Wall Street Menguat Didorong Inflasi Melandai dan Kinerja Emiten Lampaui Ekspektasi



KONTAN.CO.ID - NEW YORK.  Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup menguat pada perdagangan Rabu (15/7/2026) setelah data inflasi produsen menunjukkan pelemahan yang lebih besar dari perkiraan.

Sentimen positif tersebut diperkuat oleh awal musim laporan keuangan kuartal II yang menunjukkan kinerja sejumlah perusahaan besar melampaui ekspektasi pasar.

Ketiga indeks utama Wall Street berakhir di zona hijau. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 150,91 poin atau 0,29% ke level 52.659,18.


S&P 500 menguat 28,83 poin atau 0,38% menjadi 7.572,42, sementara Nasdaq Composite bertambah 162,22 poin atau 0,62% ke 26.269,23.

Baca Juga: Wall Street Menguat usai Data Tenaga Kerja AS Redam Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga

Kenaikan pasar dipimpin oleh saham-saham sektor konsumsi, ritel, serta perjalanan dan rekreasi, meski saham semikonduktor masih berada di bawah tekanan.

Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, sektor layanan komunikasi mencatat kenaikan terbesar, sedangkan sektor utilitas mengalami pelemahan terdalam.

Musim laporan keuangan kuartal II juga memberikan dorongan tambahan bagi pasar. BlackRock membukukan laba yang melampaui ekspektasi analis sehingga sahamnya melonjak 6,6%.

Morgan Stanley juga mencatat kinerja lebih baik dari perkiraan dan sahamnya ditutup naik 0,4%.

"Semua terlihat sangat baik dari laporan keuangan perbankan. Saya tidak akan terkejut jika kuartal ini kembali menghasilkan kinerja yang sangat kuat," kata Head of Portfolio Management Horizon Investments, Mike Dickson.

Baca Juga: Wall Street Menguat Tipis, Data Tenaga Kerja Redam Kekhawatiran Ekonomi AS

Berdasarkan data LSEG, analis kini memperkirakan laba perusahaan anggota S&P 500 pada kuartal II tumbuh 23,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, saham PayPal melesat 17,2% setelah Reuters melaporkan bahwa perusahaan pembayaran digital Stripe bersama firma ekuitas swasta Advent International mengajukan penawaran akuisisi senilai US$60,50 per saham, atau sekitar 28% di atas harga penutupan sehari sebelumnya.

Dari sisi makroekonomi, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) pada Juni justru turun secara bulanan, berlawanan dengan perkiraan pasar.

Bersama data inflasi konsumen (CPI) yang dirilis sehari sebelumnya, kondisi ini memperkuat indikasi bahwa tekanan inflasi mulai mereda.

Meredanya inflasi membuat pelaku pasar menilai Federal Reserve tidak lagi berada di bawah tekanan besar untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

"Data inflasi yang lebih rendah memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga atau bahkan memangkasnya pada akhir tahun. Itu merupakan kabar baik bagi pasar," ujar Chief Investment Officer Founders 100 ETF, Lauren Cassidy.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat kebijakan bulan ini turun menjadi 10,2%, dari 31% sepekan sebelumnya.

Baca Juga: Wall Street Bergejolak: S&P 500, Dow Ditutup Melemah Terseret Eskalasi Perang Iran

Meski demikian, investor masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Eskalasi serangan udara antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi, terutama di Selat Hormuz, yang berpotensi kembali mendorong tekanan inflasi global.

Di sisi lain, Gubernur Federal Reserve Lisa Cook menegaskan bank sentral siap mengambil langkah apabila inflasi tidak kembali menunjukkan tren penurunan dalam waktu dekat.

Aktivitas perdagangan menunjukkan sentimen pasar yang masih positif. Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang naik mengungguli saham yang turun dengan rasio 1,5 banding 1, sedangkan di Nasdaq rasio saham yang menguat mencapai 1,26 banding 1.

Volume transaksi di seluruh bursa AS tercatat 16,27 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 20 hari perdagangan terakhir yang mencapai 21,40 miliar saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News