Wall Street Menguat Setelah Inflasi AS Bulan Maret Melemah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wall Stret menguat di awal perdagangan Rabu (12/4). Wall Street menguat setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan penurunan.

Rabu (12/4) pukul 20.45 WIB, Dow Jones Industrial Average menguat 0,48% ke 33.847. Indeks S&P 500 naik 0,36% ke 4.123. Sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,19% ke 12.055.

Indeks harga konsumen (IHK) utama AS mendingin lebih cepat dari yang diharapkan pada bulan Maret. Data terbaru ini meningkatkan harapan bahwa Federal Reserve dapat menghentikan siklus kenaikan suku bunga segera.


Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan IHK utama dan inti pada bulan Maret masing-masing naik 0,1% dan 0,4% secara bulanan. Ekonom sebelumnya memperkirakan kenaikan masing-masing 0,2% dan 0,4%.

Secara tahunan, IHK utama naik 5%, lebih rendah ketimbang perkiraan ekonom sebesar 5,2%. Sementara inflasi inti yang mengecualikan harga makanan dan energi, naik 5,6% sejalan dengan perkiraan konsensus.

Baca Juga: China dan Bank Dunia Jajaki Solusi Restrukturisasi Utang Negara-negara Miskin

"Kita akhirnya mulai melihat efek kumulatif dari kenaikan suku bunga tanpa henti," kata Peter Andersen, pendiri Andersen Capital Management kepada Reuters.

Setelah gejolak perbankan bulan lalu, investor bertaruh bahwa Fed akan segera mengakhiri kampanye pengetatan moneter yang agresif. Bahkan, pelaku pasar juga meramalkan bahwa The Fed akan mulai memangkas suku bunga pertengahan tahun ketika ada kekhawatiran akan resesi.

Para trader sekarang melihat peluang 67% dari kenaikan suku bunga 25 basis poin di bulan Mei oleh Fed, turun dari 73% sebelum rilis data.

Saham teknologi utama dan saham pertumbuhan lainnya seperti Apple Inc, Alphabet Inc, Tesla Inc dan Meta Platforms Inc membalikkan kerugian awal dan melonjak antara 0,7% dan 2,1% dalam perdagangan premarket. Kenaikan harga saham teknologi disokong oleh penurunan imbal hasil US Treasury.

Risalah dari pertemuan kebijakan bank sentral AS pada bulan Maret juga akan diawasi dengan ketat oleh investor untuk petunjuk lebih lanjut tentang arah suku bunga. The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 bps bulan lalu dan mengisyaratkan akan menghentikan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Baca Juga: Sebagian Bursa Asia Menguat pada Rabu (12/4) Menjelang Rilis Data Inflasi AS

Yang juga menjadi fokus adalah komentar dari pejabat Fed. Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari kemarin mengatakan bahwa membiarkan inflasi tetap tinggi akan lebih buruk lagi bagi pasar tenaga kerja. Sementara Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee mengatakan bank sentral AS harus berhati-hati dalam menaikkan suku bunga dalam menghadapi tekanan perbankan baru-baru ini.

Di luar CPI, investor sedang menunggu musim pendapatan kuartal pertama yang dimulai pada hari Jumat dengan tiga bank besar, Citigroup Inc, JPMorgan Chase & Co, dan Wells Fargo & Co.

Harga saham American Airlines Group Inc turun 1,9% setelah memperkirakan pendapatan kuartal pertama di bawah perkiraan analis. Harga saham perusahaan China yang terdaftar di AS Alibaba Group Holding Ltd, Baidu Inc, dan JD.com Inc masing-masing tergelincir lebih dari 1% karena investor mempertimbangkan meningkatnya ketegangan geopolitik.

Taiwan mengatakan telah berhasil mendesak China untuk secara drastis menghentikan rencananya untuk menutup wilayah udara di utara pulau itu, mencegah gangguan perjalanan yang lebih luas dalam periode ketegangan tinggi di wilayah tersebut karena latihan militer China.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati