KONTAN.Co.ID - JAKARTA. Saham-saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada Jumat (30/1) setelah Presiden Donald Trump menominasikan mantan Gubernur Federal Reserve (Fed), Kevin Warsh, untuk memimpin bank sentral AS. Keputusan ini dianggap investor sebagai langkah yang lebih “hawkish” dibanding kandidat lain. Para investor memperkirakan Warsh akan mendukung penurunan suku bunga, namun tidak sejauh pelonggaran kebijakan moneter agresif yang diasosiasikan dengan beberapa calon lainnya. Penunjukan Warsh masih memerlukan konfirmasi dari Senat AS. Di sisi lain, data harga produsen (PPI) menunjukkan kenaikan lebih tinggi dari perkiraan pada Desember 2025, yang menandakan inflasi berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
"Ada sentimen hawkish di pasar setelah munculnya nama Kevin Warsh. Ia dipandang lebih konservatif dibanding banyak kandidat lain dan diperkirakan akan mendukung lebih sedikit pemotongan suku bunga," kata Ipek Ozkardeskaya, analis senior di Swissquote Bank. "Secara teori, komposisi kepemimpinan Fed seharusnya tidak meniadakan mandat utamanya," tambahnya.
Baca Juga: Wall Street Melemah Usai Trump Nominasikan Kevin Warsh Sebagai Ketua The Fed Baru Meskipun demikian, investor masih mempertaruhkan kemungkinan setidaknya dua pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir 2026. Bank sentral AS menahan suku bunga pada pertemuan sebelumnya, menghentikan sementara siklus pelonggaran yang sebelumnya mendukung reli saham AS. Futures saham AS mengalami penurunan semalam, sementara dolar dan imbal hasil Treasury naik pada Kamis (28/1) setelah laporan media bahwa Gedung Putih bersiap untuk menominasikan Warsh sebagai Ketua Fed berikutnya. Pada pembukaan perdagangan pagi ini, indeks Dow Jones Industrial Average turun 113,32 poin (0,23%) menjadi 48.958,24, S&P 500 melemah 14,11 poin (0,20%) menjadi 6.954,90, dan Nasdaq Composite turun 61,97 poin (0,27%) menjadi 23.621,32. Indeks Russell 2000, yang sensitif terhadap suku bunga, turun 0,3%. Indeks volatilitas CBOE – yang dikenal sebagai "fear gauge" Wall Street – naik 0,32 poin menjadi 17,2.
Small-Cap Tampil Menonjol di Januari
Musim laporan laba perusahaan sedang berlangsung. Microsoft (MSFT.O) mencatat hari terburuk sejak Maret 2020 setelah pendapatan cloud gagal memenuhi ekspektasi, memicu penjualan luas saham teknologi di Wall Street pada Kamis (28/1). Saham Microsoft turun 0,1%. Apple (AAPL.O) anjlok 1,8%. Meskipun produsen iPhone ini memperkirakan pertumbuhan pendapatan hingga 16% pada kuartal Maret, perusahaan memperingatkan bahwa kenaikan harga chip memori mulai menekan profitabilitas. Pasar Wall Street sebagian besar telah pulih dari tekanan jual yang dipicu rencana Trump untuk mengakuisisi Greenland dan hasil laporan laba kuartalan yang bervariasi. Tren perdagangan terkait AI yang ramai juga memicu rotasi ke saham small-cap dan sektor pasar yang sebelumnya kurang diperhatikan.
Baca Juga: Wall Street Tertekan, Saham Teknologi Turun karena Kekhawatiran Belanja AI Indeks Russell 2000, yang memuat saham-saham small-cap, diperkirakan akan mencatat kenaikan hampir 7% bulan ini, sementara S&P 600 menuju keuntungan lebih dari 6%. Sementara itu, S&P 500 dan Nasdaq hanya naik sekitar 1,8% masing-masing. Indeks Dow Jones pun diperkirakan akan mencatat kenaikan bulanan kesembilan berturut-turut, rekor terpanjang sejak 2018. Dari 133 perusahaan dalam S&P 500 yang telah melaporkan kinerja, sekitar 74% mengungguli ekspektasi analis, menurut data LSEG Kamis lalu. Saham SanDisk melonjak hampir 20% setelah perkiraan kuartal ketiga yang lebih baik dari ekspektasi, terdorong oleh permintaan penyimpanan AI. KLA Corp (KLAC.O) melampaui ekspektasi laba dan pendapatan kuartal kedua, namun sahamnya turun 7,7%. Saham Verizon (VZ.N) naik 7% setelah perusahaan telekomunikasi ini memperkirakan laba tahunan yang optimis. American Express (AXP.N) memproyeksikan laba tahunan jauh di atas ekspektasi, tetapi sahamnya turun 2,5%. Sementara itu, saham Chevron (CVX.N) naik 1% setelah melaporkan laba kuartal keempat di atas ekspektasi, sedangkan Exxon Mobil (XOM.N) turun 1% meski mengungguli estimasi Wall Street.
Sektor pertambangan emas dan perak yang terdaftar di AS mengalami tekanan setelah harga emas turun lebih dari 5% dan perak anjlok 11%. Indeks Material S&P (.SPLRCM) menjadi pemimpin penurunan dengan melemah 1,3%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News