KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka bervariasi pada Kamis (16/7/2026), dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq bergerak melemah akibat tekanan pada saham-saham semikonduktor. Di sisi lain, indeks Dow Jones menguat didukung kinerja positif sektor kesehatan.
Baca Juga: Melihat Prospek Emiten yang Terlibat dalam Proyek Waste to Energy Tahap II Melansir
Reuters pada awal perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 266,2 poin atau 0,51% ke level 52.924,86. Sementara itu, S&P 500 turun 13,6 poin atau 0,18% menjadi 7.558,8, sedangkan Nasdaq Composite melemah 113,8 poin atau 0,43% ke level 26.155,41. Saham-saham semikonduktor melanjutkan pelemahan setelah pada sesi sebelumnya investor mengalihkan dana ke saham-saham teknologi berkapitalisasi besar dan sektor perbankan menyusul laporan keuangan yang solid dari sejumlah bank besar. Saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) yang diperdagangkan di AS turun 3,9% pada perdagangan prapasar, meskipun perusahaan pembuat chip kecerdasan buatan (AI) itu melaporkan laba kuartal II yang melonjak 77% dan melampaui ekspektasi pasar. Produsen chip memori menjadi kelompok dengan penurunan terbesar. Saham Western Digital merosot 7,2%, Seagate Technology turun 5,7%, sedangkan Micron Technology melemah 5%.
Baca Juga: Emiten Batubara Berlomba-lomba Diversifikasi Sektor Energi Hijau Sepanjang tahun ini, saham-saham semikonduktor menjadi salah satu motor utama reli Wall Street seiring optimisme terhadap belanja infrastruktur AI oleh perusahaan teknologi besar. Namun, kenaikan indeks yang sudah cukup tinggi membuat pasar lebih rentan terhadap aksi ambil untung maupun kekecewaan terhadap prospek kinerja emiten. Hingga saat ini, indeks S&P 500 telah menguat lebih dari 10% sepanjang 2026 dan masih berada tidak jauh dari rekor penutupan tertinggi yang dicapai pada Juni lalu. Di sisi makroekonomi, investor mencermati data penjualan ritel Amerika Serikat pada Juni yang hanya naik tipis. Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh turunnya harga bahan bakar yang menekan nilai penjualan di stasiun pengisian bahan bakar. Meski demikian, belanja konsumen secara umum dinilai masih cukup kuat.
Baca Juga: Tenor Pendek Jadi Buruan, Target Awal ORI030 Naik Menjadi Rp 25 Triliun "Perlambatan pertumbuhan penjualan ritel secara keseluruhan justru merupakan sinyal positif karena terutama disebabkan turunnya harga bensin, bukan melemahnya permintaan konsumen. Laporan ini mendukung prospek pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil kuartal II," kata Kepala Ekonom AS Fifth Third Commercial Bank, Bill Adams. Data lain menunjukkan klaim tunjangan pengangguran mingguan turun menjadi 208.000 untuk pekan yang berakhir 11 Juli, lebih rendah dibandingkan perkiraan ekonom sebesar 217.000 klaim dan lebih rendah dari pekan sebelumnya yang mencapai 216.000 klaim. Sementara itu, saham UnitedHealth melonjak 6,8% setelah perusahaan menaikkan proyeksi laba tahun 2026. Kenaikan tersebut turut mengangkat saham perusahaan asuransi kesehatan lain, seperti Humana yang naik 4,4% dan Centene yang menguat 3,5%. Pelaku pasar juga semakin yakin Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan bulan ini. Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, peluang bank sentral menahan suku bunga kini mencapai sekitar 88%.
Baca Juga: Konflik AS-Iran Memanas, Pasar Khawatir Gangguan Suplai di Selat Hormuz Di luar faktor ekonomi dan kinerja emiten, investor masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Reuters melaporkan Iran meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur pelayaran Laut Merah apabila AS menyerang infrastruktur kelistrikan Iran. Langkah tersebut berpotensi kembali mengganggu pasokan energi global dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News