KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street kembali menguat pada perdagangan Kamis (11/6/2026), ditopang oleh
rebound saham-saham semikonduktor setelah tekanan jual besar sehari sebelumnya. Namun, optimisme investor masih dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global. Pada perdagangan pukul 09:56 waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,90% ke level 50.371,57. Indeks S&P 500 menguat 0,81% menjadi 7.325,66, sementara Nasdaq Composite naik 1,07% ke 25.437,44.
Kenaikan dipimpin oleh sektor teknologi, terutama saham produsen chip yang pulih setelah koreksi tajam pada sesi sebelumnya. Saham Intel melesat 10%, Nvidia naik 1,3%, dan Micron Technology menguat 2,4%.
Baca Juga: Wall Street Bangkit Pasca Koreksi Tajam, Investor Pantau Ketegangan Timur Tengah Indeks teknologi S&P 500 naik 1,4%, sedangkan indeks semikonduktor Philadelphia SE Semiconductor melonjak 4,5%. Penguatan tersebut menjadi angin segar setelah saham teknologi sempat masuk area koreksi, atau turun lebih dari 10% dari rekor tertingginya. Sejak awal Juni, S&P 500 juga telah terkoreksi sekitar 4% akibat kekhawatiran atas tingginya valuasi saham teknologi dan prospek kebijakan moneter yang lebih ketat. Meski demikian, sentimen pasar masih dibayangi perkembangan situasi di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington siap mengambil tindakan keras terhadap Iran, termasuk menguasai infrastruktur minyak dan gas negara tersebut. Pernyataan itu mendorong harga minyak bergerak naik dan memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global. Kepala Strategi Pasar Osaic Wealth, Phil Blancato, menilai pasar saat ini sedang mencari titik keseimbangan setelah tekanan jual dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Wall Street Menguat Ditopang Saham Teknologi, Investor Menimbang Konflik Timur Tengah “Pasar mungkin sudah mengalami aksi jual berlebihan dalam beberapa hari terakhir, sehingga kini terjadi pemulihan,” ujarnya. Di sisi lain, sektor perangkat lunak justru menjadi pemberat pasar. Saham Oracle anjlok 12,5% setelah perusahaan mengumumkan rencana belanja modal tahun fiskal 2027 yang melampaui ekspektasi analis. Tekanan juga menimpa saham-saham teknologi lainnya seperti AppLovin, Atlassian, ServiceNow, Salesforce, dan Adobe yang turun antara 2% hingga 3%. Data ekonomi terbaru turut menjadi perhatian investor. Harga produsen di Amerika Serikat tercatat naik lebih tinggi dari perkiraan pada Mei dan mencatat kenaikan tahunan terbesar dalam lebih dari tiga tahun. Sementara itu, jumlah klaim tunjangan pengangguran mingguan juga meningkat tipis. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Namun pasar masih memperkirakan setidaknya ada satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Melemah, Saham Intel Tertekan dan Investor Tetap Waspada Dari sisi global, prospek ekonomi juga menghadapi tantangan. Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia untuk 2026 dengan alasan meningkatnya dampak perang di Timur Tengah. Lembaga itu memperingatkan pertumbuhan global dapat melambat hingga 1,3% apabila gangguan pasokan energi semakin parah dan memicu tekanan di pasar keuangan.
Di luar itu, perhatian investor juga tertuju pada debut saham perusahaan antariksa SpaceX milik Elon Musk yang dijadwalkan berlangsung Jumat. Penawaran saham perdana yang diperkirakan bernilai US$1,75 triliun itu dinilai berpotensi menjadi ujian berikutnya bagi reli pasar saham Amerika Serikat tahun ini. Secara keseluruhan, sentimen pasar masih cenderung positif. Sebanyak 10 dari 11 sektor utama S&P 500 berada di zona hijau, dengan sektor industri memimpin kenaikan. Di Bursa New York (NYSE), jumlah saham yang naik melampaui saham yang turun dengan rasio 3,27 banding 1, mencerminkan masih kuatnya minat beli investor meski risiko geopolitik dan inflasi tetap membayangi pasar. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News