Wall Street Dibuka Memerah Selasa (7/4), Jelang Tenggat Trump ke Iran



KONTAN.CO.ID - Indeks utama Wall Street dibuka melemah pada Selasa (7/4/2026) seiring investor mencermati perkembangan terbaru konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Menjelang tenggat yang ditetapkan Presiden AS, Donald Trump, untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Melansir Reuters, pada pembukaan perdagangan, Indeks Dow Jones Industrial Average naik tipis 74,9 poin (0,16%) ke 46.744,76, S&P 500 turun 9,9 poin (0,15%) ke 6.601,93, dan Nasdaq Composite melemah 69,2 poin (0,31%) ke 21.927,087.


Baca Juga: Kurs Rupiah Tembus Level Rp 17.000, Begini Efeknya ke Emiten dengan Utang Valas

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya telah menyerang target militer di Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, meski tidak berdampak pada infrastruktur energi.

Iran kemudian menyatakan tidak lagi akan menahan diri untuk menyerang infrastruktur negara-negara Teluk.

Komentar tersebut muncul menjelang tenggat Trump, yang hingga kini tidak menunjukkan tanda-tanda akan dipenuhi oleh Iran.

Sumber senior Iran menyebut pembicaraan damai hanya bisa dimulai jika serangan dihentikan.

“Apa yang terlihat dari reaksi pasar adalah pengakuan bahwa akhir konflik tidak sedekat yang diharapkan,” kata Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer Northlight Asset Management.

Baca Juga: Cermati Rekomendasi Teknikal Saham MAPI, EXCL, ASII untuk Rabu (8/4)

Ia menambahkan, konflik kemungkinan masih akan berlanjut dengan serangan lanjutan dan retorika yang semakin memanas, sehingga membuat pelaku pasar berada dalam posisi tidak nyaman dan mengantisipasi skenario yang lebih buruk.

Di sisi lain, pemerintah AS pada Senin mengumumkan kenaikan pembayaran kepada perusahaan asuransi swasta yang menyediakan program Medicare Advantage sebesar 2,48% rata-rata untuk 2027.

Kabar ini mendorong saham perusahaan asuransi kesehatan melonjak di pre-market, dengan: UnitedHealth Group naik sekitar 7%, Humana melonjak 9,9%, dan CVS Health menguat 7,3%.

Sebelumnya, Wall Street ditutup menguat pada Senin, menandai penguatan empat hari beruntun bagi S&P 500 dan Nasdaq, seiring investor mulai memposisikan diri menjelang musim laporan keuangan kuartalan.

Namun, sejak konflik Timur Tengah memanas, indeks S&P 500 telah turun sekitar 4%, setelah sebelumnya sempat pulih dari tekanan, terutama di sektor kredit swasta dan perusahaan perangkat lunak akibat kekhawatiran disrupsi berbasis AI.

Baca Juga: Ada Kebutuhan Refinancing, Begini Prospek Obligasi Korporasi pada Semester I–2026

UBS juga memangkas proyeksi indeks S&P 500 akhir 2026 menjadi 7.500 dari sebelumnya 7.700.

Pekan ini, pasar akan mencermati sejumlah data inflasi untuk melihat dampak kenaikan harga minyak terhadap tekanan harga.

Konflik Iran juga memperumit prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve, di tengah kekhawatiran inflasi yang kembali meningkat dan pasar tenaga kerja yang masih kuat.

Investor juga akan memperhatikan pernyataan pejabat The Fed seperti Austan Goolsbee, Philip Jefferson, dan Mary Daly untuk petunjuk arah kebijakan selanjutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News