Wall Street Melemah, Dipicu Keputusan Kenaikan Suku Bunga The Fed



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street ditutup melemah pada akhir perdagangan Rabu (14/12), menyusul pengumuman kebijakan The Federal Reserve yang menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps). Tetapi dalam proyeksi ekonominya, The Fed melihat kenaikan suku bunga masih akan berlanjut dalam periode yang lebih lama.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 142,29 poin atau 0,42% ke 33.966,35, S&P 500 turun 24,33 poin atau 0,61% dan Nasdaq Composite turun 85,92 poin atau 0,76% ke 11.170,89.

Hampir seluruh sektor dari 11 sektor utama S&P 500 menutup sesi di wilayah negatif. Sektor perawatan kesehatan menjadi satu-satunya pendorong. 


Baca Juga: The Fed Isyaratkan Kenaikan Suku Bunga Berlanjut, Meski Dibayangi Perlambatan Ekonomi

Sementara sektor keuangan turun 1,29% dan menjadi sektor dengan kinerja terburuk.

Saham Tesla Inc tergelincir 2,58% setelah analis Goldman Sachs memangkas target harga saham pembuat kendaraan listrik itu.

Sementara saham Charter Communications Inc anjlok 16,38% karena pialang memotong target harga mereka menyusul rencana pengeluaran besar perusahaan layanan telekomunikasi itu untuk peningkatan internet berkecepatan lebih tinggi.

Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 12,15 miliar saham, dengan rata-rata 10,55 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.

Mengutip Reuters, bank sentral menaikkan suku bunga 50 bps pada Rabu dan memproyeksikan setidaknya kenaikan suku bunga tambahan sebesar 75 bps pada akhir tahun 2023. The Fed memperkirakan ada peningkatan pengangguran dan perlambatan ekonomi.

Ringkasan proyeksi ekonomi kuartalan terbaru The Fed menunjukkan, para pejabat bank sentral AS melihat suku bunga kebijakan, yang sekarang dalam kisaran 4,25% hingga 4,5% akan naik ke level 5,1% pada akhir tahun depan.

Dalam komentar setelah pernyataan tersebut, Gubernur Fed Jerome Powell mengatakan terlalu dini untuk berbicara tentang pemangkasan suku bunga karena fokusnya adalah membuat sikap kebijakan bank sentral cukup membatasi untuk mendorong inflasi turun ke sasaran 2%.

Data ekonomi pada hari Selasa, yang menunjukkan melandainya inflasi konsumen pada November, telah meningkatkan ekspektasi langkah Fed untuk menghentikan kenaikan suku bunga, dan mungkin akan terjadi tahun depan.

Baca Juga: Wall Street Naik Tipis Jelang Pengumuman Suku Bunga The Fed, Rabu (14/12)

"Mereka mungkin menggunakan perkiraan dot plot yang sangat agresif ini untuk menghilangkan tekanan dari pelonggaran yang telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir," kata Rhys Williams, kepala strategi di Spouting Rock Asset Management di Bryn Mawr, Pennsylvania. 

"Kondisi telah mereda, dan itu adalah cara mereka untuk mengatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan pelonggaran benar-benar terjadi sampai mereka melihat pengangguran meningkat."

Terlepas dari pernyataan Fed, imbal hasil Treasury AS sedikit lebih rendah setelah awalnya melonjak setelah pengumuman tersebut.

Strategi kenaikan suku bunga agresif oleh bank sentral utama di seluruh dunia tahun ini telah meningkatkan kekhawatiran ekonomi global dapat masuk ke jurang resesi dan sangat membebani aset berisiko seperti ekuitas tahun ini.

Masing-masing dari tiga indeks utama di Wall Street berada di jalur penurunan tahunan pertama sejak 2018, dan persentase penurunan tahunan terbesar sejak krisis keuangan 2008.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi