Wall Street Melemah, Investor Menanti Rilis Kinerja Emiten dan Pertemuan The Fed



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks Utama Wall Street ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat (23/10/2026). Para investor kini menantikan rangkaian laporan laba perusahaan serta pertemuan kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 652,82 poin, atau 1,23%, menjadi 52.215,16. Indeks S&P 500 turun 39,75 poin, atau 0,52%, menjadi 7.623,68, sementara Nasdaq Composite melemah 53,52 poin, atau 0,21%, menjadi 25.955,34.

Saham sektor telekomunikasi mengalami penurunan, yang membebani sektor layanan komunikasi, menyusul laporan bahwa SpaceX tengah mencari ribuan lokasi menara seluler untuk operator nirkabel keempat.


Baca Juga: IHSG Naik 4 Hari Berturut-turut, Cek Saham yang Banyak Diborong Asing, Jumat (23/10)

Saham AT&T dan T-Mobile masing-masing anjlok hampir 8%, sementara saham Verizon turun 1,2%. Saham SpaceX naik 1,9%. Operator menara seluler di AS mencatatkan kenaikan, dengan saham Crown Castle naik 9% dan American Tower naik 4%.

Sektor energi naik 2,5%, mencapai rekor tertinggi. Harga minyak mentah Brent menyentuh level tertinggi sejak akhir April, setelah serangan kelompok Houthi di Arab Saudi memicu kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.

Saham American Express turun 3,7%, yang turut menekan indeks Dow. Perusahaan tersebut menaikkan proyeksi labanya sembari mengumumkan rencana untuk memangkas 5% dari total tenaga kerjanya.

Saham SLB naik 7% setelah penyedia layanan ladang minyak tersebut mencatatkan laba kuartal ketiga yang melampaui estimasi Wall Street.

Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 15,4 miliar saham, dengan rata-rata 17,2 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.

Baca Juga: Wall Street Dibuka Turun, Saham AI Tertekan dan Operator Telekomunikasi Anjlok

Dalam sepekan, S&P 500 turun 0,5% dan Nasdaq melemah 0,7%. Sementara indeks saham unggulan (blue-chip) Dow naik 0,4%, mencatatkan kenaikan mingguan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.

Indeks Nasdaq Composite mencatat penurunan tipis pada Jumat (23/10/2026), sehari setelah indeks yang didominasi saham teknologi tersebut mengalami penurunan harian terbesar sejak Juni, di tengah kekhawatiran mengenai biaya pendanaan untuk mendukung investasi besar-besaran di bidang AI. Sektor teknologi dalam indeks S&P 500 mencatat kenaikan 0,35% pada hari Jumat.

Namun, sebagian besar sektor dalam S&P 500 justru melemah; kelompok saham barang konsumsi pokok (consumer staples), barang konsumsi non-pokok (consumer discretionary), serta sektor keuangan masing-masing mencatat penurunan lebih dari 1%.

Pekan depan, sekitar sepertiga dari perusahaan yang terdaftar dalam S&P 500 akan melaporkan kinerja kuartalan mereka, termasuk Alphabet, Microsoft, dan Amazon—tiga perusahaan raksasa di bidang AI (hyperscalers)—yang proyeksi belanja modalnya akan dicermati dengan saksama oleh pelaku pasar di Wall Street.

"Masih ada dampak lanjutan dari keraguan terhadap tren investasi AI," ujar Kristina Hooper, kepala strategi pasar di Man Group. "Tentu ada kemungkinan bahwa investasi untuk pembangunan pusat data AI tahun depan akan lebih rendah daripada yang telah diproyeksikan. Jadi, menurut saya, hal inilah yang membuat pasar bersikap lebih hati-hati."

Data dari University of Michigan menunjukkan sentimen konsumen AS sedikit menurun, mendekati rekor terendah pada bulan Oktober, seiring dengan kenaikan harga akibat konflik di Timur Tengah yang memperburuk pandangan rumah tangga terhadap kondisi ekonomi.

Baca Juga: Indofood Sukses Makmur (INDF) Akan Gelar Buyback Saham, Siapkan Dana Rp 750 Miliar

Fokus pasar tetap tertuju pada musim laporan laba perusahaan, dengan pertumbuhan laba korporasi yang kuat menjadi penopang kenaikan indeks-indeks saham utama tahun ini. Menurut data LSEG IBES, perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan mencatatkan peningkatan laba lebih dari 32% pada kuartal ketiga.

The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil saat merilis pernyataan kebijakannya pada hari Rabu. Namun, para investor akan menantikan petunjuk mengenai apakah bank sentral AS tersebut akan menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan Desember mendatang. 

Wall Street juga semakin berfokus pada pemilihan umum paruh waktu tanggal 3 November, yang akan menentukan kendali atas Kongres AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News