Wall Street jatuh terseret biaya infrastruktur dan potensi kenaikan pajak



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street jatuh pada penutupan perdagangan Selasa (23/3). Dipicu kekhawatiran biaya belanja infrastruktur dan potensi kenaikan pajak untuk membayar stimulus bantuan Presiden Joe Biden sebesar US$ 1,9 triliun.

Melansir Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 308,05 poin atau 0,94% menjadi 32.423,15 dan S&P 500 kehilangan 30,07 poin atau 0,76% menjadi 3.910,52. Indeks Nasdaq Composite turun 149,85 poin atau 1,12% menjadi 13.227,70.

Volume perdagangan Wall Street sebanyak 12,10 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 14,04 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.


Baca Juga: Wall Street melemah, menjelang pernyataan The Fed dan Jannet Yellen

Saham GameStop Corp turun 6,5% menjelang laporan hasil kuartal keempat yang akan dirilis hari Selasa. Perusahaan videogame mengumumkan keluarnya chief customer officer-nya sebagai tanda terbaru dari perombakan menjadi perusahaan e-commerce.

Saham ViacomCBS Inc anjlok 9,1% setelah perusahaan media tersebut meluncurkan kesepakatan saham senilai US$ 3 miliar guna meningkatkan modal untuk investasi di layanan streaming.

Sebelumnya, Pernyataan Menteri Keuangan Janet Yellen bahwa ekonomi AS tetap dalam krisis dari pandemi membuat investor waspada.

Yellen berbicara pada sidang Komite Jasa Keuangan DPR di mana Gubernur Federal Reserve Jerome Powell juga berbicara kepada komite tersebut.

Pembicaraan tentang rencana infrastruktur pemerintah membuat bingung investor yang khawatir pasar saham diperdagangkan pada valuasi yang tinggi, kata Rick Meckler, mitra di Cherry Lane Investments di New Vernon, New Jersey.

Baca Juga: Fitch pertahankan peringkat utang Indonesia, ini kata Bank Indonesia

"Ada sedikit kekhawatiran untuk keluar dari potensi aksi jual yang mungkin akan terjadi," kata Meckler.

"Perasaan yang mungkin ada menyebabkan orang menarik pelatuk dengan cukup cepat pada gerakan turun ini."

Powell mengatakan kepada anggota parlemen AS bahwa putaran kenaikan harga pasca-pandemi yang akan datang tidak akan memicu ledakan inflasi yang terus-menerus. Kekhawatiran yang telah memicu kenaikan imbal hasil baru-baru ini dan menyebabkan saham teknologi dilanda aksi jual.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto