Wall Street Ditutup Merah (29/10), Saham Alphabet Ambles 12,6% Gegara Belanja AI



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (29/10/2026), seiring kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) perusahaan teknologi kembali mencuat.

Sentimen negatif ini muncul setelah kinerja pendapatan Alphabet meleset dari ekspektasi pasar, di tengah rilis data inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS.

Indeks Nasdaq Composite mencatat penurunan terdalam karena tekanan pada saham-saham teknologi, terutama Alphabet. Sementara itu, indeks Russell 2000 yang mengukur kinerja saham berkapitalisasi kecil justru menguat 1%.


Baca Juga: Intip Saham yang Banyak Diburu Asing Saat IHSG Anjlok 3,48% ke 5.098, Kamis (29/10)

Melansir Reuters, pada penutupan perdagangan, Dow Jones Industrial Average turun 132,54 poin atau 0,25% ke level 52.342,56. Indeks S&P 500 melemah 23,59 poin atau 0,30% menjadi 7.720,39, sedangkan Nasdaq Composite merosot 365,13 poin atau 1,37% ke posisi 26.184,72.

Saham Alphabet anjlok 12,6% setelah perusahaan induk Google tersebut melaporkan pendapatan kuartalan di bawah ekspektasi. Kekhawatiran investor juga meningkat karena perusahaan mempercepat pengeluaran kas untuk pengembangan AI.

Tekanan terhadap Alphabet turut menyeret sektor jasa komunikasi. Investor kini semakin selektif dalam menilai perusahaan teknologi yang agresif berinvestasi pada AI, terutama dalam membedakan emiten yang mampu membiayai ekspansi dari arus kas internal dan perusahaan yang bergantung pada utang.

Analis strategi investasi Baird Ross Mayfield mengatakan, pelemahan pasar yang disertai penguatan saham berkapitalisasi kecil menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap prospek AI belum tentu berdampak pada seluruh sektor pasar saham.

"Masih banyak pilihan investasi lain di luar perdagangan saham AI yang memiliki prospek cukup baik," ujar Mayfield.

Saham semikonduktor juga menghentikan tren kenaikan selama empat hari berturut-turut. Indeks saham sektor tersebut turun 1,4% seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap kebutuhan pendanaan belanja AI yang besar.

Baca Juga: Asing Net Sell Rp 1,08 Triliun Saat IHSG Ambruk 3,48%, Cek Saham yang Banyak Dilepas

Data ekonomi dan kebijakan The Fed menjadi sorotan

Tekanan di pasar saham terjadi sehari setelah bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya.

The Fed mengakui tekanan harga masih tinggi dan menyatakan akan mengumpulkan lebih banyak informasi sebelum menentukan langkah kebijakan berikutnya.

Data ekonomi yang dirilis Kamis menunjukkan ekonomi AS tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada kuartal III-2026.

Namun, pertumbuhan harga juga menunjukkan percepatan, di tengah gangguan pasokan minyak akibat konflik yang mendorong tekanan inflasi lebih luas.

Kondisi tersebut menambah tantangan bagi The Fed dalam menentukan arah suku bunga, karena pertumbuhan ekonomi yang kuat berjalan beriringan dengan tekanan inflasi yang belum mereda.

Baca Juga: Harga Emas Dunia dan Antam Terkoreksi, Begini Proyeksi hingga Akhir Tahun

Kinerja emiten beragam

Di tengah pelemahan pasar, sejumlah saham bergerak berlawanan arah mengikuti hasil kinerja keuangan masing-masing perusahaan.

Saham Caterpillar turun 9,3% meskipun produsen alat berat tersebut membukukan laba kuartalan di atas perkiraan analis. Investor mencermati keputusan perusahaan yang mempertahankan target pertumbuhannya.

Sebaliknya, saham Eli Lilly menguat 6,6% setelah perusahaan farmasi itu menaikkan proyeksi pendapatan, didukung penjualan obat penurun berat badan. Saham Ford juga melonjak 12,4% setelah pendapatan kuartal III melampaui ekspektasi pasar.

Saham Merck naik 3,8% setelah perusahaan farmasi tersebut membukukan kinerja di atas perkiraan, ditopang penjualan obat kanker Keytruda dan vaksin HPV Gardasil.

Di sektor perangkat lunak, Fortinet dan ServiceNow masing-masing anjlok lebih dari 20% setelah merilis laporan keuangan kuartalan.

Sementara itu, saham Marvell Technology merosot 13,2% menyusul laporan media mengenai pembicaraan lanjutan untuk mengakuisisi Lumentum Holdings, perusahaan yang bergerak di bidang teknologi optik untuk pusat data. Saham Lumentum justru naik 0,6%.

Tekanan berlanjut pada perdagangan setelah penutupan bursa. Saham Amazon turun 6,5% dalam perdagangan after-hours setelah perusahaan memberikan proyeksi penjualan kuartal IV yang mengecewakan.

Baca Juga: Rupiah Berpeluang Konsolidasi, Cek Proyeksi Kurs Dolar AS pada Jumat (30/10)

Mayoritas emiten S&P 500 lampaui ekspektasi

Musim laporan keuangan kuartal III-2026 telah melewati pertengahan periode. Berdasarkan data terbaru LSEG, sebanyak 253 perusahaan anggota indeks S&P 500 telah melaporkan kinerjanya, dengan 81% di antaranya membukukan hasil di atas ekspektasi analis.

LSEG memperkirakan pertumbuhan laba agregat perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 mencapai 31% secara tahunan pada kuartal III-2026.

Meski mayoritas emiten mencatatkan kinerja yang lebih baik dari perkiraan, kekhawatiran mengenai besarnya belanja AI, tekanan inflasi, dan prospek pertumbuhan pendapatan tetap menjadi faktor yang dicermati investor dalam menentukan arah pasar saham AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News