Wall Street Melemah, Saham Teknologi Tertekan di Tengah Memanasnya AS-Iran



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (10/6/2026), dipimpin oleh penurunan saham-saham teknologi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta rilis data inflasi yang masih tinggi meski sesuai ekspektasi pasar.

Indeks-indeks utama Wall Street bergerak di zona merah setelah aksi jual kembali melanda sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Di saat yang sama, pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi dan meningkatkan ketidakpastian global.

Volatilitas pasar juga meningkat dalam beberapa hari terakhir. Investor kini dihadapkan pada berbagai risiko, mulai dari valuasi saham teknologi yang dinilai sudah terlalu tinggi, eskalasi konflik di Timur Tengah, hingga kemungkinan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) masih perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk mengendalikan inflasi.


Indikator volatilitas pasar CBOE Volatility Index (VIX) naik 0,78 poin menjadi 20,65 setelah pada sesi sebelumnya mencapai level tertinggi sejak 7 April.

Inflasi AS Capai 4,2%

Data terbaru menunjukkan indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) Amerika Serikat naik 4,2% secara tahunan hingga Mei 2026. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak April 2023, terutama didorong oleh lonjakan harga bensin dan produk energi akibat konflik di Timur Tengah.

Baca Juga: IHSG Masih Berpotensi Naik, Meredanya Foreign Outflow Jadi Katalis Positif

Meski demikian, angka inflasi tersebut masih sejalan dengan perkiraan para ekonom dalam jajak pendapat Reuters.

Kepala Strategi Pasar B. Riley Wealth, Art Hogan, menilai data tersebut belum mengubah pandangan pasar terhadap langkah The Fed.

"Meskipun angkanya sangat sesuai dengan ekspektasi, arahnya tetap bergerak ke arah yang salah. Hal itu belum mengubah narasi mengenai apa yang akan dilakukan The Fed pada pertemuan berikutnya, tetapi konsensus umum masih meyakini bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tetap."

Pelaku pasar secara luas memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya pada rapat kebijakan bulan Juni. Namun, investor masih memperhitungkan kemungkinan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun.

Saham Teknologi dan AI Masih Tertekan

Sektor teknologi menjadi korban utama aksi jual karena investor mulai mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat sekaligus mengkhawatirkan valuasi yang dinilai sudah terlalu mahal.

Saham Nvidia, Broadcom, dan Micron Technology masing-masing turun antara 1% hingga 3,8%, melanjutkan tren pelemahan setelah sempat mengalami pemulihan singkat pada awal pekan. Indeks teknologi S&P 500 juga melemah sekitar 1,1%.

Baca Juga: IHSG Menguat 2,71% Rabu (10/6), Analis Prediksi Indeks Berpeluang Tembus 6.000

Sementara itu, saham Super Micro Computer anjlok 14,2% setelah perusahaan mengumumkan rencana menghimpun dana sebesar US$7 miliar melalui penerbitan saham dan instrumen berbasis ekuitas untuk membiayai pembelian komponen guna memenuhi permintaan server AI yang terus meningkat.

Rotasi dana keluar dari saham-saham teknologi justru memberikan sentimen positif bagi sektor lain yang sebelumnya tertinggal sepanjang tahun ini, seperti sektor kesehatan, properti, dan barang konsumsi pokok.

Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, enam di antaranya mencatat kenaikan, dengan sektor energi memimpin penguatan seiring harga minyak dunia yang naik lebih dari 1%.

Indeks Utama Bergerak di Zona Merah

Pada pukul 09.37 waktu New York, Indeks Dow Jones Industrial Average turun 285,36 poin atau 0,56% menjadi 50.586,75.

Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi 33,44 poin atau 0,45% ke level 7.353,21 dan Nasdaq Composite melemah 147,78 poin atau 0,57% menjadi 25.531,04.

Sentimen pasar juga dibayangi memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah terlalu lama menunda proses negosiasi sehingga kini negara tersebut "harus membayar harganya". Di sisi lain, Teheran menyatakan akan mengevaluasi kembali keterlibatan diplomatik dengan Washington setelah aksi saling serang yang terjadi semalam.

Baca Juga: Disokong Dana Investor Domestik, IHSG Kembali Bergairah, Ini Catatan Analis

Di luar itu, rencana pencatatan saham SpaceX senilai sekitar US$1,75 triliun pada Jumat mendatang yang menargetkan penghimpunan dana hingga US$75 miliar juga dinilai berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap pasar saham AS karena meningkatkan kekhawatiran mengenai optimisme berlebihan terhadap sektor teknologi.

Amazon Tekan Saham Perusahaan Logistik

Di sektor lain, saham perusahaan transportasi dan logistik ikut tertekan setelah Amazon mengumumkan perluasan layanan pengiriman less-than-truckload (LTL) di Amerika Serikat.

Akibat kabar tersebut, saham XPO, J.B. Hunt, dan Old Dominion masing-masing turun antara 2,5% hingga 6,2%, sehingga mendorong indeks sektor industri melemah sekitar 1%.

Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun masih lebih banyak dibandingkan saham yang menguat. Di Bursa Efek New York (NYSE), rasio saham melemah terhadap saham naik mencapai 1,17 banding 1, sedangkan di Nasdaq mencapai 1,05 banding 1.

S&P 500 mencatat 13 saham yang menyentuh level tertinggi baru dalam 52 minggu dan empat saham yang mencetak level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite membukukan 35 saham pada level tertinggi baru dan 71 saham di level terendah baru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News