Wall Street Ditutup Menguat: S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Bulanan Terbesar



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street kembali ditutup menguat dengan indeks S&P 500 serta Nasdaq mencatatkan kenaikan bulanan terbesar dalam beberapa tahun sebagai kinerja yang solid. Laporan laba perusahaan mengimbangi guncangan pasokan minyak terkait perang yang telah mengguncang pasar dan mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi empat tahun.

Kamis (30/4/2026), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 790,33 poin atau 1,62% menjadi 49.652,14, indeks S&P 500 menguat 73,05 poin atau 1,02% ke 7.209,00 dan indeks Nasdaq Composite menguat 219,07 poin atau 0,89% ke 24.892,31.

Dari 11 sektor utama di indeks S&P 500, hanya sektor teknologi yang berakhir dengan penurunan, sementara sektor jasa komunikasi dan industri memimpin kenaikan.


Pada sesi ini, harga minyak mereda dan data ekonomi menunjukkan ekonomi AS terus tumbuh dengan kecepatan yang sehat, membantu investor mengabaikan ketegangan geopolitik dan menutup bulan dengan kenaikan yang solid.

Baca Juga: Harga Emas dan Perak Diproyeksi Tertahan pada Mei 2026, Begini Kata Analis

Indeks S&P 500 mencatat kenaikan persentase bulanan terbesar sejak November 2020, sementara kenaikan bulanan Nasdaq adalah yang terbesar sejak April 2020. Penguatan bulanan pada indeks Dow juga jadi yang terbesar sejak November 2024.

Reli tersebut mendapatkan momentum sepanjang sesi, mendorong ketiga indeks saham utama AS naik tajam.

"Banyak data ekonomi yang meredakan kekhawatiran investor," kata Paul Nolte, penasihat kekayaan senior & ahli strategi pasar di Murphy & Sylvest di Elmhurst, Illinois. "Selain itu, ada beberapa pendapatan yang cukup bagus dari banyak perusahaan berbeda, dan kita melihat hal itu meluas hari ini."

"Sampai kita melihat beberapa perubahan pada dinamika pasar, serta ekonomi, momentumnya berada di sisi bullish," tambah Nolte.

Sektor industri, yang didorong oleh saham Caterpillar, menempatkan Dow di depan. Sementara, sektor teknologi membatasi kenaikan Nasdaq setelah serangkaian hasil kuartalan penting yang dirilis Rabu malam.

Empat anggota kelompok Magnificent Seven yang terdiri dari perusahaan-perusahaan raksasa terkait kecerdasan buatan melaporkan hasil keuangan mereka pada Rabu malam: Alphabet, Amazon, Meta Platforms, dan Microsoft. 

Alphabet melonjak 10,0% setelah melaporkan kuartal rekor untuk unit cloud-nya, dan Amazon naik 0,8%. Sedangkan saham Meta dan Microsoft masing-masing merosot 8,7% dan 3,9%, karena kekhawatiran atas pengeluaran terkait kecerdasan buatan.

Baca Juga: Rupiah Melemah dan Harga Minyak Naik, Sejumlah Sektor Usaha Tertekan

"Pengeluaran terus berjalan dengan cepat," kata Nolte. "Mereka masih melihat pertumbuhan yang sangat kuat dan beberapa mulai melaporkan pengembalian investasi, yang merupakan hal baru."

Apple, anggota Magnificent Seven lainnya, dijadwalkan akan segera melaporkan hasilnya. 

HARGA MINYAK MENTAH, INFLASI, DAN FED 

Sejumlah data ekonomi menunjukkan ekonomi AS tumbuh sebesar 2,0% dalam tiga bulan pertama tahun 2026, dengan klaim pengangguran awal turun ke level terendah sejak 1969 dan harga energi yang melonjak membuat inflasi tahunan tetap di atas 3%, menggagalkan harapan penurunan suku bunga dalam waktu dekat dari Federal Reserve seiring berakhirnya masa jabatan delapan tahun Jerome Powell sebagai ketua. 

Pada hari Rabu, dalam pemungutan suara yang paling terpecah sejak 1992, bank sentral mempertahankan suku bunga acuannya, sambil mengakui ketidakpastian terkait kenaikan harga minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah. 

Konflik tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, dengan Iran memperingatkan pembalasan jika Amerika Serikat meninggalkan gencatan senjata dan memperbarui serangannya, menunjukkan bahwa upaya untuk menegosiasikan kesepakatan perdamaian telah menemui jalan buntu. 

Baca Juga: Cermati Saham-Saham yang Banyak Diborong Asing Saat IHSG Ambruk, Kamis (30/4)

Para pemimpin militer AS diperkirakan akan memberi pengarahan kepada Presiden Donald Trump tentang potensi aksi militer di Iran, kata seorang pejabat AS kepada Reuters.

Kemungkinan perang yang berkepanjangan, gangguan lalu lintas jangka panjang di Selat Hormuz, dan tekanan yang berkepanjangan pada harga energi telah meredam harapan akan pelonggaran kebijakan jangka pendek dari para pembuat kebijakan moneter. 

Pada sesi ini, saham Eli Lilly naik 9,8% setelah perusahaan farmasi tersebut menaikkan perkiraan laba tahunannya karena permintaan obat penurun berat badan yang berkelanjutan. 

Saham Caterpillar juga melonjak 9,9%, mencapai rekor tertinggi setelah perusahaan melaporkan kenaikan laba kuartal pertama karena permintaan yang kuat untuk pembangkit listrik dan peralatan konstruksinya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News