Wall Street Dibuka Naik Kamis (17/9), Harga Minyak Turun Redakan Kekhawatiran Inflasi



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Kamis (17/9/2026), setelah penurunan harga minyak meredakan kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi.

Pasar juga merespons keputusan Federal Reserve atau The Fed yang kembali menaikkan suku bunga.

Melansir Reuters pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 420,6 poin atau 0,82% menjadi 51.882,53. Indeks S&P 500 menguat 79,6 poin atau 1,05% ke 7.631,44.


Sementara Nasdaq Composite melesat 1,54% atau 399,4 poin ke 26.377,864.

Baca Juga: IHSG Jumat (18/9) Diproyeksi Menguat, Ini Sektor Pilihan Analis

Pergerakan tersebut menunjukkan investor mulai kembali masuk ke aset berisiko setelah keputusan kebijakan The Fed mengurangi sebagian ketidakpastian mengenai arah suku bunga.

Saham teknologi turut menguat. Dalam perdagangan sebelum pembukaan, Nvidia dan Amazon masing-masing naik hampir 2%.

Harga minyak jadi perhatian

Penurunan harga minyak menjadi salah satu katalis bagi pasar saham. Harga minyak mentah Brent turun lebih dari 3% menjadi US$ 102,28 per barel.

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS kembali berada di bawah US$ 100 per barel.

Harga minyak yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan terhadap inflasi, terutama ketika pasar masih mencermati dampak konflik di Timur Tengah terhadap pasokan energi global.

Baca Juga: IMC Pelita (PSSI) Bakal Jual 85 Juta Saham Treasuri Mulai 21 September

“Meski argumen bahwa harga energi meningkat karena gangguan sementara di Timur Tengah mungkin benar, inflasi telah berada di atas target selama lebih dari lima tahun,” kata Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer Northlight Asset Management.

Konflik di kawasan Timur Tengah juga masih menjadi perhatian pasar. Meluasnya konflik ke Yaman menambah risiko terhadap jalur pelayaran di Laut Merah, sementara gangguan terhadap East-West Pipeline Arab Saudi turut menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.

Pasar cermati langkah The Fed

The Fed sebelumnya menaikkan suku bunga acuannya ke kisaran 3,75%-4%. Kebijakan tersebut menjadi kenaikan suku bunga pertama dalam tiga tahun dan keputusan pertama di bawah Ketua The Fed Kevin Warsh.

Meskipun kenaikan suku bunga dapat meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko, pasar menilai keputusan tersebut sekaligus memberikan kejelasan mengenai respons bank sentral terhadap inflasi.

Namun, The Fed masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.

Baca Juga: Dolar Singapura Masih Stabil, Ini Proyeksi USDSGD hingga Akhir 2026

Ketidakpastian mengenai seberapa tinggi suku bunga akan dinaikkan berpotensi menjaga volatilitas saham dan obligasi.

Data CME FedWatch menunjukkan pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed Oktober sekitar 53%. Angka tersebut meningkat dari sekitar 44% sehari sebelumnya.

Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury 10 tahun juga turun. Penurunan yield membantu mengurangi tekanan terhadap saham karena imbal hasil yang tinggi pada aset bebas risiko seperti US Treasury biasanya mengurangi daya tarik saham.

September masih jadi tantangan

Kinerja Wall Street pada paruh kedua September menjadi perhatian investor karena September secara historis merupakan salah satu bulan yang lemah bagi pasar saham.

Indeks S&P 500 tercatat masih turun sekitar 1,7% sepanjang September hingga perdagangan terakhir.

Di luar saham teknologi besar, saham perusahaan neocloud juga bergerak positif dalam perdagangan sebelum pembukaan. Nebius naik sekitar 10%, sementara IREN menguat sekitar 6%.

Baca Juga: Bitcoin Tetap Menguat Usai The Fed Naikkan Suku Bunga Acuan, Cermati Pemicunya

Sebaliknya, CoreWeave berbalik turun lebih dari 3% setelah mengumumkan rencana mencari pendanaan melalui penerbitan saham dan obligasi konversi.

Saham Fluence Energy juga merosot lebih dari 22% setelah perusahaan memangkas proyeksi pendapatan untuk tahun fiskal 2026.

Pergerakan saham tersebut menunjukkan bahwa meski sentimen pasar membaik setelah harga minyak turun dan ketidakpastian kebijakan The Fed sedikit mereda, investor masih mencermati risiko inflasi, suku bunga dan perkembangan geopolitik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News