Wall Street Goyah Selasa (15/9), Minyak Naik dan Yield Treasury Tembus 5%



KONTAN.CO.ID - Wall Street bergerak melemah pada perdagangan Selasa (15/9/2026), tertekan kenaikan harga minyak mentah dan imbal hasil (yield) Treasury Amerika Serikat (AS).

Investor juga masih mencermati prospek permintaan kecerdasan buatan (AI) yang belum pasti.

Saham perusahaan chip yang menjadi salah satu sektor paling terpukul pada perdagangan Senin justru menguat. Nvidia naik lebih dari 1%. Namun, sentimen terhadap saham teknologi raksasa lainnya masih beragam.


Saham Alphabet, Microsoft dan Apple masing-masing turun kurang dari 1%.

Baca Juga: Harga Minyak Dibayangi Konflik Timur Tengah, Oversupply Mengintai Pasar

Melansir Reuters pada pukul 09.41 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average turun 313,32 poin atau 0,60% menjadi 52.107,88. Indeks S&P 500 melemah 10,36 poin atau 0,14% ke 7.609,62, sedangkan Nasdaq Composite turun 31,97 poin atau 0,11% menjadi 26.156,71.

Tekanan terhadap saham teknologi kembali muncul setelah sejumlah perusahaan AI terkemuka menyerukan perlunya memperlambat pengembangan teknologi tersebut dengan alasan keselamatan.

Meski belum jelas bagaimana perlambatan pengembangan AI akan dilakukan, kekhawatiran tersebut menambah tekanan di pasar saham yang sudah dibayangi inflasi di atas target dan potensi kenaikan biaya pinjaman.

"Penundaan tidak baik bagi Wall Street. Perlambatan dalam bentuk apa pun akan menjadi masalah. Namun, saya pikir saat ini pasar belum percaya bahwa akan ada perlambatan," kata Joe Saluzzi, Co-Founder sekaligus Co-Head of Equity Trading Themis Trading.

Menurut Saluzzi, persaingan di industri AI masih sangat ketat. Sejumlah perusahaan juga tengah mengejar rencana untuk melantai di bursa sehingga membutuhkan pertumbuhan pendapatan dan laba.

Baca Juga: Harga Emas Masih Berpotensi Naik Meski Yield Treasury Tembus 5%

Harga minyak kembali naik

Kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang membebani pasar saham AS. Konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi.

Harga minyak Brent naik 1,9% menjadi US$107,73 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,2% menjadi US$103,64 per barel.

Di antara 11 sektor utama S&P 500, sektor energi dan teknologi menjadi dua sektor yang masih menguat, masing-masing naik 1,4% dan 0,4%.

Sebaliknya, sektor consumer staples memimpin pelemahan dengan turun 0,7%. Sektor properti yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga juga melemah 0,8%.

"Energi saat ini menjadi faktor yang paling banyak memberikan tekanan terhadap inflasi," kata Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist Ameriprise Financial.

Kenaikan harga energi menjadi perhatian investor karena berpotensi kembali mendorong inflasi dan membuat bank sentral AS lebih sulit melonggarkan kebijakan moneter.

Baca Juga: Wall Street Dibuka Lesu Selasa (15/9), Harga Minyak dan Yield Treasury Jadi Beban

Yield Treasury tembus 5%

Di pasar obligasi, yield Treasury AS tenor 10 tahun kembali menembus level 5%. Yield tersebut berada di level tertinggi sejak 2007 seiring investor bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Yield Treasury 10 tahun terakhir naik 4,09 basis poin menjadi 5,0019%.

Kenaikan yield menjadi tekanan tambahan bagi saham karena meningkatkan imbal hasil instrumen berisiko rendah dan dapat mengurangi daya tarik aset berisiko seperti saham.

Investor juga masih menunggu keputusan Federal Reserve (The Fed) pada Rabu. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga mencapai 93%.

Ekspektasi tersebut muncul setelah data inflasi AS menunjukkan tekanan harga kembali meningkat pada Agustus.

Data dari Departemen Tenaga Kerja AS juga menunjukkan ukuran inflasi inti mencatat kenaikan terbesar dalam empat bulan.

Di luar saham teknologi, saham Dave & Buster's anjlok lebih dari 12% setelah pendapatan kuartal kedua perusahaan tersebut berada di bawah ekspektasi.

Sementara itu, saham Waystar naik 8,8% setelah Reuters melaporkan perusahaan perangkat lunak kesehatan tersebut tengah menjajaki sejumlah opsi strategis, termasuk kemungkinan penjualan perusahaan.

Baca Juga: IHSG Tertekan, Harga Minyak dan Ekspektasi The Fed Jadi Beban Pasar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News