Wall Street Menguat, Inflasi AS Melandai dan Laba Bank Besar Lampaui Ekspektasi



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (14/7/2026), didorong data inflasi Juni yang lebih rendah dari perkiraan serta kinerja keuangan bank-bank besar yang solid.

Sentimen positif tersebut meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih meningkat.

Pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average naik tipis 10,02 poin atau 0,02% menjadi 52.508,66. 


Indeks S&P 500 menguat 28,55 poin atau 0,38% ke level 7.543,89, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 233,83 poin atau 0,90% menjadi 26.107,01.

Baca Juga: Wall Street Variatif Selasa (14/6), Inflasi yang Melandai Angkat S&P 500 dan Nasdaq

Indeks S&P 500 dan Nasdaq memimpin penguatan, sementara kenaikan Dow Jones lebih terbatas. Reli saham-saham sektor semikonduktor turut menopang laju Nasdaq.

Data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi pada Juni melambat lebih besar dibandingkan ekspektasi analis. 

Perlambatan tersebut terutama dipicu meredanya tekanan harga energi, seiring munculnya kemajuan dalam perundingan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada bulan lalu.

Di sisi lain, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menjalani kesaksian pertamanya di hadapan Kongres sejak dikonfirmasi menjabat. Dalam kesempatan itu, ia memaparkan rencana bank sentral untuk mengendalikan tekanan inflasi.

Baca Juga: Wall Street Ditutup Naik Kamis (9/7), Lonjakan Saham Semikonduktor Angkat Nasdaq 1,3%

Kesaksian tersebut berlangsung ketika konflik perebutan kendali atas Selat Hormuz memicu peningkatan serangan udara antara AS dan Iran. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak mentah dan kembali memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.

Meski demikian, setelah data CPI dirilis, pelaku pasar semakin yakin Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan Juli. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas suku bunga tetap berada di level saat ini mencapai 83,4%, meningkat dari 58,3% sehari sebelumnya.

Pasar juga masih memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin setidaknya satu kali sebelum akhir tahun.

"Data inflasi tampaknya melemahkan argumen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga. Laporan ini memberi ruang bagi The Fed, setidaknya untuk saat ini," ujar Chief Executive Horizon Investment Services, Chuck Carlson.

Carlson menambahkan, pernyataan Warsh menunjukkan keyakinan bahwa inflasi masih dapat ditekan tanpa harus menaikkan suku bunga.

Musim laporan keuangan kuartal II juga dimulai dengan hasil positif dari lima bank besar AS. Kinerja mereka ditopang oleh kuatnya aktivitas perdagangan dan peningkatan transaksi korporasi.

Baca Juga: Wall Street Tersungkur: Nasdaq Ditutup Anjlok 1,55% Terseret Saham Produsen Chip

Saham Goldman Sachs melonjak 9% setelah laba kuartal II melampaui ekspektasi pasar, didukung meningkatnya aktivitas dealmaking dan tingginya volatilitas geopolitik yang mengerek pendapatan dari bisnis perdagangan.

Sementara itu, saham JPMorgan Chase naik 2,5% dan Bank of America menguat 1,9% setelah keduanya membukukan laba yang melampaui konsensus analis.

Sebaliknya, Citigroup turun 5,3% karena kekhawatiran pasar terhadap kenaikan beban operasional menutupi capaian laba yang lebih baik dari perkiraan. Saham Wells Fargo juga melemah 2,7%.

"Ini merupakan pekan penting untuk laporan keuangan sehingga akhirnya kita bisa mendengar langsung kondisi dunia usaha di Amerika. Dari sektor perbankan, yang terus kami cermati adalah bagaimana kondisi konsumen. Sejauh ini kabarnya cukup positif," kata National Investment Strategist U.S. Bank Asset Management, Tom Hainlin.

Di luar sektor perbankan, saham IBM anjlok 25,2% setelah perusahaan memperingatkan pendapatan kuartal II diperkirakan berada di bawah estimasi pasar.

Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, sektor teknologi mencatat kenaikan terbesar, sedangkan sektor kesehatan menjadi yang berkinerja paling lemah.

Baca Juga: Wall Street Reli: S&P 500 Dekati Rekor Tertinggi, Debut SK Hynix Sokong Nasdaq

Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang menguat melampaui saham yang turun dengan rasio 1,78 banding 1. Tercatat 205 saham mencetak level tertinggi baru dan 108 saham menyentuh level terendah baru.

Sementara di Nasdaq, sebanyak 2.651 saham menguat dan 2.103 saham melemah, dengan rasio saham naik terhadap saham turun sebesar 1,26 banding 1.

Volume perdagangan di seluruh bursa saham AS mencapai 16,38 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata volume 20 hari perdagangan terakhir yang mencapai 21,66 miliar saham

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News