Wall Street Melemah, Dipicu Aksi Jual Imbas Kebijakan The Fed yang Hawkish



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street melemah pada akhir perdagangan Kamis (21/9) karena aksi jual besar-besaran lantaran investor khawatir bahwa Federal Reserve akan memberlakukan kebijakan moneter ketat (hawkish) lebih lama dari yang diperkirakan.

Ketiga indeks utama Wall Street anjlok lebih dari 1%. Tak hanya itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menyentuh puncaknya dalam 10 tahun setelah Gubernur The Fed Jerome Powell memperingatkan bahwa jalan penurunan inflasi masih panjang sebelum mendekati target yang ditetapkan bank sentral sebesar 2%.

Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 370,46 poin, atau 1,08% ke level 34.070,42, S&P 500 turun 72,2 poin, atau 1,64% ke level 4.330 dan Nasdaq Composite turun 245,14 poin, atau 1,82% ke level 13.223,99.


Baca Juga: Wall Street: Nasdaq Jatuh lebih 1% Setelah The Fed yang Hawkish Angkat Yield Obligasi

11 sektor utama S&P 500 melorot hampir 1% atau lebih, dengan saham real estate mengalami persentase penurunan harian terbesar sejak bulan Maret.

Saham megacaps yang sensitif terhadap suku bunga seperti Amaxzon.com, Nvidia Corp, Apple Inc dan Alphabet Inc menyeret S&P 500 dan Nasdaq ke level penutupan terendah sejak Juni.

Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 10,76 miliar saham dengan rata-rata 10,12 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.

Pada akhir pertemuan kebijakan moneter Rabu (20/9), The Fed mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,25%-5,5%.

Namun, The Fed merevisi proyeksi ekonomi ke depan, termasuk dot plot, menunjukkan suku bunga akan tetap tinggi hingga tahun depan. Hal ini mengurangi harapan pelonggaran kebijakan sebelum tahun 2025.

“Jika suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, akan ada lebih banyak tekanan pada sistem dan lebih banyak tekanan pada perekonomian,” kata Thomas Martin, Manajer Portofolio Senior di GLOBALT di Atlanta. 

"Hal ini memberi orang kesempatan lain untuk mengatakan bahwa jeda waktu kenaikan suku bunga, yang baru mulai kita rasakan, mungkin akan sangat mengganggu."

“Kami meningkatkan kemungkinan bahwa kita tidak akan mendapatkan soft landing,” kata Martin, mengutip tekanan ekonomi dari suku bunga yang lebih tinggi, bersamaan dengan dimulainya kembali pembayaran pinjaman mahasiswa, potensi penutupan (shutdown) pemerintah, imbal hasil Treasury yang lebih tinggi, kenaikan harga minyak mentah dan penguatan dolar.

Baca Juga: Wall Street Dibuka Turun Kamis (21/9), Nada Hawkish The Fed Kerek Yield US Treasury

Penurunan klaim awal pengangguran AS, ke tingkat terendah dalam delapan bulan secara tak terduga sebesar 9%, memperkuat anggapan The Fed bahwa pasar tenaga kerja masih terlalu ketat, memberikan tekanan pada upah, dan perekonomian cukup tangguh untuk menahan kenaikan suku bunga lebih lama. 

“Lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama (higher for longer) telah menjadi kredo umum di antara bank sentral negara-negara dengan perekonomian terbesar di dunia ketika pengetatan kebijakan global, untuk menjinakkan inflasi, mencapai puncaknya.

“Berita utama pagi ini cukup menarik mengenai bank sentral. Semuanya hawkish,” kata Martin. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi