Wall Street Menguat, Kinerja Sektor Perangkat Lunak Mengimbangi Tekanan di Obligasi



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street dibuka menguat pada awal perdagangan Kamis (1/10/2026), didorong oleh kenaikan saham sektor perangkat lunak, meskipun kekhawatiran mengenai inflasi dan peningkatan utang pemerintah mendorong imbal hasil (yield) obligasi Treasury ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.

Mengutip Reuters, pada bel pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average naik 91,75 poin atau 0,18% ke level 50.997,80, S&P 500 naik 19,39 poin atau 0,25% ke level 7.670,93, sementara Nasdaq Composite naik 120,49 poin atau 0,46% ke level 26.984,50.

Perkiraan pendapatan Micron Technology yang melampaui ekspektasi serta komitmen pelanggan senilai $32 miliar dalam perjanjian pasokannya memperkuat keyakinan pasar terhadap sektor terkait kecerdasan buatan (AI). 


Baca Juga: Merdeka Gold (EMAS) Kucurkan Pinjaman Rp 6,45 Triliun ke PIN, Ini Efeknya ke Pani

Meskipun antusiasme terhadap AI terus mendorong Wall Street, lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) menguji minat investor terhadap saham-saham dengan valuasi tinggi, di tengah kekhawatiran berkelanjutan mengenai suku bunga akibat inflasi dan peningkatan utang pemerintah.

"Pasar obligasi memberikan tekanan berat pada sebagian besar saham. Namun, tekanan tersebut tidak terlalu berdampak pada saham-saham dengan bobot indeks terbesar," ujar Steve Sosnick, kepala analis pasar di Interactive Brokers.

Saham Nvidia naik 0,7% dalam perdagangan pre market, sementara saham Lam Research menguat 1,3%. Namun, saham Micron turun sekitar 0,9% setelah nilainya melonjak hampir empat kali lipat sepanjang tahun ini.

Saham Accenture melonjak 17,7% setelah perusahaan konsultan tersebut memproyeksikan pertumbuhan pendapatan setahun penuh yang melampaui perkiraan, yang turut mendongkrak saham-saham sejenis. Cognizant naik 7,9%, sementara saham blue-chip IBM menguat 5,6%.

Pasar obligasi global kembali mendapat tekanan; kenaikan biaya energi dan investasi besar-besaran pada infrastruktur AI memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap berada di level tinggi.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (acuan pasar) menyentuh angka 5,3423%—level tertinggi sejak 2002—sehari setelah obligasi tersebut mencatatkan kinerja kuartalan terburuk sejak 1994.

Baca Juga: Antisipasi Volatilitas Rupiah, Cermati Racikan Portofolio Fixed Income

Indeks Cboe VIX, yang dianggap sebagai indikator ketakutan pasar Wall Street, naik ke level tertinggi dalam dua minggu terakhir dan terakhir berada di posisi 16,39 poin.

Sepanjang September, Wall Street penuh gejolak; indeks S&P 500 dan Dow mencatatkan penurunan bulanan, sementara antusiasme terhadap AI membantu Nasdaq mencatatkan kenaikan. 

Data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan pada hari Rabu meredam ekspektasi kenaikan suku bunga akhir bulan ini; menurut FedWatch Tool dari CME Group, para pelaku pasar memperhitungkan adanya peluang sebesar 63% bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tetap stabil.

Meski demikian, mengingat tingkat inflasi masih berada di atas target 2% yang ditetapkan bank sentral, opsi kenaikan suku bunga pada bulan Desember tetap terbuka.

Terkait data ekonomi, laporan mingguan klaim tunjangan pengangguran menunjukkan penurunan jumlah pengajuan baru di AS pada pekan lalu serta berkurangnya jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) pada bulan September. Hal ini mengindikasikan bahwa stabilitas pasar tenaga kerja tetap terjaga, meskipun para pemberi kerja masih bersikap hati-hati dalam meningkatkan perekrutan karyawan.

Namun, Pejabat Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, menyatakan bahwa pasar tenaga kerja bukanlah faktor pendorong utama inflasi dan bahwa tekanan pada pasar tenaga kerja tidak diperlukan bagi bank sentral untuk mencapai target inflasinya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News