Wall Street Bangkit Pasca Koreksi Tajam, Investor Pantau Ketegangan Timur Tengah



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street berhasil menguat pada perdagangan Senin (30/3/2026) setelah sebelumnya mengalami koreksi tajam, seiring optimisme investor atas komentar Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait pembicaraan dengan Iran, meski konflik di Timur Tengah kian meluas.

Pada pukul 09:47 waktu New York, Indeks Dow Jones Industrial Average naik 216,19 poin atau 0,48% ke 45.382,83, S&P 500 bertambah 20,46 poin atau 0,32% ke 6.389,31, dan Nasdaq Composite naik 39,52 poin (0,19%) ke 20.987,88. 

Investor juga menunggu komentar Ketua The Fed Jerome Powell dan Presiden New York Fed John Williams, yang dijadwalkan berbicara hari ini.


Trump menyatakan AS tengah melakukan diskusi serius dengan rezim yang lebih masuk akal untuk mengakhiri perang, namun kembali memperingatkan risiko serangan AS terhadap sumur minyak dan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz ditutup. 

Baca Juga: Wall Street Menguat Ditopang Saham Teknologi, Investor Menimbang Konflik Timur Tengah

Pernyataan ini muncul setelah milisi Houthi yang didukung Iran masuk ke dalam perang di Yaman akhir pekan lalu, memperburuk eskalasi konflik.

Indeks S&P 500 Energy naik 1,5%, dengan saham Exxon Mobil dan Chevron masing-masing melonjak 3% dan 1,5%.

“S&P 500 masih turun kurang dari 10% sejak perang dimulai. Investor tampaknya terpengaruh lebih sedikit dari yang saya kira terkait kemungkinan penutupan Selat Hormuz,” ujar Sam Stovall, Chief Investment Strategist di CFRA Research.

Ia menambahkan bahwa penguatan hari ini lebih bersifat teknikal karena banyak sektor dan sub-industri sedang dalam kondisi oversold.

Sektor keuangan juga menguat 0,8% setelah Departemen Tenaga Kerja AS merilis pedoman yang menjelaskan bagaimana pengelola dana dapat menambahkan aset alternatif, mulai dari private equity hingga cryptocurrency, ke dalam rencana pensiun 401(k).

Saham manajer aset merespons positif, dengan Blackstone naik 1,7%, KKR 1,4%, dan Apollo Global Management 1%.

Baca Juga: Wall Street Menguat, Investor Cermati Kenaikan Biaya Energi Jelang Pertemuan The Fed

Dari 11 sektor utama S&P 500, sembilan sektor ditutup menguat. Sejak awal konflik, indeks blue-chip Dow, Nasdaq, dan Russell 2000 sudah masuk wilayah koreksi. 

Morgan Stanley bahkan menurunkan rekomendasi global equities menjadi “equal weight” dari sebelumnya “overweight”, namun mencatat aliran dana ke ekuitas dan obligasi AS meningkat, menandakan pasar AS tetap menjadi tempat aman bagi investor.

Data pasar tenaga kerja, termasuk nonfarm payrolls untuk Maret, dijadwalkan dirilis minggu ini dan diharapkan memberi gambaran lebih jelas terkait kondisi ekonomi.

Lonjakan harga minyak akibat konflik Iran kembali memicu kekhawatiran inflasi, membuat pasar memperkirakan The Fed tidak akan memangkas suku bunga tahun ini, berbeda dengan dua kali penurunan yang diperkirakan sebelum perang.

Di sisi lain, saham Sysco turun 12% setelah perusahaan mengumumkan akuisisi Jetro Restaurant Depot senilai $29 miliar, termasuk utang.

Baca Juga: Wall Street Dibuka Menguat Senin (30/3), Fokus pada Konflik Timur Tengah

Saham produsen aluminium justru melonjak seiring harga logam yang berada di puncak empat tahun, dengan Alcoa naik 12% dan Century Aluminum 13,6%.

Pasar AS akan tutup pada Jumat mendatang untuk libur Good Friday. Di NYSE, jumlah saham menguat unggul 2,69 banding 1 atas yang melemah, sementara di Nasdaq rasio penguat dan penurun 1,49 banding 1.

S&P 500 mencatat 19 saham mencapai level tertinggi 52 minggu dan empat saham level terendah, sedangkan Nasdaq 17 saham mencetak rekor tertinggi dan 121 saham rekor terendah.