KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada Rabu (16/9/2026), setelah terkoreksi selama dua sesi perdagangan. Penguatan terjadi di tengah penantian investor terhadap keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed), sementara penurunan harga minyak memberikan sedikit ruang bagi aset berisiko.
Baca Juga: J.P. Morgan Ungkap Kenaikan Suku Bunga AS Berpotensi Tekan IHSG dalam Jangka Pendek Melansir
Reuters pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 22,3 poin atau 0,04% menjadi 52.115,4. S&P 500 bertambah 15,5 poin atau 0,20% ke 7.601,25, sedangkan Nasdaq Composite menguat 126,9 poin atau 0,49% menjadi 26.108,462. Keputusan suku bunga The Fed dijadwalkan diumumkan pada pukul 14.00 waktu setempat. Kebijakan tersebut menjadi perhatian pasar di tengah tingginya imbal hasil US Treasury, tekanan inflasi dan eskalasi konflik di Timur Tengah yang membatasi minat investor terhadap aset berisiko. Investor juga akan mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh untuk mencari petunjuk mengenai prospek inflasi dan arah suku bunga ke depan.
Baca Juga: The Fed Berpotensi Kerek Suku Bunga, Pasar Keuangan Indonesia Terancam Pasar tunggu sinyal The Fed Data CME FedWatch menunjukkan pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga mencapai hampir 93%. Meski demikian, ketidakpastian masih membayangi pasar. Warsh dipilih Presiden AS Donald Trump dengan harapan dapat mendorong penurunan suku bunga. Namun, Warsh juga menegaskan fokusnya untuk mengendalikan tekanan harga. Yung-Shin Kung, Head and Chief Investment Officer Mast Investments menilai, pasar mungkin terlalu yakin terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga. "Kami menilai
pricing pasar untuk kenaikan suku bunga mungkin terlalu percaya diri," ujar Kung. Menurut dia, kenaikan suku bunga belum tentu menjadi instrumen yang efektif untuk mengatasi sumber utama tekanan inflasi, seperti tarif dan lonjakan investasi infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Sementara itu, Adam Sarhan, Director MarketTerminal.com, menilai ketahanan pasar saham AS masih cukup kuat di tengah berbagai tekanan. "Pasar sangat tangguh. Ada banyak alasan bagi pasar untuk turun secara signifikan, tetapi hal itu belum terjadi," kata Sarhan.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Setelah Arab Saudi Buka Jalur Ekspor Alternatif Harga minyak turun Pergerakan saham juga mendapat dukungan dari penurunan harga minyak. Harga minyak turun setelah laporan bahwa Arab Saudi menawarkan tambahan kargo minyak mentah melalui Oman, sehingga meredakan kekhawatiran mengenai skala gangguan pasokan di Timur Tengah. Harga kontrak Brent turun 1,7% menjadi US$106,88 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 2,7% menjadi US$103 per barel. Penurunan harga minyak menekan saham sektor energi. Dalam perdagangan sebelum pembukaan, saham Devon Energy dan ConocoPhillips masing-masing turun lebih dari 1%. Di sektor teknologi, pergerakan saham cenderung beragam. Nvidia dan Meta masing-masing menguat hampir 1%, sementara Microsoft turun tipis dan Apple bergerak relatif datar. Sektor teknologi juga masih dibayangi seruan sejumlah eksekutif perusahaan AI untuk memperlambat pengembangan teknologi tersebut.
Baca Juga: CLARITY Act Tersandung di Senat AS, Ini Dampaknya ke Pasar Kripto Namun, sejauh ini belum terdapat kejelasan mengenai bentuk maupun cakupan perlambatan yang dimaksud.
Sementara itu, saham Intel naik 3,3% dalam perdagangan sebelum pembukaan, meski memangkas sebagian kenaikan setelah sebelumnya sempat melonjak lebih dari 5%. Kenaikan saham Intel terjadi setelah muncul laporan mengenai pembicaraan dengan SK Hynix terkait produksi chip memori di AS. Namun, SK Hynix mengatakan belum ada rencana yang telah dikonfirmasi terkait pembicaraan tersebut. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News