Wall Street Melesat, Dow Jones Cetak Rekor Baru Usai AS-Iran Capai Kesepakatan Awal



KONTAN.CO.ID - NEW YORK.  Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin (15/6/2026), dengan indeks Dow Jones mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Kesepakatan tersebut memicu penurunan tajam harga minyak dan meredakan kekhawatiran pasar terhadap inflasi.

Melansir Reuters, Indeks Dow Jones naik 468,77 poin atau 0,92% ke level 51.671,03.


Sementara itu, S&P 500 menguat 1,65% menjadi 7.554,29 dan Nasdaq melonjak 3,07% ke 26.683,94, mencatat kenaikan harian terbesar sejak akhir Maret.

Sentimen positif datang setelah AS dan Iran menyepakati kerangka awal perdamaian yang juga membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran energi strategis dunia.

Baca Juga: Wall Street Menguat: Dow Jones Cetak Rekor, Nasdaq Tertahan Saham Produsen Chip

Meski sejumlah isu penting seperti program nuklir Iran dan konflik Israel-Lebanon belum tercakup dalam kesepakatan tersebut, pasar menyambut baik prospek meredanya ketegangan geopolitik.

Kabar itu langsung menekan harga minyak mentah berjangka AS hingga 4,9% ke level terendah sejak Maret.

Turunnya harga energi membuat investor lebih optimistis terhadap prospek inflasi dan membuka ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tanpa perlu memperketat kebijakan lebih lanjut.

“Kesepakatan AS-Iran mendorong harga minyak turun tajam, meredakan kekhawatiran inflasi dan mendorong investor kembali ke aset berisiko seperti saham teknologi,” kata Chief Investment Officer Cetera Investment Management, Gene Goldman.

Reli terbesar terjadi di sektor teknologi. Indeks teknologi S&P 500 melonjak 3,4%, sementara Indeks Semikonduktor Philadelphia (SOX) melesat lebih dari 5% dan mencetak rekor tertinggi baru.

Baca Juga: Wall Street Lanjut Reli Jumat (29/5), Optimisme Damai AS-Iran Angkat Saham Teknologi

Penguatan dipimpin oleh Nvidia yang naik 3,5% serta Micron Technology yang melonjak 10,5% setelah sejumlah analis menaikkan target harga saham perusahaan tersebut.

Kenaikan sektor chip turut mengangkat Nasdaq, yang sangat didominasi saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Reli ini sekaligus menandai pemulihan pasar setelah sempat tertekan oleh konflik Timur Tengah dan aksi ambil untung pada saham AI dalam beberapa pekan terakhir.

Penurunan harga minyak juga menjadi kabar baik bagi emiten yang sensitif terhadap biaya energi. Saham United Airlines naik 3,9%, sementara operator kapal pesiar Norwegian Cruise Line dan Carnival Corp masing-masing menguat 3,7% dan 3,2% berkat prospek biaya bahan bakar yang lebih rendah.

Di sisi lain, sektor energi menjadi satu-satunya kelompok yang tertekan. Indeks energi S&P 500 turun 3,6% seiring melemahnya harga minyak.

Perhatian investor kini beralih ke rapat kebijakan Federal Reserve yang akan diumumkan pada Rabu pekan ini. Pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga, meski masih terdapat peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun.

Pada level saham individual, SpaceX menjadi sorotan setelah melonjak 19,6% pada hari kedua perdagangannya pasca-IPO.

Baca Juga: Wall Street: Saham Teknologi Meroket, Dorong S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru

Saham perusahaan antariksa milik Elon Musk itu ditutup di US$ 192,46, jauh di atas harga penawaran perdana US$ 135 dan mendorong valuasi perusahaan melampaui US$2 triliun.

Sebaliknya, saham Fox anjlok 16,8% setelah mengumumkan akuisisi Roku senilai US$ 22 miliar. Saham Roku sendiri turun 1,9%.

Meningkatnya optimisme pasar juga tercermin dari penurunan Indeks Volatilitas CBOE (VIX), yang dikenal sebagai indikator ketakutan Wall Street.

Indeks tersebut turun untuk hari ketiga berturut-turut setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua bulan.

Secara keseluruhan, penguatan Wall Street menunjukkan investor kembali berani mengambil risiko setelah meredanya ketegangan geopolitik dan turunnya harga minyak, sementara pasar menanti arah kebijakan terbaru Federal Reserve yang berpotensi menjadi penentu pergerakan berikutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News