Wall Street Dibuka Variatif, Investor Cermati Harga Minyak dan Inflasi AS



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka bergerak terbatas pada perdagangan Senin (12/10/2026). Investor mencermati kenaikan harga minyak dan perkembangan geopolitik menjelang rilis laporan keuangan perbankan serta data inflasi AS yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 92 poin atau 0,18% ke level 51.746,95. Indeks S&P 500 menguat tipis 4,18 poin atau 0,05% ke 7.815,72. Sebaliknya, Nasdaq Composite turun 12,89 poin atau 0,05% ke level 27.353,28.

Pergerakan terbatas tersebut terjadi ketika pelaku pasar menimbang risiko kenaikan harga energi terhadap inflasi, di tengah harapan bahwa kinerja laba perusahaan AS masih mampu menopang pasar saham.


Baca Juga: Konsolidasi MI Berpotensi Pengaruhi Likuiditas dan Pergerakan Harga Saham

Harga kontrak berjangka minyak mentah Brent naik ke level tertinggi dalam sekitar dua pekan, yakni di atas US$ 106 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah serangan mematikan di Bandara Internasional Riyadh pada akhir pekan.

Namun, kenaikan harga minyak tertahan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Rusia dan Ukraina telah sepakat menghentikan serangan terhadap fasilitas energi satu sama lain, menyusul kesepakatan pasokan diesel AS dengan Moskow. Meski demikian, rincian kesepakatan tersebut belum jelas dan rencana itu menghadapi penolakan di Washington.

Kenaikan harga energi menjadi perhatian investor karena dapat memperlambat penurunan inflasi dan membuat The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury bahkan sempat mencapai level tertinggi dalam 24 tahun pada awal Oktober, seiring kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi akan membuat inflasi sulit turun. Kondisi ini berpotensi menekan valuasi saham.

Pasar obligasi pemerintah AS tutup pada Senin karena libur Columbus Day.

Selain perkembangan geopolitik, investor menantikan dimulainya musim laporan keuangan kuartal III-2026. Sejumlah bank besar AS, termasuk Wells Fargo, Goldman Sachs, Citigroup, dan JPMorgan Chase, dijadwalkan melaporkan kinerja mulai Selasa.

Data LSEG IBES memperkirakan laba perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 tumbuh 30,6% pada kuartal III-2026.

Baca Juga: IPO Masih Jauh dari Target, Ini Kata Bursa

Clark Bellin, Presiden sekaligus Chief Investment Officer Bellwether Wealth, mengatakan investor akan mencermati bagaimana perusahaan memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk menghasilkan keuntungan.

Selain itu, pasar akan mengamati kemampuan perusahaan mempertahankan atau menaikkan harga jual, serta menghadapi kenaikan biaya pinjaman.

Di sisi makroekonomi, investor juga menantikan data indeks harga konsumen (CPI), indeks harga produsen (PPI), dan penjualan ritel AS yang dirilis pekan ini.

Harga energi yang lebih tinggi diperkirakan mendorong inflasi utama AS atau headline CPI naik 3,7% secara tahunan. Sementara itu, inflasi inti yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi diperkirakan meningkat lebih moderat, sebesar 2,5% secara tahunan.

Sebelumnya, data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dan pertumbuhan lapangan kerja yang melemah membantu meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Berdasarkan CME FedWatch, pasar memperhitungkan probabilitas sebesar 19% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Oktober.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News