Wall Street Menguat, Nasdaq Mencatat Penutupan Tertinggi Sepanjang Masa



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wall Street menguat pada hari Kamis, terangkat oleh Nvidia dan saham teknologi lainnya yang terkait dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Sementara investor menilai data inflasi dan komentar pejabat Federal Reserve untuk mengukur kapan bank sentral mungkin mulai memangkas suku bunga.

Indeks S&P 500 dan Nasdaq membukukan rekor penutupan tertinggi. Keuntungan yang diraih perusahaan teknologi seperti Nvidia dan Microsoft telah memicu reli baru-baru ini di Wall Street di tengah optimisme lebih lanjut terhadap kecerdasan buatan.

Kamis (29/2), Dow Jones Industrial Average menguat 0,12% ke 38.996,39. Indeks S&P 500 naik 0,52% menjadi 5.096,26. Sedangkan Nasdaq Composite naik 0,90% menjadi 16.091,92.


Rekor penutupan tertinggi Nasdaq sebelumnya adalah 16.057,44 yang dicapai pada 19 November 2021. Sedangkan S&P melampaui rekor penutupannya di 5.088,80 yang dicatat minggu lalu.

Untuk bulan ini, S&P 500 naik 5,17%, Nasdaq melonjak 6,12%, dan Dow naik 2,22%. Masing-masing dari tiga indeks utama mencatatkan kenaikan pada bulan Februari, yang merupakan kenaikan bulanan keempat berturut-turut. Indeks Russell 2000 Small Cap naik 5,45% untuk bulan tersebut.

Nvidia merupakan dorongan besar bagi Nasdaq pada hari Kamis. Harga saham Nvidia pekan lalu melonjak setelah pembuat chip tersebut memperkirakan lonjakan pendapatan kuartal pertama sekitar tiga kali lipat karena kuatnya permintaan untuk chip AI.

Baca Juga: US Inflation Increases in Line with Expectations in January

Saham pembuat chip kelas berat Nvidia naik 1,9%. Sementara saingannya yang lebih kecil, Advanced Micro Devices, melonjak lebih dari 7%. Perusahaan-perusahaan tersebut dan perusahaan teknologi lainnya menjadi pusat pergerakan Wall Street dalam beberapa bulan terakhir, didorong oleh optimisme terhadap kecerdasan buatan.

Dell Technologies, yang menjual server yang dioptimalkan AI yang dibuat dengan prosesor kelas atas Nvidia, naik 1,2% menjelang laporannya setelah penutupan perdagangan.

Para pelaku pasar menambah spekulasi bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada bulan Juni setelah laporan Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) menunjukkan harga-harga AS meningkat pada bulan Januari. Angka ini sesuai dengan ekspektasi di tengah kenaikan kuat dalam biaya jasa, sementara kenaikan inflasi tahunan merupakan yang terkecil dalam tiga tahun terakhir.

“Ini bukan penurunan yang dramatis, tetapi inflasi bergerak ke arah yang benar dan memberikan investor sedikit perlindungan untuk merasa sedikit percaya diri memasuki pasar saham,” kata Robert Pavlik, manajer portofolio senior di Dakota Wealth kepada Reuters.

Baca Juga: Wall St Naik Setelah Data Inflasi yang Selaras Memicu Harapan Penurunan Suku Bunga

Presiden Fed Atlanta dan anggota pemungutan suara Raphael Bostic menekankan pendekatan kebijakan moneter yang bergantung pada data. Mereka mengatakan bahwa hal ini akan menjadi jalan yang sulit untuk mencapai target inflasi 2% The Fed.

Presiden Chicago Federal Reserve Bank Austan Goolsbee mengatakan pada hari Kamis bahwa dia yakin masih ada ruang untuk peningkatan pasokan tenaga kerja untuk menurunkan inflasi lebih lanjut.

Laporan inflasi harga konsumen dan produsen yang tinggi pada awal bulan Februari telah menyebabkan investor memundurkan ekspektasi penurunan suku bunga ke bulan Juni. Pada awal tahun ini, para pelaku pasar bertaruh pada bulan Maret sebagai titik awal siklus pelonggaran The Fed.

Sementara itu, klaim pengangguran awal untuk pekan yang berakhir 24 Februari mencapai 215.000, lebih besar dari ekspektasi 210.000, kata para ekonom yang disurvei oleh Reuters.

Ketiga indeks utama Wall Street menguat empat bulan berturut-turut hingga Februari. 

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Lanjutkan Fase Konsolidasi, Analis Rekomendasi Saham Ini, Jumat (1/3)

Dari 11 indeks sektor S&P 500, delapan indeks menguat, dipimpin oleh sektor real estate yang menguat 1,21%, disusul kenaikan 0,82% pada sektor teknologi informasi.

Harga saham Snowflake merosot hampir 20% setelah perusahaan analisis data cloud ini memperkirakan pendapatan produk kuartal pertama di bawah perkiraan Wall Street. CEO Snowflake Frank Slootman pun akan pensiun.

Paramount Global naik sekitar 1% setelah konglomerat media tersebut membukukan keuntungan mengejutkan dari keuntungan streaming. 

Dewan Perwakilan Rakyat Amerika akan melakukan pemungutan suara mengenai rancangan undang-undang untuk mencegah penutupan sebagian pemerintahan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati