KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada Kamis (30/7/2026) waktu setempat. Sentimen positif datang dari laporan keuangan Microsoft yang melampaui ekspektasi pasar, sehingga meredakan kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja perusahaan teknologi untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: GOTO, BUKA hingga TPIA Kantongi Kas Jumbo, Mana yang Paling Prospektif? Di sisi lain, investor juga mencermati data terbaru pertumbuhan ekonomi dan inflasi AS yang dirilis sehari setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya. Melansir
Reuters, pada awal perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average naik 520,1 poin atau 1,01% ke level 52.114,27. Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 74,3 poin atau 1,02% menjadi 7.390,45, sedangkan indeks Nasdaq Composite melonjak 409,1 poin atau 1,67% ke level 24.852,05. Saham Microsoft melonjak sekitar 9% pada perdagangan
premarket setelah perusahaan memproyeksikan pendapatan kuartal berjalan dan pertumbuhan bisnis komputasi awan (cloud) yang melampaui ekspektasi analis. Microsoft juga memberikan proyeksi belanja modal yang lebih rendah dibandingkan perkiraan Wall Street serta menegaskan perusahaan masih akan mampu menghasilkan arus kas yang kuat hingga tahun fiskal 2027. Laporan tersebut meredakan kekhawatiran investor terhadap tingginya belanja AI di perusahaan-perusahaan teknologi besar.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Konsolidasi pada Jumat (31/7), Cermati Kata Analis Sebelumnya, laporan arus kas negatif dari Alphabet dan Tesla pada pekan lalu memicu aksi jual saham-saham yang terkait dengan AI. Saham-saham semikonduktor juga ikut tertekan karena investor mulai mempertanyakan valuasi yang dinilai terlalu tinggi. Akibat tekanan tersebut, indeks Nasdaq-100 telah terkoreksi sekitar 10% dari puncaknya pada awal Juni hingga penutupan perdagangan Rabu (29/7). Meski demikian, kekhawatiran terhadap tingginya biaya pengembangan AI belum sepenuhnya hilang. Saham Meta Platforms justru merosot 9,7% setelah perusahaan melaporkan arus kas bebas (free cash flow) kuartal II anjlok 91%. Penurunan tersebut mencerminkan besarnya beban investasi AI yang tengah dilakukan perusahaan.
Baca Juga: Kecemasan Geopolitik dan Isu BI Tekan Rupiah, Cek Proyeksi Jumat (31/7) Pelaku pasar kini juga menantikan laporan keuangan Apple dan Amazon yang dijadwalkan dirilis setelah penutupan perdagangan Kamis. Investor Cermati Data Ekonomi AS Selain laporan keuangan emiten, investor juga mencermati data ekonomi terbaru. Produk domestik bruto (PDB) AS tumbuh 1,5% secara tahunan pada kuartal II-2026, lebih rendah dibandingkan ekspektasi ekonom sebesar 2,1%. Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh pelebaran defisit perdagangan.
Baca Juga: Penjualan SBN Ritel pada Tahun 2026 Telah Mencapai Rp 94,54 Triliun Sementara itu, indeks harga
Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi acuan utama inflasi The Fed, turun 0,1% secara bulanan pada Juni, sesuai dengan perkiraan analis. Adapun inflasi inti PCE (core PCE) naik 0,1% secara bulanan, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 0,2%. Pada perdagangan sebelumnya, Wall Street ditutup melemah tajam setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%. Namun, pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang dinilai memberikan sinyal beragam mengenai arah kebijakan moneter membuat pelaku pasar kebingungan. "Pasar benar-benar bingung, yang menjelaskan reaksi di pasar obligasi. Namun pagi ini, keputusan menahan suku bunga terlihat masuk akal jika melihat penurunan inflasi PCE," kata Chief Executive Officer Grenadilla Advisory, Anna Rathbun. Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi dalam 19 tahun. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek kebijakan moneter dan risiko inflasi di masa depan. Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 64% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September mendatang.
Baca Juga: El Nino Bikin Haus Pasar AMDK, Tapi Analis Ingatkan Laba Emiten Belum Ikut Tumbuh Pergerakan Saham Lain Di luar Microsoft dan Meta, saham Qualcomm turun 3,2% setelah perusahaan memperkirakan laba kuartal IV berada di bawah ekspektasi analis dan memperingatkan pendapatan dari produk untuk Apple akan turun lebih cepat dari perkiraan. Sebaliknya, saham perusahaan keamanan siber Fortinet melonjak 11% setelah menaikkan proyeksi pendapatan tahunan, didukung tingginya permintaan layanan keamanan data dari kalangan korporasi. Saham Starbucks juga naik 4,6% setelah perusahaan menaikkan proyeksi penjualan dan laba untuk tahun ini.
Baca Juga: GOTO Berhasil Mencetak Laba Dua Kuartal Beruntun, Simak Prospek Sahamnya Hingga saat ini, hampir separuh perusahaan anggota indeks S&P 500 telah merilis laporan keuangan kuartal II-2026. Berdasarkan data LSEG IBES, sebanyak 85,2% perusahaan berhasil membukukan laba di atas ekspektasi analis, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis sebesar 68%. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News