KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Pasar saham Amerika Serikat (AS) menghadapi pekan yang menentukan seiring rilis laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi raksasa, terutama pemain kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta keputusan kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Kedua faktor tersebut berpotensi menguji ketahanan reli pasar saham Wall Street yang mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Tekanan pada saham teknologi membuat investor semakin berhati-hati terhadap prospek perdagangan saham berbasis AI. Sektor ini menjadi salah satu pendorong utama reli pasar saham AS yang telah memasuki tahun keempat.
Pada perdagangan Jumat (23/10/2026), indeks Nasdaq Composite mencatat penurunan tipis setelah sehari sebelumnya mengalami koreksi harian terbesar sejak Juni. Pelemahan tersebut dipicu kekecewaan investor terhadap laporan keuangan kuartalan Meta Platforms dan Lam Research. Meta merupakan salah satu perusahaan teknologi berskala besar atau hyperscaler yang menggelontorkan investasi besar untuk membangun pusat data. Sementara itu, Lam Research merupakan perusahaan semikonduktor yang menjadi salah satu penerima manfaat utama dari lonjakan investasi terkait AI.
Baca Juga: Prancis Memanas! Ratusan Ribu Orang Turun ke Jalan, Buruh Ancam Mogok Nasional Pekan depan, perhatian investor akan tertuju pada laporan keuangan tiga perusahaan teknologi besar lainnya, yakni Alphabet, Microsoft, dan Amazon. Ketiganya akan merilis kinerja kuartalan di tengah periode pelaporan yang padat, ketika sekitar sepertiga perusahaan dalam indeks S&P 500 dijadwalkan mengumumkan hasil keuangannya. Selain laporan keuangan emiten, keputusan suku bunga The Fed pada Rabu juga berpotensi memicu gejolak di pasar keuangan. "Ada banyak faktor yang bergerak bersamaan," ujar Nick Giorgi, kepala strategi ekuitas di Alpine Macro. Menurut Giorgi, investor akan mencermati laporan keuangan perusahaan teknologi sekaligus mengevaluasi besarnya pengeluaran untuk pengembangan AI. "Pekan depan, akan ada lebih banyak laporan keuangan perusahaan teknologi. Saat ini, pasar semakin selektif dalam menilai seluruh pengeluaran yang berkaitan dengan kecerdasan buatan," kata Giorgi. Ia menambahkan, pasar tidak lagi mudah memberikan toleransi kepada perusahaan yang mengeluarkan dana sangat besar untuk membangun infrastruktur AI. Menurutnya, sikap tersebut merupakan perkembangan yang sehat bagi pasar, meskipun berpotensi menimbulkan tekanan dalam jangka pendek. Investor juga mulai memperhitungkan pemilihan paruh waktu AS yang dijadwalkan pada 3 November 2026. Sejumlah pelaku pasar semakin memperkirakan Partai Demokrat berpeluang merebut kendali Kongres AS dari Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump. Kombinasi laporan keuangan, keputusan suku bunga, dan perkembangan politik tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar dalam beberapa pekan mendatang. Kondisi ini sekaligus menguji optimisme investor yang telah mendorong indeks S&P 500 menguat sekitar 11% sepanjang 2026.
Perusahaan hyperscaler Jadi Sorotan Investor
Pertumbuhan laba perusahaan AS yang kuat menjadi salah satu penopang kenaikan pasar saham sepanjang tahun ini. Kinerja tersebut membantu pasar menghadapi sejumlah tantangan, termasuk lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury serta kenaikan biaya energi akibat konflik di Timur Tengah. Berdasarkan data LSEG IBES, laporan keuangan kuartal III-2026 dari perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 menunjukkan pertumbuhan laba yang diproyeksikan melampaui 32% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut mengacu pada lebih dari 100 perusahaan yang telah menyampaikan hasil keuangannya.
Baca Juga: Paus Leo XIV Serukan Penghentian Kekerasan di Yaman Usai Operasi Kanker Paru-Paru Pekan depan diperkirakan menjadi periode tersibuk dalam musim pelaporan keuangan kali ini. King Lip, kepala strategi di BakerAvenue Wealth Management, menilai laporan keuangan perusahaan akan menjadi penentu arah pergerakan saham teknologi setelah mengalami koreksi. "Saya pikir laporan keuangan akan menentukan apakah penurunan saham teknologi ini merupakan peluang untuk membeli atau justru menjadi awal dari koreksi yang lebih dalam. Yang kita butuhkan hanyalah satu putaran lagi laporan keuangan yang benar-benar kuat," ujar Lip. Alphabet dan Microsoft dijadwalkan merilis laporan keuangan pada Rabu, sedangkan Amazon akan menyampaikan kinerjanya pada Kamis. Investor akan mencermati proyeksi belanja modal atau capital expenditure (capex) yang disampaikan perusahaan-perusahaan tersebut, termasuk sejauh mana investasi besar yang telah mereka keluarkan mulai menghasilkan keuntungan. Belanja modal para hyperscaler diperkirakan mencapai sekitar US$ 800 miliar pada 2026. Pengeluaran tersebut turut mendongkrak prospek bisnis berbagai perusahaan yang terlibat dalam pembangunan infrastruktur AI. Namun, besarnya kebutuhan pendanaan dan meningkatnya biaya pembiayaan membuat investor mulai mempertanyakan keberlanjutan belanja tersebut. Kevin Mahn, presiden sekaligus kepala investasi di Hennion & Walsh Asset Management, menilai laporan keuangan memiliki peran penting dalam menjaga kepercayaan investor terhadap prospek bisnis AI. "Laporan keuangan sangat penting bagi tingkat kepercayaan terhadap perdagangan saham AI secara keseluruhan dan untuk menentukan berapa lama lagi pengeluaran besar-besaran ini akan berlanjut," kata Mahn. Dengan demikian, kemampuan perusahaan teknologi untuk menunjukkan hasil nyata dari investasi AI akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah saham sektor teknologi dalam waktu dekat.
Keputusan The Fed dan Prospek Suku Bunga AS
Selain kinerja perusahaan teknologi, investor juga akan mencermati laporan keuangan sejumlah perusahaan semikonduktor, termasuk Intel dan Sandisk. Hasil kinerja kedua perusahaan tersebut berpotensi memengaruhi sentimen terhadap saham-saham yang berkaitan dengan AI. Sejumlah perusahaan besar dari sektor lain juga dijadwalkan melaporkan kinerja keuangannya. Di antaranya perusahaan farmasi Eli Lilly, perusahaan energi Exxon dan Chevron, serta produsen peralatan industri Caterpillar.
Baca Juga: IPhone Lipat Apple Mulai Dijual, Harga US$2.000 dan Stok Terbatas Di sisi kebijakan moneter, perhatian pasar tertuju pada kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi yang masih berada di atas target. The Fed telah menaikkan suku bunga pada September 2026, untuk pertama kalinya sejak 2023. Namun, berdasarkan data LSEG, kontrak berjangka suku bunga The Fed atau Fed funds futures pada Jumat menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Rabu kurang dari 10%. Salah satu pertimbangannya adalah keraguan investor bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga hanya sekitar sepekan sebelum pemilihan paruh waktu AS.
Meski demikian, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember justru lebih kuat. Kontrak berjangka suku bunga menunjukkan probabilitas sekitar 80% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan tersebut. Walter Todd, kepala investasi di Greenwood Capital, mengatakan dirinya akan mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi pers setelah pengumuman kebijakan moneter. Todd menilai petunjuk mengenai arah suku bunga pada Desember akan menjadi perhatian utama investor, terutama karena pasar saat ini sudah memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan. "Apakah dia akan mengatakan sesuatu yang memberikan gambaran mengenai Desember? Sebab, saat ini ekspektasinya adalah akan ada kenaikan suku bunga," ujar Todd.