KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Senin (28/9/2026). Kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury menjadi sentimen negatif di tengah ketidakpastian prospek kesepakatan damai antara AS dan Iran. Harga minyak sempat melonjak setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian dari Iran. Namun, kenaikan tersebut kemudian mereda setelah muncul ekspektasi bahwa mediator Qatar akan kembali menggelar pembicaraan dengan kedua negara untuk mencari kemungkinan kesepakatan.
Baca Juga: Transaksi Short Selling Dimulai Besok 1 Oktober 2026, Baru 2 Sekuritas & 5 Saham Harga minyak yang sebelumnya sempat turun dari level tertinggi pada awal September kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Investor mencermati berkurangnya harapan terhadap tercapainya kesepakatan damai yang dapat meredakan gangguan pasokan energi. Kenaikan harga minyak dan bahan bakar diesel kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi AS. Kondisi tersebut turut mendorong imbal hasil Treasury lebih tinggi, terutama setelah sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut apabila tekanan harga tidak mereda. The Fed sebelumnya telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan ini. “Iran mendorong harga minyak, harga minyak mendorong inflasi, dan inflasi mendorong suku bunga,” kata Jack Ablin, chief investment strategist sekaligus founding partner Cresset Capital Management di Chicago. Menurut Ablin, kenaikan imbal hasil membuat aset berbasis bunga menjadi semakin menarik dibandingkan saham. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap valuasi saham.
Baca Juga: Ada BBRI dan BBCA, Cek Saham yang Banyak Diborong Asing, Senin (28/9) Wall Street Melemah Pada penutupan perdagangan Senin, Dow Jones Industrial Average turun 347,11 poin atau 0,67% menjadi 51.481,51. Indeks S&P 500 melemah 59,72 poin atau 0,77% ke 7.683,69, sedangkan Nasdaq Composite turun 248,34 poin atau 0,92% menjadi 26.820,38. Penurunan S&P 500 tersebut menjadi yang terbesar dalam sehari sejak 20 Agustus 2026. Salah satu saham yang menjadi pemberat indeks adalah Boeing. Saham Boeing anjlok 6,9% setelah Federal Aviation Administration (FAA) menyatakan akan menunda sertifikasi Boeing 737 MAX 10 hingga persoalan perangkat lunak yang baru terungkap dapat diselesaikan. Sebaliknya, saham Nvidia menguat 1,6%. Penguatan terjadi setelah perusahaan semikonduktor tersebut mengumumkan otorisasi pembelian kembali saham senilai US$150 miliar, yang menjadi program buyback terbesar dalam sejarah perusahaan.
Baca Juga: IMBS Resmi Jadi Pengendali Baru KETR, Kuasai 35% Saham Setelah Tender Sukarela Kelar Di pasar energi, perkembangan negosiasi AS dan Iran masih menjadi perhatian investor. Iran mengumumkan proposal perdamaian pada sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan lalu dan menyebut proposal tersebut telah disampaikan kepada AS melalui mediator Qatar. Trump mengatakan pada Sabtu telah menolak proposal tersebut. Namun, pada Minggu kepada Axios, Trump menyebut negosiator AS akan melanjutkan pembicaraan dengan Iran pekan ini. Dari sisi kebijakan moneter, Gubernur The Fed Lisa Cook mengatakan tekanan inflasi diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa bulan mendatang, antara lain akibat permintaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) dan kenaikan harga minyak. Namun, ia tidak secara langsung menyatakan bahwa The Fed perlu kembali menaikkan suku bunga. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober juga meningkat dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan setidaknya 25 basis poin pada pertemuan Oktober mencapai 70,3%, naik dari 57,6% sepekan sebelumnya dan 17,7% sebulan lalu.
Baca Juga: Saham di Bawah Gocap Jadi Primadona, Simak Penjelasan Analis Investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi AS yang dirilis pekan ini, termasuk data inflasi dan pasar tenaga kerja. Perhatian utama akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan pemerintah AS pada Jumat yang dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed. Sementara itu, saham Tesla turun 3,9% setelah broker J.P. Morgan memangkas target harga saham tersebut dengan alasan lemahnya pengiriman kendaraan pada kuartal III-2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News