KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (19/8/2026), karena penurunan imbal hasil obligasi pemerintah meningkatkan minat risiko, sementara lonjakan tajam saham produsen vaksin Moderna mendorong kenaikan indeks di sektor kesehatan. Mengutip
Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 119,65 poin atau 0,22% ke level 53.463,05; S&P 500 naik 16,22 poin atau 0,21% menjadi 7.707,98; dan Nasdaq Composite naik 41,38 poin atau 0,16% menjadi 26.331,09. Saham Moderna melonjak hampir 177%—mencatatkan rekor kenaikan bagi perusahaan tersebut—setelah mereka mengumumkan bahwa terapi kanker mRNA yang dipersonalisasi (dikembangkan bersama Merck) terbukti mampu mengurangi risiko kekambuhan dan penyebaran melanoma dalam uji klinis tahap akhir.
Saham Merck melonjak 12,6%, menjadikannya saham dengan kenaikan persentase terbesar dalam indeks blue-chip Dow Jones dan terbesar ketiga di S&P 500.
Baca Juga: Wall Street Pulih, Saham Moderna Melonjak Lebih dari Dua Kali Lipat Lonjakan tajam saham Moderna turut mendongkrak saham perusahaan sejenis di sektor kesehatan, seperti Novavax yang ditutup naik 10,8% dan BioNTech (yang tercatat di bursa AS) yang melesat 22%. Sektor kesehatan S&P 500 ditutup naik 3,5%, mencatatkan kenaikan persentase harian terbesar sejak April 2025. Sektor ini juga mencapai rekor tertinggi dan memberikan kontribusi kenaikan terbesar bagi indeks S&P 500 dibandingkan 11 sektor industri utama lainnya. Indeks bioteknologi Nasdaq juga melonjak 6,4%. Sektor dengan kenaikan terbesar kedua adalah sektor barang konsumsi diskresioner (
consumer discretionary), yang naik 2%. Indeks sektor industri S&P 500 mencatat penurunan persentase terbesar di antara indeks-indeks sektoral acuan tersebut dengan koreksi sebesar 0,9%. Indeks teknologi informasi S&P 500 menyusul dengan penurunan 0,7%, tertekan oleh saham-saham perusahaan cip. Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 16,92 miliar saham, dengan rata-rata 16,96 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir. Investor hampir tidak bereaksi terhadap risalah pertemuan Federal Reserve AS bulan Juli, yang menunjukkan kekhawatiran mendalam mengenai inflasi dengan "beberapa" pembuat kebijakan siap menaikkan suku bunga.
Baca Juga: Harga Minyak Dekati Level Tertinggi 3 Minggu, Ketidakpastian Selat Hormuz Menyelimuti Banyak pihak menyatakan bahwa kenaikan suku bunga akan diperlukan jika inflasi tidak turun ke target 2% bank sentral AS. Namun, sehari setelah imbal hasil obligasi Treasury tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2007, imbal hasil tersebut turun pada hari Rabu bersamaan dengan imbal hasil Treasury tenor 10 tahun. Pergerakan ini terjadi setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan melipatgandakan ukuran operasi pembelian kembali (buyback) untuk mendukung likuiditas obligasi berjangka waktu lebih panjang. "Perdagangan aset berisiko (risk-on) berusaha bertahan pada 'tali penyelamat' yang diberikan oleh Menteri Keuangan Bessent," kata Carol Schleif, kepala strategi pasar di BMO Private Wealth, seraya mencatat bahwa aset-aset berisiko lebih tinggi—termasuk saham teknologi ternama—sempat mengalami aksi jual dalam beberapa hari terakhir seiring naiknya imbal hasil obligasi. Kekhawatiran mengenai utang pemerintah yang membengkak dan kenaikan inflasi telah mendorong imbal hasil obligasi global ke level tertinggi dalam beberapa dekade pada hari Selasa. Schleif mengatakan para investor merasa lega dengan adanya dukungan pemerintah, mengingat suku bunga yang lebih tinggi "berpotensi mempengaruhi tren investasi terkait AI," karena perusahaan-perusahaan teknologi selama ini menerbitkan surat utang dan saham serta menggunakan kas internal untuk mendanai pembangunan pusat data yang mendukung AI. Namun, indeks saham sempat memangkas kenaikannya seiring berjalannya sesi perdagangan.
Baca Juga: BI Rate Ditahan 5,75%, Rupiah Masih Berisiko Kembali ke Level Rp 18.000 Jim Baird, Chief Investment Officer di Plante Moran Financial Advisors, mengatakan bahwa investor kemungkinan melakukan aksi ambil untung setelah lonjakan awal. Ia menambahkan bahwa pengumuman pagi itu tidak berarti isu jangka panjang mengenai suku bunga tinggi sudah hilang dari pembahasan. Sementara itu, harga minyak mentah berjangka Brent ditutup lebih tinggi di tengah ketidakpastian perkembangan situasi di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka, bertolak belakang dengan klaim Iran yang menyebut selat tersebut tertutup bagi pelayaran. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News