Wall Street Lesu: Dow, S&P 500 dan Nasdaq Kompak Melemah, Tertekan Saham Teknologi



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street melemah ke level terendah dalam sekitar dua minggu pada awal perdagangan hari ini, tertekan oleh penurunan saham-saham teknologi berkapitalisasi besar.  Sementara, memudarnya harapan akan kesepakatan damai AS-Iran mempertahankan kenaikan harga minyak dan menjaga imbal hasil obligasi pemerintah tetap berada di puncak tertinggi dalam beberapa tahun.

Selasa (18/8/2026) pukul 21.15 WIB, indeks Dow Jones Industrial Average turun 132,55 poin atau 0,25% menjadi 53.327,23, indeks S&P 500 melemah 35,37 poin atau 0,46% menjadi 7.709,69 dan indeks Nasdaq Composite melemah 275,95 poin atau 1,04% menjadi 26.368,96.

Iran menyatakan akan beralih ke postur militer yang "sepenuhnya ofensif" karena upaya negosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen dengan AS telah menemui jalan buntu, sementara Washington menutup kemungkinan perpanjangan perjanjian gencatan senjata sementara yang berakhir pada 17 Agustus.


Baca Juga: Alex Albon Perpanjang Kontrak dengan Williams untuk Musim Balap 2027

Perkembangan ini mendorong harga minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 naik 0,5% ke level tertinggi dalam sekitar tiga minggu. Alhasil,  sektor energi pada indeks S&P 500 menguat 1,4%.

Imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun berada di level tertinggi sejak 2007, dan imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun bertahan di dekat level tertinggi sejak Januari 2025.

"Imbal hasil obligasi membuat orang khawatir karena hal itu mengisyaratkan lingkungan yang lebih ketat dan biaya pinjaman uang akan menjadi lebih mahal," kata Kim Forrest, kepala investasi di Bokeh Capital Partners.

"Terutama terkait tren AI ini, di mana waktu pengembalian modalnya tidak pasti. Hal ini menciptakan suasana yang membuat investor cemas."

Sebagian besar saham berkapitalisasi sangat besar (megacap) dan saham pertumbuhan (growth stocks) melemah, karena tingginya imbal hasil obligasi pemerintah berpotensi menurunkan nilai kini dari laba teknologi di masa depan serta meningkatkan biaya pinjaman perusahaan.

Saham Nvidia turun 2%, dan Meta Platforms anjlok 3%. Sektor Teknologi Informasi pada indeks S&P 500 menjadi penekan terbesar, setelah turun 1,5%.

Baca Juga: Broker Global Terbelah Soal Arah Suku Bunga The Fed, Ada yang Prediksi Naik

Produsen cip juga mengalami tekanan jual yang kuat; indeks Philadelphia SE Semiconductor turun 3,7% ke level terendah dalam satu minggu.

Di tengah volatilitas pasar, investor beralih ke saham sektor kesehatan dan barang kebutuhan pokok konsumen yang secara tradisional dianggap sebagai saham defensif.

CBOE Volatility Index, yang sering dijuluki sebagai "indikator ketakutan" (fear gauge) Wall Street, melonjak ke level tertinggi dalam sekitar dua minggu.

Pergerakan saham peritel perlengkapan rumah Home Depot cenderung lesu di tengah perdagangan yang fluktuatif, meskipun perusahaan tersebut mencatatkan penjualan kuartal kedua yang melampaui perkiraan.

Kinerja keuangan yang kuat dari sejumlah perusahaan, termasuk beberapa perusahaan hyperscaler AI, sempat mendorong S&P 500 dan Dow ke rekor tertinggi pada awal bulan ini.

Kini, investor memandang laporan keuangan kuartalan dari Nvidia—perusahaan acuan di sektor AI—yang akan dirilis pekan depan sebagai ujian berikutnya bagi momentum pertumbuhan yang didorong oleh AI.

Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi AS, Jepang dan Eropa Tembus Level Tertinggi

Saham teknologi AS mengalami volatilitas tinggi dalam beberapa bulan terakhir karena investor masih merasa cemas mengenai apakah investasi besar-besaran di bidang AI akan membuahkan hasil atau tidak.

Indeks acuan S&P 500 ditutup lebih rendah pada sesi sebelumnya, menjauh dari rekor tertinggi akibat kekhawatiran inflasi yang kembali muncul seiring kenaikan harga minyak mentah.

Data pasar uang menunjukkan bahwa para pedagang masih memperkirakan adanya peluang sebesar 96% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini, meskipun probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan September telah menurun menyusul data inflasi yang moderat pekan lalu.

Risalah rapat Federal Reserve bulan Juli, yang dijadwalkan rilis pada hari Rabu, dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai bagaimana bank sentral menilai kondisi pasar saat ini.