KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Senin (31/8/2026). Investor mencermati kembali memanasnya konflik AS dan Iran yang mendorong harga minyak naik serta meningkatkan kekhawatiran inflasi. Melansir
Reuters pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average turun 97,4 poin atau 0,18% menjadi 53.462,6. Indeks S&P 500 melemah 14,2 poin atau 0,18% ke level 7.697,52. Sementara itu, Nasdaq Composite turun 43,9 poin atau 0,17% menjadi 26.358,559.
Baca Juga: Harga Emas Diproyeksi Masih Volatil hingga Akhir 2026, Ini Faktor Pemicunya Penurunan tersebut berpotensi menjadi awal yang kurang baik bagi September, yang secara historis merupakan salah satu bulan terlemah bagi pasar saham AS. Kondisi ini juga dapat meningkatkan perhatian investor terhadap pertemuan Federal Reserve (The Fed) pada bulan depan. Pelaku pasar kini melihat peluang hampir 60% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas tersebut meningkat tajam dari 41,4% sepekan sebelumnya. Kenaikan ekspektasi tersebut terjadi setelah Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan pembuat kebijakan mungkin perlu menaikkan biaya pinjaman apabila inflasi tidak kembali turun menuju target bank sentral sebesar 2%. “Dia (Warsh) menghilangkan peluang pemangkasan suku bunga dari meja,” kata Thomas Kikis, Head of Markets U.S. and Americas di Standard Chartered.
Baca Juga: Pasar Volatil, Laba Bersih BEI Melonjak 178,83% Per Juni 2026 Menurut Kikis, pernyataan Warsh menunjukkan sikap moneter yang lebih ketat dan konsisten. Pernyataan tersebut disampaikan Warsh pada Jumat (28/8) dalam penampilan perdananya di simposium Jackson Hole. Pernyataan itu muncul di tengah data ekonomi AS yang masih beragam. Laporan inflasi konsumen AS menunjukkan tekanan harga relatif rendah pada Juli. Namun, indeks
Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi indikator inflasi pilihan The Fed, tercatat lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi tersebut membuat laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada 4 September menjadi semakin penting bagi pasar. Analis Pasar Keuangan Senior Capital.com Kyle Rodda mengatakan, pelaku pasar kini lebih mencermati data nonfarm payrolls AS yang akan dirilis Jumat. “Pelaku pasar menantikan data nonfarm payrolls AS dengan lebih waspada, yang kemungkinan menjadi sorotan utama perdagangan pekan ini di tengah ketidakpastian kebijakan moneter yang meningkat,” ujar Rodda.
Baca Juga: Cetak Kinerja Positif, Simak Prospek Saham ADRO dan ADMR Saham Teknologi Di tengah tekanan pasar secara keseluruhan, saham Nvidia justru menguat 0,58% dalam perdagangan sebelum pembukaan pasar dan menjadi salah satu saham Magnificent Seven dengan kinerja terbaik. Sejumlah saham perusahaan semikonduktor lainnya juga menguat. Intel naik 0,27%, Lam Research tumbuh 0,78%, sedangkan Texas Instruments menguat 0,67%. Strategis Pasar Global Asia Pasifik Invesco David Chao mengatakan, dirinya masih menyukai sektor-sektor yang terkait dengan tema pertumbuhan struktural seperti kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur digital. Sementara itu, saham sektor energi menguat setelah harga minyak Brent naik hampir 1,71%. Saham Halliburton naik 2,65%, sedangkan Valero Energy menguat 2,07%. Kenaikan harga minyak terjadi setelah konflik militer antara AS dan Iran kembali pecah di Timur Tengah. Gangguan di Selat Hormuz juga menghambat pengiriman minyak melalui jalur strategis tersebut.
Baca Juga: Peta Market Cap BEI Berubah, BREN dan DSSA Mulai Tergusur Saham Kripto dan GameStop Sebagian besar saham terkait aset kripto juga bergerak menguat. Harga Bitcoin bertahan di atas US$ 78.000. Saham Coinbase, Strategy, dan CleanSpark masing-masing naik antara 0,87% hingga 1,86%.
Saham GameStop juga menguat 3,53% setelah perusahaan mengatakan akan menggunakan kas sekitar 27% dari transaksi pertukaran utang senilai US$ 1,4 miliar yang sebelumnya diumumkan. Keputusan tersebut membuat GameStop tidak perlu menerbitkan saham baru sehingga dapat menghindari dilusi saham lebih lanjut. Namun, perusahaan ritel video game tersebut memperkirakan penjualan bersih kuartal II akan turun akibat rencana penutupan sejumlah gerai dan pelepasan bisnisnya di Prancis. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News