Wall Street Melonjak, Pasar Cerna Sinyal The Fed Tahan Suku Bunga



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Kamis (3/9/2026), setelah Gubernur Federal Reserve (The Fed) Christopher Waller membuka peluang untuk mempertahankan suku bunga pada bulan ini jika data menunjukkan tekanan inflasi terus mereda.

Pernyataan Waller mendorong investor mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Namun, peluang kenaikan masih terbuka jika data inflasi kembali menunjukkan tekanan harga yang tinggi.


Pada perdagangan Kamis pukul 11.25 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average naik 1,15% menjadi 53.673,94. S&P 500 menguat 0,93% ke 7.737,70, sedangkan Nasdaq Composite naik 1,23% menjadi 26.541,45.

Baca Juga: Wall Street Ditutup Anjlok Tajam Pasca The Fed Pertahankan Suku Bunga Acuannya

"Jika data inflasi domestik membaik, kenaikan harga minyak yang berkelanjutan tetap dapat menjaga kekhawatiran inflasi," kata Jeff DerGurahian, Chief Investment Officer loanDepot.

Harga minyak Brent tercatat naik 0,49% dan memperpanjang penguatan selama empat hari berturut-turut. Kondisi ini menjadi salah satu risiko bagi prospek inflasi AS dan ruang gerak The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Pelaku pasar kini menanti data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat. Data tersebut dipandang penting untuk memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed selanjutnya.

Sementara itu, data Kamis menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran AS naik 2.000 menjadi 206.000 pada pekan yang berakhir 29 Agustus. Angka tersebut masih sejalan dengan ekspektasi ekonom.

Dari sisi saham, penguatan Wall Street berlangsung meski saham sektor semikonduktor tertekan. Saham Broadcom merosot 4,9% setelah proyeksi pendapatan kuartal IV-2026 perusahaan berada di bawah ekspektasi pasar yang tinggi.

Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga di 3,50%–3,75%, Berikut Pernyataan Lengkapnya

Penurunan Broadcom turut menekan saham-saham produsen cip. Indeks Philadelphia Semiconductor turun lebih dari 1%.

Sebaliknya, saham perusahaan perangkat lunak menguat setelah Snowflake melonjak 20,14%. Kenaikan tersebut terjadi setelah perusahaan memberikan proyeksi pendapatan tahunan yang kuat.

Penguatan juga terlihat pada saham ServiceNow yang naik 5,24%, Salesforce 2,87%, dan Adobe 2,33%.

Saham terkait aset kripto turut menguat seiring pemulihan harga Bitcoin setelah melemah dalam dua sesi sebelumnya. Strategy naik 12,59%, Coinbase Global 9,76%, dan Robinhood Markets 14,76%.

Meski demikian, ruang penguatan pasar saham AS dinilai masih menghadapi sejumlah risiko. Ketidakpastian geopolitik, pergerakan harga minyak dan minimnya katalis dari musim laporan keuangan dapat membatasi laju kenaikan saham sepanjang September.

Baca Juga: Dolar AS Melemah Usai Data Tenaga Kerja Picu Spekulasi The Fed Tahan Suku Bunga

September juga secara historis menjadi salah satu bulan yang menantang bagi pasar saham AS. Menurut analis eToro Jakub Rochlitz, sembilan dari 40 penurunan terdalam dalam sejarah indeks S&P 500 terjadi pada September.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News