Wall Street Menguat 1% Lebih Dipicu Reli Saham Chip Jelang Laporan Nvidia



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat lebih dari 1% pada perdagangan Rabu (20/5/2026), didorong lonjakan saham teknologi dan sektor semikonduktor menjelang rilis laporan kinerja Nvidia. 

Penguatan ini sekaligus memutus tren pelemahan tiga hari berturut-turut di pasar.

Melansir Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average naik 1,31% ke 50.009,35, S&P 500 menguat 1,08% ke 7.432,97, dan Nasdaq Composite melonjak 1,55% ke 26.270,36.


Sentimen pasar terutama ditopang reli saham-saham chip yang menguat tajam menjelang laporan kinerja Nvidia, perusahaan semikonduktor berkapitalisasi pasar terbesar di dunia dan pemain utama di sektor kecerdasan buatan (AI). 

Baca Juga: UPDATE - Wall Street Menghijau Rabu (20/5), Ditopang Saham Chip Jelang Laporan Nvidia

Investor menilai laporan Nvidia sebagai indikator penting keberlanjutan permintaan investasi AI yang selama ini mendorong valuasi tinggi saham teknologi.

Saham Nvidia sendiri ditutup naik 1,3%, namun pergerakan setelah jam perdagangan (after-hours) bergejolak. 

Perusahaan sebelumnya memproyeksikan pendapatan kuartal II di atas ekspektasi Wall Street dan mengumumkan program pembelian kembali saham senilai US$ 80 miliar.

Sebelum pengumuman Nvidia, indeks Philadelphia Semiconductor sempat melonjak 4,5%, dipimpin oleh Astera Labs yang naik 17,7% dan saham ARM Holdings yang melesat 15%.

"Teknologi kembali menjadi penggerak utama pasar hari ini, terutama tema AI. Investor beralih dari kekhawatiran suku bunga dan inflasi, kembali ke cerita besar AI," kata Carol Schleif, kepala strategi pasar BMO Private Wealth.

Baca Juga: Wall Street Ditutup Turun karena Kekhawatiran tentang AI Hantam Saham Teknologi

Dari sisi makro, pasar juga mendapat dukungan dari turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun setelah naik tiga hari berturut-turut hingga menyentuh level tertinggi 16 bulan.

Sentimen turut dipengaruhi rilis risalah rapat Federal Reserve yang menunjukkan sejumlah pejabat masih membuka peluang kenaikan suku bunga ke depan. Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember tercatat 36,8%, turun dari 42% sehari sebelumnya.

Di sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah masih menjadi perhatian investor. Ketidakpastian konflik Iran–Israel sebelumnya menekan pasar akibat kekhawatiran lonjakan harga minyak yang bisa mendorong inflasi. 

Namun pada perdagangan Rabu, pelaku pasar cenderung mengabaikan risiko tersebut dan kembali fokus pada sektor teknologi.

Di level sektor, delapan dari 11 sektor utama S&P 500 ditutup menguat. Sektor konsumen diskresioner dan teknologi menjadi penggerak utama dengan kenaikan masing-masing sekitar 2,5%. Sebaliknya, sektor energi turun 2,6% seiring melemahnya harga minyak.

Saham ritel Target turun 3,9% setelah memperingatkan kondisi makro yang masih menantang, sementara Walmart ikut melemah 2,5% menjelang laporan kinerja. 

Baca Juga: Wall Street Naik Didukung Rebound Saham Teknologi, Investor Menanti Data Ekonomi AS

Di sisi lain, saham maskapai penerbangan menguat kuat, dengan Delta Air Lines, United Airlines, Southwest Airlines, dan Alaska Air naik antara 6% hingga 10% seiring turunnya harga minyak.

Sektor perjalanan dan pelayaran juga mencatat penguatan, dengan Carnival Corp dan Norwegian Cruise Line Holdings masing-masing naik lebih dari 8%.

Secara keseluruhan, saham yang menguat jauh lebih banyak dibanding yang turun dengan rasio sekitar 3 banding 1 di Bursa New York dan Nasdaq, menandakan sentimen positif yang cukup luas di pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News