Wall Street Melemah Saat Harga Minyak Menembus Level US$ 100 per Barel



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street dibuka melemah pada perdagangan Rabu (9/9/2026) karena harga minyak melonjak melampaui level sensitif pasar di angka US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli, akibat ketegangan yang kian memanas di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, pada bel pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 78,2 poin, atau 0,15% ke level 52.707,9. S&P 500 turun 12,8 poin, atau 0,17% ke level 7.660,68, sementara Nasdaq Composite turun 96,4 poin, atau 0,36% ke level 26.325,061.

Fokus pejabat Federal Reserve, Kevin Warsh, pada pengendalian inflasi juga telah meningkatkan ekspektasi kenaikan biaya pinjaman bulan ini. 


Baca Juga: Boy Thohir Borong 30 Juta Saham NexAI Digital Infrastruktur (MGLV)

Pasar kini memperkirakan adanya peluang sebesar 62,4% kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) saat bank sentral AS menggelar pertemuan pekan depan, menurut data dari FedWatch milik CME.

"Sorotan utama hari ini adalah harga minyak, yang memberikan tekanan negatif pada pasar saham. Kami memang melihat adanya titik-titik penguatan di pasar, namun sentimen cenderung berubah-ubah dari hari ke hari," ujar Peter Cardillo, kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities.

Harga minyak mentah Brent bertahan di kisaran US$ 100 per barel setelah sempat menembus ambang batas psikologis tersebut untuk pertama kalinya sejak pertengahan tahun.

Investor juga menantikan pengumuman pembelian kembali (buyback) obligasi oleh Departemen Keuangan AS yang dijadwalkan hari ini, beberapa minggu setelah departemen tersebut menyatakan akan membeli lebih banyak obligasi berjangka waktu lebih panjang guna meredam kenaikan imbal hasil (yield).

Pengumuman semacam itu biasanya memuat daftar obligasi yang memenuhi syarat untuk dibeli kembali. Namun, "sebagian pelaku pasar menantikan pengumuman ini untuk mendapatkan kepastian mengenai besaran nilai pembelian yang akan dilakukan Departemen Keuangan," ungkap analis J.P. Morgan dalam sebuah catatan.

Reaksi apa pun di pasar obligasi dapat mempengaruhi pasar saham, yang biasanya tertekan oleh tingginya imbal hasil obligasi pemerintah yang dianggap bebas risiko.

Saham perusahaan pembuat cip Intel dan Arm Holdings masing-masing turun 2,11% dan 0,97% dalam perdagangan pre market, sementara Nvidia turun 0,46%. 

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Level Asumsi RAPBN 2027, Intip Prospek dan Efeknya ke Sektor Riil

Meskipun investor masih cenderung melirik saham-saham terkait AI, kekhawatiran mengenai transaksi yang saling terkait (circular deals) telah memicu sikap hati-hati, mengingat perusahaan-perusahaan yang menjadi motor utama lonjakan AI kini saling memberikan pendanaan satu sama lain.

"Investor semestinya mengharapkan transaksi-transaksi ini pada akhirnya dapat menopang aliran pendapatan yang lebih tinggi secara konsisten bagi pihak-pihak yang terlibat. Jika tidak, kami meyakini pasar akan semakin terpapar pada jaringan risiko rumit yang mungkin sulit untuk diurai," ujar Anthony Saglimbene, kepala strategi pasar di Ameriprise Financial.

Laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) yang dijadwalkan rilis pada hari Jumat serta data Indeks Harga Produsen (PPI) pada hari Kamis akan menjadi sorotan utama untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.

"Laporan CPI minggu ini merupakan data paling krusial menjelang pertemuan The Fed bulan September; ini adalah data inflasi terakhir yang akan dilihat oleh para pengambil kebijakan sebelum mereka memutuskan langkah suku bunga," tulis para ahli strategi Glenmede.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News