Wall Street Menguat, Harga Minyak Anjlok 6% di Tengah Harapan Damai AS-Iran



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Senin (2/11/2026), didorong oleh penurunan tajam harga minyak mentah di tengah meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran.

Investor juga mencermati pemilihan paruh waktu AS yang berlangsung Selasa serta sejumlah agenda laporan keuangan perusahaan pekan ini.

Harga minyak mentah Brent merosot lebih dari 6% hingga menyentuh level terendah dalam hampir dua pekan. Penurunan tersebut terjadi setelah pembicaraan Iran dengan sejumlah pejabat Qatar untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama delapan bulan dengan AS memunculkan optimisme bahwa gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah dapat mereda.


Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan pemimpin tertinggi negara tersebut telah memberikan "kewenangan tertentu" kepada pemerintah terkait pembicaraan perdamaian, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Iran.

Sentimen positif turut mendorong saham-saham berkapitalisasi besar dan sektor pertumbuhan. Saham Nvidia naik 1,5%, sedangkan Amazon.com menguat 4,1%.

Baca Juga: Rupiah Melemah, 3 Mata Uang Asia Ini Bisa Jadi Alternatif Diversifikasi Aset

Pada pukul 10.02 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average naik 537,86 poin atau 1,04% menjadi 52.308,17. Indeks S&P 500 menguat 44,29 poin atau 0,58% ke level 7.623,22, sementara Nasdaq Composite bertambah 183,02 poin atau 0,72% menjadi 25.620,02.

Dari 11 sektor utama S&P 500, sebanyak tujuh sektor mencatatkan penguatan. Sektor barang konsumsi nonprimer memimpin kenaikan, sedangkan sektor energi melemah lebih dari 2,1% seiring anjloknya harga minyak.

Penguatan bursa saham AS tersebut memberikan sedikit ruang pemulihan bagi saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) setelah mengalami tekanan sepanjang Oktober. Sebelumnya, Nasdaq-100 yang didominasi saham teknologi hampir memasuki wilayah koreksi karena investor mulai mengkhawatirkan besarnya belanja investasi perusahaan teknologi besar untuk pengembangan AI, sementara potensi imbal hasilnya belum terlihat kuat.

Namun, kekhawatiran investor terhadap sektor teknologi masih membayangi perdagangan. Saham Oracle turun 5,8% setelah dokumen regulator menunjukkan bahwa penyedia infrastruktur komputasi awan tersebut berencana menghimpun dana sebesar US$ 20 miliar melalui penerbitan surat utang dan penjualan saham.

Rencana tersebut memperkuat kekhawatiran investor bahwa pembiayaan belanja investasi menggunakan utang akan semakin sulit dipertahankan ketika biaya pinjaman meningkat.

Sentimen terhadap sektor AI juga masih belum stabil. Dokumen penawaran umum perdana saham (IPO) Anthropic yang telah diperbarui menunjukkan kerugian bersih perusahaan menyusut tajam pada kuartal III-2026. Pada saat yang sama, pendapatannya meningkat menjelang rencana pencatatan saham di bursa.

Di sektor semikonduktor, saham Marvell Technology merosot 6,1% setelah perusahaan pembuat chip khusus tersebut mengumumkan rencana mengakuisisi produsen komponen optik Lumentum dalam transaksi seluruhnya menggunakan saham senilai US$ 115 miliar, termasuk utang. Saham Lumentum turut terkoreksi 10,5%.

Baca Juga: Harga Logam Mulia Kompak Terkoreksi pada Oktober, Paladium Paling Tertekan

Sementara itu, saham Intel melanjutkan pelemahan dengan turun 2,6%. Pada perdagangan Jumat, saham perusahaan tersebut sebelumnya mencatatkan penurunan harian terdalam sejak dekade 1980-an.

Intel sebelumnya memperkirakan pendapatan kuartalan berada di bawah estimasi pasar. Perusahaan juga menyatakan tidak memperkirakan arus kas positif sepanjang tahun ini.

Pesaing Intel, Advanced Micro Devices (AMD), dijadwalkan menyampaikan laporan keuangan pada pekan ini. Adapun saham Apple turun 1,3% menjelang pengumuman kinerja keuangan kuartalannya setelah penutupan perdagangan.

Strategis multi-aset UBS Global Wealth Management, Kiran Ganesh, mengatakan volatilitas pasar saham kemungkinan masih berlanjut selama musim laporan keuangan berlangsung.

"Pasar kemungkinan akan tetap bergejolak sepanjang musim laporan keuangan, dan masing-masing perusahaan dapat menghadapi hukuman dari pasar jika tidak memenuhi ekspektasi investor dalam semua aspek tersebut," ujar Ganesh.

Selain laporan keuangan perusahaan, perhatian investor pekan ini juga tertuju pada pemilihan paruh waktu AS yang berlangsung Selasa. Pemilu tersebut akan menentukan apakah Partai Demokrat mampu merebut kendali Kongres dari Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump.

Partai Demokrat secara luas diperkirakan akan memenangkan mayoritas kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives). Namun, persaingan untuk menguasai Senat masih lebih ketat dan belum dapat dipastikan.

Baca Juga: Saham HSC Keluar dari IHSG, Siapa yang Jadi Penggerak Indeks?

Sebagai informasi, Partai Republik menguasai kedua kamar Kongres selama dua tahun pertama pemerintahan Trump.

Dari sisi ekonomi, data terbaru menunjukkan aktivitas manufaktur AS meningkat pada Oktober 2026. Penguatan tersebut ditopang oleh permintaan domestik yang solid, meskipun harga bahan baku masih berada pada level tinggi.

Secara keseluruhan, saham-saham yang menguat lebih banyak dibandingkan saham yang melemah. Di Bursa Efek New York (NYSE), rasio saham yang naik terhadap saham yang turun mencapai 3,13 banding 1. Sementara di Nasdaq, rasionya sebesar 2,08 banding 1.

Indeks S&P 500 mencatatkan 26 saham yang mencapai level tertinggi dalam 52 pekan terakhir dan tidak mencatatkan saham pada level terendah baru. Adapun Nasdaq Composite membukukan 55 saham pada level tertinggi baru dan 117 saham pada level terendah baru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News