabu (14/10), Inflasi AS Picu Spekulasi Kenaikan Bunga



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (14/10/2026), setelah data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga pada Oktober.

Investor juga mencermati kinerja keuangan sejumlah bank besar AS.

Melansir Reuters pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average turun 85,11 poin atau 0,16% ke level 51.584,99. Indeks S&P 500 melemah 31,3 poin atau 0,40% menjadi 7.774,18, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 172,7 poin atau 0,63% ke posisi 27.031,64.


Baca Juga: IHSG di Fase Downtrend, Cek Rekomendasi Analis pada Perdagangan Kamis (15/10)

Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) naik 3,7% secara tahunan pada bulan lalu.

Angka tersebut melampaui perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 3,6%. Secara bulanan, CPI meningkat 0,6%, sesuai dengan ekspektasi pasar.

Data inflasi tersebut mendorong pelaku pasar meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga pada Oktober.

Berdasarkan data yang dihimpun LSEG, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin meningkat menjadi 46%, dari 21,6% sebelum data inflasi dirilis.

Meski demikian, Sam Stovall, kepala strategi investasi CFRA Research, menilai The Fed kemungkinan tidak akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober.

"Data ini tentu meningkatkan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober. Namun, saya meyakini mereka tidak akan melakukannya karena kami belum pernah melihat dua kali kenaikan suku bunga dalam rentang dua bulan menjelang pemilihan paruh waktu," ujar Stovall.

Baca Juga: Pefindo Catat Mandat Obligasi Korporasi Rp 56,19 Triliun hingga September 2026

Ia menambahkan, sikap hawkish yang telah diisyaratkan The Fed membuat peluang kenaikan suku bunga pada Desember semakin terbuka.

Investor juga mencermati laporan keuangan kuartalan perbankan AS. Saham Bank of America turun 7,3% dalam perdagangan prapasar setelah laba perusahaan merosot pada kuartal III-2026.

Bank tersebut juga menyisihkan US$ 1,2 miliar untuk menutup potensi denda terkait persoalan regulasi.

Saham Morgan Stanley turut melemah 2,2% meskipun bank investasi tersebut mencatat kenaikan laba kuartalan.

Sebaliknya, saham BlackRock menguat 2,2% setelah perusahaan manajemen aset itu melaporkan lonjakan laba kuartal III, didukung peningkatan pendapatan dari pengelolaan dana nasabah.

Baca Juga: Premi Risiko Utang Indonesia Menurun, Ini Proyeksi CDS hingga Akhir 2026

Kinerja perbankan yang beragam juga terlihat pada laporan JPMorgan Chase dan Goldman Sachs pada Senin (12/10/2026).

Hasil tersebut mengindikasikan bahwa lonjakan aktivitas transaksi dan perdagangan yang menopang rekor laba pada paruh pertama tahun ini berpotensi melambat. Sejumlah eksekutif turut menyoroti gejolak pasar obligasi yang membebani aktivitas bisnis.

Tekanan juga melanda saham sektor semikonduktor setelah data inflasi dirilis. Saham produsen cip telah berada dalam tekanan sepanjang pekan ini menyusul laporan mengenai kemajuan desain cip oleh CXMT asal China yang memicu kekhawatiran terhadap peningkatan persaingan.

Saham Intel turun 2,3%, Micron melemah 1,6%, dan Nvidia terkoreksi 1%.

Di antara saham teknologi berkapitalisasi besar yang tergabung dalam kelompok Magnificent Seven, sebagian besar masih mencatat kenaikan. Alphabet menguat 0,9%, sementara Microsoft dan Amazon.com bergerak sedikit lebih tinggi.

Dari sisi kebijakan moneter, Wakil Ketua The Fed untuk pengawasan Michelle Bowman mengatakan bank sentral masih memiliki waktu untuk mengevaluasi perkembangan pasar dan perekonomian setelah kenaikan suku bunga pada September sebelum memutuskan langkah berikutnya.

Baca Juga: Biaya Dana Masih Tinggi, Emiten Diproyeksi Pilih Rilis Obligasi Tenor Pendek

Pelaku pasar juga menantikan pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of Richmond Tom Barkin serta publikasi Beige Book The Fed yang merangkum kondisi ekonomi di berbagai wilayah AS.

Sementara itu, harga minyak bergerak naik pada Rabu, dengan minyak mentah Brent bertahan di atas US$ 100 per barel.

Kenaikan terjadi setelah dua kapal dilaporkan terkena serangan di Selat Hormuz dan pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa mereka menerapkan taktik baru untuk menargetkan kapal.

Pada perdagangan saham individual, Liquidia melonjak 37,6% setelah perusahaan farmasi tersebut menyatakan telah menyelesaikan enam gugatan yang masih berjalan dengan United Therapeutics.

Penyelesaian itu memastikan kelangsungan akses terhadap Yutrepia, obat untuk pasien dengan salah satu bentuk hipertensi pulmonal.

Baca Juga: Kebutuhan Refinancing Jadi Motor Obligasi Korporasi, Emisi Bisa Tembus Rp 180 Triliun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News