Wall Street mixed akibat rotasi portofolio investor dari saham teknologi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wall Street bergerak mixed dengan kecenderungan melemah pada awal perdagangan Kamis (18/3). Pukul 21.30 WIB, Dow Jones Industrial Average menguat 0,29% ke 33.109.

Sedangkan indeks S&P 500 turun 0,74% ke 3.944. Nasdaq Composite merosot 1,48% ke 13.324.

Nasdaq merosot karena imbal hasil US Treasury mencapai level tertinggi 14 bulan setelah Federal Reserve berjanji untuk mentolerir inflasi dan menjaga kebijakan moneter tetap longgar hingga tahun 2023. Saham teknologi yang sensitif terhadap imbal hasil seperti Apple Inc, Facebook Inc, Netflix Inc, Amazon.com Inc dan Microsoft Corp turun antara 1,2% dan 1,6% dalam perdagangan pra pasar.


Imbal hasil US Treasury acuan tenor 10-tahun menembus 1,75% pada hari Kamis untuk pertama kalinya sejak Januari 2020. Sementara Jones melewati 33.000 poin untuk pertama kalinya setelah Fed memproyeksikan pertumbuhan terkuat dalam hampir 40 tahun ketika krisis COVID-19 mereda. Bank sentral juga mengulangi janjinya untuk mempertahankan suku bunga target mendekati nol untuk tahun-tahun mendatang.

Baca Juga: OJK: Pasar modal Indonesia jadi tempat yang tepat untuk investasi

Pendapat di antara 18 pembuat kebijakan Fed saat ini memang agak berubah. Empat orang memperkirakan suku bunga mungkin perlu naik tahun depan. Tujuh orang memperkirakan kenaikan suku bunga pada 2023. "Meskipun Fed mengatakan mereka akan tetap akomodatif, poin yang diambil pasar adalah bahwa ada lebih banyak pembuat kebijakan yang melihat pergerakan suku bunga," kata Fiona Cincotta, analis pasar keuangan senior di Gain Capital di London.

Sementara inflasi diperkirakan akan melebihi target Fed 2,0% menjadi 2,4% tahun ini. Gubernur The Fed Jerome Powell memandangnya sebagai lonjakan sementara yang tidak akan mengubah sikap bank sentral.

Stimulus pengeluaran US$ 1,9 triliun memicu kekhawatiran kenaikan inflasi yang memicu lonjakan imbal hasil Treasury jangka panjang. Hal ini mengarah ke rotasi ke saham bernilai dengan mengorbankan saham teknologi dengan pertumbuhan tinggi.

Baca Juga: 2021 jadi tahun aset berisiko, IHSG diproyeksikan menuju 6.900

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati