Wall Street Dibuka Menguat Jumat (11/9), S&P 500 Naik 0,59% di Tengah Inflasi AS



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada Jumat (11/9/2026), meski data terbaru menunjukkan inflasi konsumen kembali meningkat pada Agustus.

Investor masih mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) di tengah kenaikan yield obligasi pemerintah AS dan harga energi.

Melansir Reuters pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 140,4 poin atau 0,27% menjadi 52.204,46. Indeks S&P 500 menguat 45,1 poin atau 0,59% ke 7.636,75, sedangkan Nasdaq Composite naik 207,7 poin atau 0,80% menjadi 26.289,414.


Baca Juga: IHSG Terkoreksi 1,43% di Pekan Ini, Simak Proyeksi di Pekan Depan

Penguatan tersebut membawa Wall Street menuju penutupan pekan yang positif setelah sebelumnya menghadapi tekanan cukup berat.

Data Bureau of Labor Statistics menunjukkan, indeks harga konsumen (CPI) AS meningkat 0,4% secara bulanan pada Agustus, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,1% pada Juli.

Secara tahunan, inflasi konsumen mencapai 3,4%, sama dengan capaian Juli.

"Angka tersebut masih menunjukkan inflasi yang sulit ditaklukkan. Bagi saya, data ini sesuai perkiraan dan kemungkinan tidak akan memuaskan siapa pun, baik investor bullish maupun bearish," kata Joe Saluzzi, Co-Founder sekaligus Co-Head of Equity Trading Themis Trading.

Ekspektasi terhadap arah suku bunga yang terus berubah membuat kondisi pasar saham tetap rapuh. Investor juga harus menghadapi sejumlah tekanan lain, termasuk eskalasi konflik di Timur Tengah dan tingginya yield US Treasury.

Laporan CPI tersebut dirilis sehari setelah data Producer Price Index (PPI) yang juga sedikit lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi tersebut membuat investor semakin berhati-hati terhadap prospek inflasi.

Said Haidar, Founder Haidar Capital Management, menilai The Fed perlu merespons tekanan inflasi dalam waktu dekat untuk menghindari kembalinya inflasi tinggi seperti yang terjadi pada 1970-an.

Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Terkoreksi, Ini Sentimen yang Patut Dicermati Investor

Reli Wall Street masih jadi perhatian

Sebelum perdagangan Jumat dibuka, S&P 500 berada di jalur mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Juni. Dow Jones juga berpotensi membukukan penurunan mingguan terdalam sejak Maret.

Sejumlah investor mulai mempertanyakan seberapa jauh reli pasar saham AS tahun ini masih dapat berlanjut.

Namun, Jeff Schulze, Head Investment Strategist Franklin Templeton Institute, menilai sejarah memberikan sinyal positif.

Berdasarkan data sejak 1950, ketika S&P 500 naik lebih dari 10% hingga akhir Agustus, indeks tersebut kembali naik dari September hingga Desember dalam 25 dari 28 kasus.

Baca Juga: Obligasi Korporasi Diprediksi Ramai Lagi Kuartal IV 2026, Ini Pemicunya

Harga minyak kembali jadi risiko

Pergerakan harga energi masih menjadi perhatian investor. Kontrak berjangka minyak Brent turun lebih dari 3%, tetapi masih bertahan di atas US$104 per barel.

Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga melemah dan berada dekat level US$100 per barel.

Bill Adams, Kepala Ekonom AS Fifth Third Commercial Bank, mengatakan lonjakan harga energi sejak awal September meningkatkan risiko kenaikan inflasi.

Harga rata-rata nasional diesel AS bahkan menembus US$6 per galon pada Kamis (10/9), untuk pertama kalinya dalam sejarah, menurut pelacak harga GasBuddy.

Kondisi tersebut berpotensi semakin memperumit langkah The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Baca Juga: Suku Bunga ECB dan Yield US Treasury Naik, Dana Asing ke Indonesia Diprediksi Volatil

Saham Oracle melonjak

Di sisi korporasi, saham Oracle melonjak hampir 7% dalam perdagangan premarket setelah perusahaan melaporkan kinerja kuartalan yang melampaui ekspektasi.

Kinerja tersebut memberikan keyakinan kepada investor bahwa investasi Oracle di bidang kecerdasan buatan (AI) mulai menghasilkan keuntungan.

Sebaliknya, saham Adobe turun lebih dari 3% dalam perdagangan pra-pasar setelah proyeksi pendapatan kuartal IV perusahaan berada di bawah ekspektasi pasar.

Sementara itu, saham ACV Auctions melonjak sekitar 45% setelah perusahaan lelang kendaraan daring Copart menyepakati akuisisi ACV Auctions dengan nilai transaksi hampir US$1,9 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News