Wall Street Jatuh 1% Kamis (12/3), Dipicu Perang Iran dan Kekhawatiran Kredit Swasta



KONTAN.CO.ID - Indeks utama Wall Street turun sekitar 1% pada Kamis (12/3/2026), dengan sektor keuangan menjadi yang paling terpukul, seiring lonjakan harga minyak menuju US$100 per barel yang memicu kekhawatiran inflasi. Investor juga menyoroti ketidakpastian di sektor kredit swasta.

Melansir Reuters, pukul 09.55 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average turun 582,01 poin (1,23%) ke 46.835,26, S&P 500 turun 76,10 poin (1,12%) ke 6.699,50, dan Nasdaq Composite turun 312,95 poin (1,38%) ke 22.403,18.

Indeks volatilitas CBOE, Wall Street’s fear gauge, naik 2,53 poin menjadi 26,77, sementara indeks Russell small-caps sensitif suku bunga turun 1,8%.


Baca Juga: Masih Fase Konsolidasi, Begini Prediksi IHSG pada Jumat (13/3)

Harga minyak naik setelah dua kapal tanker dibakar di perairan Irak dalam dugaan serangan Iran, sebagai bagian dari serangkaian serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di Timur Tengah.

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menegaskan, Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai alat tekanan.

Sektor maskapai penerbangan di S&P 500, yang sensitif terhadap biaya bahan bakar, turun 3,4% dan mencatat potensi kerugian bulanan terbesar dalam setahun. Operator kapal pesiar Norwegian dan Royal Caribbean juga turun lebih dari 2,5%.

Di sisi energi, Occidental naik 3,3% dan ConocoPhillips menguat lebih dari 1,4%.

Investor juga mengamati pasar kredit swasta senilai sekitar US$2 triliun, setelah serangkaian masalah kredit muncul dalam beberapa bulan terakhir.

Baca Juga: IHSG Turun 0,36% ke 7.362, Cermati Saham Net Sell Terbesar Asing, Kamis (12/3)

Perusahaan ekuitas swasta Swiss Partners Group memperingatkan bahwa tingkat gagal bayar kredit swasta bisa berlipat dua dalam beberapa tahun mendatang.

Morgan Stanley turun 4,3% setelah membatasi penarikan dana di salah satu reksa dana kredit swastanya, menyusul tindakan serupa oleh Blackstone dan BlackRock awal bulan ini.

Blackstone dan BlackRock masing-masing turun lebih dari 1%, sementara JPMorgan Chase menurunkan nilai beberapa pinjaman ke reksa dana kredit swasta.

Sektor keuangan S&P 500 secara keseluruhan turun 1,5%, dengan saham bank Citigroup dan Goldman Sachs masing-masing turun lebih dari 3%.

“Pertanyaannya, berapa banyak pihak yang memiliki ini dalam buku mereka? Bagaimana penilaian asetnya? Apakah berupa derivatif? Kita perlu mengawasi dengan sangat ketat karena situasinya bisa berubah cepat,” kata Joe Saluzzi, co-head ekuitas trading di Themis Trading.

Baca Juga: Inflasi AS Stabil 2,4% pada Februari, Pasar Kripto Tunggu Arah Suku Bunga The Fed?

Pasar global terguncang bulan ini karena perang AS-Israel dengan Iran mengganggu pasokan minyak dan gas serta mendorong harga minyak naik tajam, sehingga mempersulit rencana bank sentral global untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Goldman Sachs menunda perkiraan pemotongan suku bunga Federal Reserve berikutnya menjadi September, dari sebelumnya diperkirakan Juni.

Data futures pasar uang menunjukkan trader kini hanya memperkirakan satu kali pemotongan 0,25% hingga Desember, turun dari dua kali sebelum konflik.

Badan Energi Internasional (IEA) menyebut dunia menghadapi gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.

Selain itu, Washington mengumumkan akan meluncurkan dua investigasi perdagangan baru terkait kapasitas industri berlebih di 16 mitra dagang utama dan penggunaan tenaga kerja paksa, sebagai langkah untuk memperkuat tekanan tarif setelah Mahkamah Agung membatalkan sebagian program tarif Presiden Donald Trump.

Baca Juga: Wall Street Dibuka Turun Kamis (12/3), Minyak Dekati US$100 Picu Kekhawatiran Inflasi

Di sektor lain, operator aplikasi kencan Bumble melonjak 37% setelah melaporkan pendapatan kuartal IV melebihi estimasi, sementara peritel diskon Dollar General turun 7,3% setelah memperkirakan penjualan tahunan di bawah ekspektasi.

Perusahaan kimia LyondellBasell dan Dow masing-masing naik 3,7% dan 5,7% setelah Citigroup menilai ada peluang ekspor baru akibat gangguan rantai pasok di Timur Tengah.

Di sisi data ekonomi, klaim pengangguran mingguan turun pekan lalu, yang berpotensi meredakan kekhawatiran terkait melemahnya pasar tenaga kerja setelah penurunan pekerjaan tak terduga pada Februari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News