KONTAN.CO.ID - Indeks utama Wall Street dibuka bervariasi pada Jumat (13/3/2026), setelah mengalami penurunan tajam pada sesi sebelumnya. Investor mencermati sejumlah data ekonomi terbaru untuk menilai arah suku bunga, di tengah meluasnya konflik di Timur Tengah. Pada awal perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 11,4 poin atau 0,02% ke level 46.689,24. Sementara S&P 500 turun tipis 0,9 poin atau 0,01% menjadi 6.673,49, dan Nasdaq Composite naik 113,7 poin atau 0,51% ke posisi 22.425,70.
Baca Juga: PIK Dua (PANI) Cetak Laba Rp 1,1 Triliun di 2025, Tumbuh 83% Berkat Segmen Ini! Data terbaru dari Departemen Perdagangan AS menunjukkan, produk domestik bruto (PDB) tumbuh 0,7% pada kuartal sebelumnya, lebih rendah dari perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 1,4%. Sementara itu, laporan lain menunjukkan indeks
Personal Consumption Expenditure (PCE) indikator inflasi favorit Federal Reserve naik 2,8% pada Januari, sedikit lebih rendah dari perkiraan ekonom sebesar 2,9%. Meski demikian, data tersebut belum banyak mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve. Pelaku pasar kini memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada tahun ini, menurut data LSEG. Sebelum perang di Timur Tengah pecah pada 28 Februari lalu, pasar memperkirakan dua kali penurunan suku bunga.
Baca Juga: Bakal Buyback Saham Rp 4 Triliun, Begini Rekomendasi Saham Alamtri Resources (ADRO) “Inflasi masih cukup tinggi dan cenderung bertahan. Dengan kemungkinan harga energi yang terus naik, The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga lebih lama,” kata Peter Cardillo, Chief Market Economist Spartan Capital Securities. The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan minggu depan. Namun lonjakan harga energi dapat memperumit kebijakan bank sentral, terutama ketika sejumlah indikator lain menunjukkan tekanan harga yang masih ada serta pasar tenaga kerja yang mulai melunak. Investor juga menunggu rilis indeks sentimen konsumen Universitas Michigan untuk Maret yang dijadwalkan keluar pukul 10.00 waktu setempat. Data ini akan memberikan gambaran bagaimana masyarakat memperkirakan pergerakan harga energi dalam beberapa bulan ke depan.
Baca Juga: Harga Minyak WTI Turun, Izin Ekspor Rusia Picu Pasokan Tambahan Harga minyak mentah sendiri masih bertahan di sekitar US$100 per barel, seiring konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda mereda, meskipun pemerintah AS menyatakan konflik dapat segera mereda. Berbagai upaya untuk meredam lonjakan harga energi, seperti pelepasan cadangan minyak darurat oleh International Energy Agency (IEA) serta izin sementara AS selama 30 hari bagi negara-negara untuk membeli minyak Rusia yang tertahan di laut, belum mampu menurunkan harga secara signifikan. Indikator ketakutan pasar CBOE Volatility Index (VIX) turun 1,8 poin ke level 25,37. Sementara itu, kontrak berjangka yang terkait dengan Russell 2000, indeks yang sensitif terhadap suku bunga, naik 0,7%. Ketiga indeks utama Wall Street diperkirakan mencatat penurunan selama tiga pekan berturut-turut, dengan indeks Dow Jones yang sarat saham sektor keuangan mengalami tekanan paling besar. Jika tren ini berlanjut, Dow berpotensi mencatat kerugian bulanan terbesar sejak Desember 2024.
Baca Juga: Ekspansi Regional Dorong Prospek Saham Kalbe Farma (KLBF), Ini Rekomendasinya Kekhawatiran terhadap kualitas kredit juga meningkat pekan ini setelah Morgan Stanley menghentikan penarikan dana pada salah satu produk private credit miliknya, mengikuti langkah serupa oleh BlackRock dan Blue Owl dalam beberapa pekan terakhir. Di sisi lain, JPMorgan Chase juga membatasi penyaluran pinjaman kepada perusahaan pembiayaan private credit, sementara Blackstone menghadapi lonjakan permintaan penarikan dana dari investor. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News