Wall Street Melemah, Investor Cemas Jelang Musim Laporan Keuangan



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street bergerak sedikit melemah pada perdagangan Senin, di tengah kehati-hatian investor menjelang gelombang laporan keuangan perusahaan serta mandeknya pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam beberapa hari terakhir, saham-saham sempat mencetak rekor tertinggi baru didorong optimisme kinerja perusahaan. Namun, sentimen pasar tetap berfluktuasi akibat perkembangan konflik AS-Iran.

Optimisme tersebut akan diuji pada pekan ini, yang menjadi periode tersibuk untuk laporan keuangan kuartalan. Menurut Raymond James, perusahaan yang mewakili sekitar 44% kapitalisasi pasar indeks S&P 500 dijadwalkan merilis kinerja mereka.


Baca Juga: Indeks Kompas100 Koreksi Cukup Dalam, Saham Ini Masih Layak Jadi Pilihan Investor

Dari 139 perusahaan dalam indeks acuan yang telah melaporkan hingga Jumat, sekitar 81,3% melampaui ekspektasi laba, lebih tinggi dibandingkan rata-rata empat kuartal sebelumnya sebesar 78,1%, berdasarkan data LSEG.

Meski demikian, sejumlah analis mempertanyakan sejauh mana hasil tersebut dapat dijadikan acuan ke depan, karena hanya mencerminkan dampak awal konflik di Timur Tengah yang baru berlangsung sekitar satu bulan.

“Walaupun laporan keuangan kini menjadi fokus utama investor, konflik Iran tetap menjadi latar belakang yang terus memengaruhi pasar,” ujar Peter Andersen.

Ia menambahkan bahwa belum terlihat adanya kemajuan menuju resolusi konflik. Setelah musim laporan keuangan berakhir, investor diperkirakan kembali fokus pada dampak jangka panjang konflik tersebut terhadap pasar saham.

Presiden AS Donald Trump juga membatalkan kunjungan dua utusannya ke Pakistan, yang semakin memperkecil peluang tercapainya perdamaian.

Pada pukul 21.10 WIB, indeks Dow Jones Industrial Average turun 25,18 poin atau 0,05% ke 49.205,53. Indeks S&P 500 melemah 5,16 poin atau 0,07% ke 7.159,92, sementara Nasdaq Composite turun 67,96 poin atau 0,27% ke 24.762,66.

Pergerakan harga minyak menjadi faktor ketidakpastian terbesar, seiring masih ditutupnya Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi global. Harga minyak Brent naik sekitar 2% pada Senin dan telah melonjak 43% dibandingkan sebelum perang.

Investor juga menantikan pernyataan dari pejabat Federal Reserve yang akan menggelar pertemuan pekan ini, yang kemungkinan menjadi rapat terakhir bagi ketuanya, Jerome Powell.

Baca Juga: Saham Blue Chip Ini Akan Bayar Dividen Jumbo Hampir Rp 2 T, Yield 3x Bunga Deposito

Di sisi politik, Senator Partai Republik Thom Tillis menyatakan akan mendukung proses konfirmasi calon ketua The Fed, Kevin Warsh, setelah Departemen Kehakiman menghentikan penyelidikan terhadap Powell.

Ekonom kepala AS dari Jefferies, Thomas Simons, menilai langkah tersebut membuka jalan bagi konfirmasi Warsh sebelum pertemuan kebijakan berikutnya pada Juni.

Survei Reuters terhadap para ekonom menunjukkan bahwa The Fed diperkirakan masih akan menahan penurunan suku bunga setidaknya selama enam bulan ke depan.

Secara sektoral, empat dari sebelas sektor utama di indeks S&P 500 berada di zona merah, dengan sektor consumer discretionary memimpin pelemahan sebesar 0,9%.

Di tingkat emiten, saham Qualcomm naik 2,2% setelah muncul laporan kerja sama dengan OpenAI dan MediaTek dalam pengembangan prosesor smartphone. Sementara itu, saham Microsoft turun 1,2% setelah OpenAI menyatakan tidak lagi memberikan akses eksklusif model kecerdasan buatannya.

Saham Domino's Pizza anjlok 10,3% setelah penjualan kuartal pertama tidak memenuhi ekspektasi. Sebaliknya, Nvidia naik 0,6% setelah sebelumnya melonjak dan kembali mencatat valuasi pasar di atas US$5 triliun.

Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang naik melampaui yang turun dengan rasio 1,45 banding 1, sementara di Nasdaq rasio tersebut mencapai 1,23 banding 1.

Indeks S&P 500 mencatat 13 saham yang menyentuh level tertinggi baru dalam 52 minggu dan lima saham terendah, sedangkan Nasdaq mencatat 85 saham tertinggi baru dan 52 terendah.

Baca Juga: BUMI Bakal Akuisisi Loyal Metals Asal Australia, Cermati Rekomendasi Analis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News