KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (23/9/2026), tertekan kenaikan harga minyak mentah dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Investor juga mencermati perkembangan negosiasi untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah serta pertemuan penting Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping.
Baca Juga: Begini Arah Pasar Saham Usai Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga 5,75% Melansir
Reuters pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average turun 92,3 poin atau 0,18% menjadi 51.771,41. Indeks S&P 500 melemah 2,7 poin atau 0,03% ke 7.761,94, sedangkan Nasdaq Composite turun 30,8 poin atau 0,11% menjadi 27.213,519. Harga minyak Brent naik lebih dari 1% setelah sebelumnya mencatat penurunan selama lima sesi berturut-turut. Meski demikian, harga minyak masih berada di sekitar level terendah dalam dua pekan. Kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor dua tahun dan 10 tahun turut membebani sentimen pasar. Investor kembali mengkhawatirkan biaya pinjaman yang akan bertahan tinggi dalam waktu lebih lama. "Pasar saat ini sedang dalam ketidakpastian... karena imbal hasil obligasi dan harga minyak sedang naik," kata Sam Stovall, chief investment strategist CFRA Research.
Baca Juga: Berburu Dividen Jelang Cum Date, Ini yang Perlu Dicermati Pelaku pasar juga menunggu perkembangan dari pembicaraan antara pejabat AS dan Iran. Negosiasi melalui mediator dimulai pada Selasa (22/9) di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dari sisi geopolitik, kedatangan Xi Jinping ke Washington juga menjadi perhatian investor. Dalam kunjungan kenegaraan tersebut, Xi dijadwalkan bertemu Trump untuk membahas sejumlah isu, termasuk perpanjangan gencatan dagang yang disepakati kedua negara tahun lalu, regulasi kecerdasan buatan (AI), serta penjualan senjata AS ke Taiwan. Xi juga dijadwalkan bertemu sejumlah pimpinan perusahaan besar AS, termasuk General Motors, Meta, Apple, Amazon dan Tesla. Saham perusahaan-perusahaan tersebut bergerak datar hingga sedikit menguat dalam perdagangan sebelum pembukaan. Sementara itu, optimisme terhadap prospek AI masih menjadi salah satu penopang pasar saham AS. Nasdaq pada Selasa (22/9) mencatat rekor tertinggi intraday pertama sejak awal Juni.
Baca Juga: Rupiah Mulai Konsolidasi Usai Melemah 9 Hari, Ini Proyeksi hingga Akhir 2026 Kenaikan tersebut antara lain didorong respons positif pasar terhadap asisten AI Muse milik Meta. Sejumlah analis menilai perkembangan tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap infrastruktur teknologi, sekaligus memunculkan kembali kekhawatiran mengenai potensi disrupsi AI terhadap sejumlah sektor. Di sisi lain, sektor keuangan S&P 500 mencatat penurunan harian terbesar sejak Maret pada perdagangan sebelumnya. Saham JPMorgan Chase dan Charles Schwab serta perusahaan yang berorientasi konsumen seperti Uber dan Airbnb bergerak sedikit menguat pada perdagangan sebelum pembukaan, setelah mengalami tekanan tajam sehari sebelumnya. Dari sisi korporasi, saham jaringan restoran kasual Cracker Barrel naik 6,8% setelah mencatat penjualan kuartal IV yang melampaui estimasi pasar. Kenaikan belanja AI dan biaya energi yang lebih tinggi akibat perang AS-Iran juga menjadi perhatian Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: Impor Emas China Tembus 1.000 Ton, Prospek Harga Emas Kembali Terangkat Pejabat The Fed mengisyaratkan perlunya mempertahankan kebijakan suku bunga ketat lebih lama setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga pada pekan lalu.
Pelaku pasar selanjutnya menantikan data Purchasing Managers' Index (PMI) AS dari S&P Global untuk September yang akan dirilis pada Rabu. Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan aktivitas bisnis masih berada di zona ekspansi, yakni di atas level 50. Gubernur The Fed Michael Barr juga dijadwalkan menyampaikan pidato. Pernyataannya akan dicermati investor untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter berikutnya. Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang sekitar 50% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sedikitnya 25 basis poin pada bulan depan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News