Wall Street Dibuka Stabil Jumat (25/9), Optimisme AI Redam Kekhawatiran Harga Minyak



KONTAN.CO.ID - Wall Street dibuka relatif stabil pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Optimisme terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) membantu meredam kekhawatiran investor terhadap harga minyak yang masih tinggi dan kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury.

Melansir Reuters, pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 9,7 poin atau 0,02% menjadi 51.359,7. S&P 500 menguat 5,7 poin atau 0,07% ke 7.709,86, sementara Nasdaq Composite naik 31,6 poin atau 0,12% menjadi 26.970,952.

Baca Juga: IHSG Diprediksi Bergerak Sideways Cenderung Melemah, Batas Support di 6.220


Saham-saham semikonduktor memimpin penguatan. Advanced Micro Devices, Marvell dan Cerebras masing-masing naik lebih dari 1%. Sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti Tesla, Nvidia dan SpaceX juga bergerak menguat tipis.

Sementara itu, saham Akamai Technologies melonjak 12% setelah perusahaan mengumumkan kesepakatan senilai US$11,6 miliar untuk layanan cloud dengan perusahaan AI Anthropic.

Sentimen positif terhadap sektor AI juga didorong perkembangan bisnis Meta. Antusiasme pengguna muda terhadap aplikasi Muse dan perangkat terintegrasi Charm turut menopang optimisme investor terhadap prospek AI.

Saham Meta bahkan berada di jalur kenaikan untuk pekan kelima berturut-turut. Jika bertahan, kenaikan tersebut akan menjadi penguatan lima pekan terbesar sejak Januari 2023. Nilai kapitalisasi pasar Meta juga tinggal kurang dari 1% lagi untuk menembus US$2 triliun.

Baca Juga: INPS Siapkan Private Placement Rp125 Miliar untuk Perbaiki Keuangan

"Jumlah uang yang disalurkan ke perekonomian melalui investasi AI sangat besar, dan kita bahkan belum melihat dampaknya terhadap produktivitas," kata Jamie Harris, Managing Partner Harris Financial Group.

Menurut dia, ekspektasi terhadap dampak investasi AI terhadap produktivitas turut menjadi salah satu faktor yang membuat pasar saham sulit mengalami aksi jual besar.

Sektor komunikasi dan teknologi menjadi penopang utama kenaikan mingguan indeks S&P 500. S&P 500 dan Nasdaq juga berada di jalur penguatan mingguan.

Namun, ruang penguatan pasar masih dibatasi sejumlah risiko makroekonomi. Harga minyak mentah Brent masih bertahan di atas US$100 per barel, sementara yield US Treasury tenor 10 tahun berada di level 5,1%.

Investor juga mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Laporan mengenai pembahasan jalur bertahap untuk mengakhiri konflik, termasuk kemungkinan Iran membuka kembali Selat Hormuz dan AS mencabut blokade ekonomi, membantu memperbaiki sentimen pasar.

Baca Juga: Harga Emas Antam Turun, Analis Ungkap Peluang Akumulasi

Di sisi lain, konflik berkepanjangan di Iran dan Ukraina serta tingginya utang pemerintah global meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Data ekonomi AS juga menunjukkan ketahanan ekonomi masih cukup kuat. Pesanan barang tahan lama pada Agustus tercatat stagnan, lebih baik dibandingkan ekspektasi ekonom yang memperkirakan penurunan 0,4%.

Kondisi tersebut turut memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, pelaku pasar kini melihat peluang 69% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada Oktober, naik dari sekitar 50% pada awal pekan.

Sejumlah pejabat The Fed, termasuk Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams, Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeffrey Schmid dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack, dijadwalkan berbicara pada Jumat. Pernyataan mereka akan menjadi perhatian investor untuk melihat arah kebijakan moneter selanjutnya.

Baca Juga: Finex Perluas Opsi Pembayaran Lokal untuk Penuhi Kebutuhan Trader di Indonesia

Sementara itu, pertemuan tingkat tinggi AS-China yang juga menjadi perhatian investor belum menghasilkan terobosan besar. Kedua negara hanya memperpanjang gencatan perdagangan hingga 10 Januari.

Di antara saham lainnya, People melonjak 10% setelah muncul laporan bahwa MGM Resorts International tengah mempertimbangkan tawaran untuk mengakuisisi perusahaan layanan daring tersebut.

Sebaliknya, saham Comcast turun 2,1% setelah KeyBanc menurunkan rekomendasi saham perusahaan media dan telekomunikasi tersebut menjadi underweight.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News