Wall Street Masuk Pekan Krusial, The Fed dan Laporan Laba Jadi Penentu



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Investor pada pekan depan akan mencermati sejumlah petunjuk mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga Amerika Serikat serta tanda-tanda awal musim laporan keuangan kuartal II, di tengah upaya menilai kekuatan reli pasar saham AS yang mulai menunjukkan gejolak.

Memasuki paruh kedua 2026, pergerakan pasar saham masih didominasi fluktuasi saham-saham teknologi berkapitalisasi besar, sebagaimana terjadi pada paruh pertama tahun ini. Risalah rapat Federal Reserve (The Fed) bulan lalu yang akan dirilis pada Rabu, bersama laporan keuangan Delta Air Lines dan PepsiCo, diperkirakan menjadi katalis penting bagi arah pasar dalam waktu dekat.

Saham teknologi, terutama sektor semikonduktor, menjadi motor utama penguatan pasar dalam beberapa bulan terakhir. Indeks acuan S&P 500 mencatat kenaikan 14,9% sepanjang kuartal II yang berakhir Selasa, menjadi kinerja kuartalan terbaik sejak 2020. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, saham-saham teknologi mengalami volatilitas tinggi, termasuk penurunan tajam pada akhir pekan ini.


Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjut Menguat di Senin (6/7), Ini Rekomendasi Saham Analis

Di sisi lain, sektor kesehatan, industri, dan keuangan menunjukkan kinerja yang lebih baik selama sebulan terakhir. Kondisi tersebut memunculkan harapan investor bahwa reli pasar akan semakin meluas dan tidak lagi hanya bergantung pada saham teknologi.

"Kami akan terus mengamati dalam beberapa pekan ke depan apakah pelebaran penguatan pasar ini akan berlanjut, atau justru pelemahan berkepanjangan pada saham-saham teknologi akan menyeret pasar secara keseluruhan," kata Joe Mazzola, Head Trading and Derivatives Strategist di Charles Schwab.

Prospek kebijakan suku bunga kini berubah drastis dibandingkan awal tahun. Jika sebelumnya pasar memperkirakan penurunan suku bunga yang mendukung pasar saham, kini ekspektasi bergeser menuju kemungkinan kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Ekspektasi tersebut sedikit mereda pada Kamis setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja Juni melambat lebih tajam dari perkiraan. Data tersebut mengurangi kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Sebelumnya, ekspektasi kebijakan yang lebih agresif menguat setelah rapat Federal Reserve bulan lalu, yang merupakan pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Ketua baru Kevin Warsh. Dalam pertemuan tersebut, Warsh menegaskan bahwa bank sentral akan memprioritaskan stabilitas harga di tengah inflasi yang masih berada di atas target tahunan The Fed sebesar 2%.

Warsh juga menyampaikan bahwa bank sentral tidak lagi akan memberikan panduan (forward guidance) mengenai arah kebijakan jangka pendek. Akibatnya, risalah rapat kebijakan moneter diperkirakan akan menjadi referensi yang semakin penting bagi pelaku pasar.

"Sangat menarik melihat bagaimana diskusi berlangsung di dalam rapat dan seberapa hawkish kecenderungan para pembuat kebijakan," ujar Matthew Miskin, Co-Chief Investment Strategist Manulife John Hancock Investments.

Menurutnya, investor ingin mengetahui indikator apa yang digunakan ketua baru The Fed dan para pejabat bank sentral dalam menentukan arah suku bunga ke depan.

Baca Juga: Saham Wahana Interfood (COCO) Melejit Jelang Eksekusi Rights Issue Rp 1,2 Triliun

Salah satu isu yang menjadi perhatian investor adalah bagaimana para pejabat The Fed menilai dampak inflasi dari harga energi, yang menjelang rapat mulai mereda setelah sempat melonjak akibat perang Iran. Investor juga akan mencermati sejauh mana terdapat perbedaan pandangan di antara para pejabat bank sentral.

Kenaikan suku bunga umumnya memberikan tekanan terhadap pasar saham karena meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen dan perusahaan. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi membuat instrumen tersebut menjadi lebih menarik dibandingkan saham.

Berdasarkan data LSEG pada Kamis malam, kontrak berjangka Fed Funds menunjukkan peluang yang hampir seimbang bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang.

James Ragan, Co-Chief Investment Officer sekaligus Director of Investment Management Research di D.A. Davidson, mengatakan bahwa apabila The Fed benar-benar memasuki siklus pengetatan kebijakan moneter, hal tersebut dapat menjadi risiko terhadap valuasi pasar saham.

"Semakin banyak informasi yang dapat diperoleh mengenai cara berpikir The Fed, semakin penting pula informasi tersebut bagi investor," ujarnya.

Selain risalah The Fed, investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi AS, termasuk aktivitas sektor jasa dan manufaktur, yang dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai tren inflasi.

Pasar saham AS berhasil pulih dalam beberapa bulan terakhir setelah sempat tertekan akibat konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Hingga saat ini, indeks S&P 500 telah menguat lebih dari 9% sepanjang 2026, sementara Nasdaq Composite naik sekitar 11%.

Kinerja laba perusahaan yang lebih kuat dari perkiraan pada kuartal I menjadi faktor utama yang menopang reli pasar sekaligus meningkatkan ekspektasi terhadap musim laporan keuangan kuartal II yang akan berlangsung lebih intensif pada akhir bulan ini.

Baca Juga: Emiten Hotel & Pariwisata Tersengat Momentum Libur Sekolah, Ini Rekomendasi Sahamnya

Dua perusahaan yang akan menjadi pembuka musim laporan keuangan pekan depan adalah Delta Air Lines dan PepsiCo. Kedua emiten tersebut dipandang mampu memberikan gambaran mengenai tren belanja konsumen dari sektor yang berbeda.

Secara keseluruhan, laba perusahaan-perusahaan anggota S&P 500 pada kuartal II diperkirakan meningkat lebih dari 24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, berdasarkan proyeksi LSEG IBES.

Chief Investment Officer Truist Advisory Services, Keith Lerner, mengatakan bahwa pertumbuhan laba perusahaan tetap menjadi faktor utama yang menopang tren bullish pasar saham.

"Hal terpenting dari musim laporan keuangan adalah memastikan bahwa prospek pertumbuhan laba tahun ini tetap terjaga dan momentum positif tersebut dapat berlanjut hingga tahun depan," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News