KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street ditutup melemah, tertekan oleh saham Alphabet dan Amazon, karena imbal hasil obligasi pemerintah naik dan presiden Iran mengatakan Teheran tidak akan pernah menyerah pada tekanan Amerika Serikat (AS). Rabu (23/9/2026), Indeks S&P 500 ditutup turun 0,75% menjadi 7.706,05, indeks Nasdaq Composite anjlok 1,13% ke 26.936,04 dan indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,68% ke 51.511,59. Sembilan dari 11 indeks sektor S&P 500 mengalami penurunan, dipimpin oleh sektor utilitas yang ambles 1,72%, diikuti oleh penurunan 1,49% pada sektor jasa komunikasi.
Baca Juga: IHSG Menguat 1,56%, Cek Proyeksi Pergerakan IHSG pada Kamis (24/9) Pada sesi ini, harga minyak naik hampir 4% dan indeks sektor energi S&P 500 menguat setelah pidato Presiden Iran Masoud Pezeshkian di PBB, sehari setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa ia dapat "menghancurkan" Iran. Sebuah survei menunjukkan aktivitas bisnis AS melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari lima tahun pada bulan September, mendorong imbal hasil obligasi pemerintah lebih tinggi dan meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober. Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun mencapai level tertinggi sejak 2024, dengan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak 2007. "Pasar saham menginginkan penyelesaian konflik (Timur Tengah), dan jika kita tidak mendapatkannya, kita akan memiliki suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, dan itu akan terus membebani pasar ekuitas," kata Lauren Cassidy, kepala investasi di Founders 100 ETF di Dallas. Di sisi lain, saham Meta Platforms naik 1%, sehingga kenaikannya pada pekan ini sudah mencapai 12% setelah penerimaan yang kuat terhadap asisten AI "Muse" miliknya, yang menurut analis dapat menguntungkan saham infrastruktur teknologi, sementara menantang bank, platform belanja online, dan bisnis konsumen lainnya. Sementara itu, saham induk perusahaan Google, Alphabet, turun 3,8%. Saham Amazon, yang telah memblokir Muse dari platform belanjanya, juga melemah 2,2%. Indeks chip PHLX turun 1,2%, dengan saham Nvidia turun 1,5%. Sedangkan saham Expedia dan Airbnb keduanya melemah lebih dari 7%.
Baca Juga: IHSG Menguat Setelah BI Tahan Suku Bunga, Ini Saham Pilihan Analis Indeks Nasdaq mencatat penutupan tertinggi sepanjang masa dalam dua sesi sebelumnya karena Wall Street tetap optimis tentang perusahaan terkait AI. Indeks S&P 500 pun berada kurang dari 2% di bawah penutupan tertinggi sepanjang masa pada 13 Agustus. Presiden AS Donald Trump menyambut Presiden China Xi Jinping di Washington pada hari Rabu untuk kunjungan tiga hari. Agenda tersebut mencakup perpanjangan gencatan senjata perdagangan yang dicapai tahun lalu antara kedua negara adidaya, regulasi AI, dan penjualan senjata AS ke Taiwan. Volume perdagangan di bursa AS relatif tinggi, dengan 17,0 miliar saham diperdagangkan, dibandingkan dengan rata-rata 16,5 miliar saham selama 20 sesi sebelumnya. Indeks S&P 500 diperdagangkan sedikit di bawah 19 kali lipat ekspektasi pendapatan, valuasi terendah sejak 2023, menurut data LSEG. Saham-saham unggulan terkait AI bertanggung jawab atas sebagian besar peningkatan ekspektasi pendapatan baru-baru ini. Pasar juga menganalisis komentar dari Gubernur Federal Reserve Michael Barr, yang mengatakan bank sentral kemungkinan perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut karena inflasi tetap di atas target 2% Fed.
Baca Juga: Rupiah Berpeluang Menguat Kamis (24/9), Ini Pemicunya Para investor sekarang memperkirakan peluang 71% bahwa Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan bulan depan, menurut data FedWatch Tool dari CME Group. Saham Rantai restoran kasual Cracker Barrel naik 4,5% setelah melampaui perkiraan penjualan kuartal keempat. Saham Paychex turun 8,8% setelah penyedia layanan SDM dan penggajian tersebut mengatakan bahwa segmen terbesarnya gagal mencapai perkiraan pendapatan kuartal pertama. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News