KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak bervariasi pada perdagangan Senin (22/6/2026), dengan indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average menguat tipis, sementara Nasdaq cenderung datar. Investor mencermati perkembangan terbaru negosiasi antara AS dan Iran yang dinilai menunjukkan kemajuan, meski ketegangan di Timur Tengah belum sepenuhnya mereda.
Baca Juga: Nitrasanata Darma (JECX) dan Bach Multi (BACH) Akan Melantai di Bursa, Cek Prospeknya Mediator perundingan menyatakan pejabat tinggi AS dan Iran mencatat "kemajuan yang menggembirakan" dalam putaran pertama pembicaraan yang berlangsung di Swiss dan berakhir pada Senin dini hari. Namun, sejumlah isu krusial seperti situasi di Lebanon dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi sumber ketidakpastian. Melansir
Reuters pada pukul 09.53 waktu setempat, indeks Dow Jones naik 261,38 poin atau 0,51% ke level 51.826,08. Indeks S&P 500 menguat 23,77 poin atau 0,32% menjadi 7.524,35. Sementara itu, Nasdaq Composite turun tipis 1,52 poin atau 0,01% ke level 26.515,06.
Baca Juga: Wall Street Bergerak Datar di Awal Pekan Senin (22/6), Cermati Negosiasi AS–Iran Sektor teknologi dan keuangan menjadi penopang utama penguatan pasar. Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, sebanyak tujuh sektor bergerak di zona hijau, dengan sektor keuangan memimpin kenaikan sebesar 1%. Saham-saham produsen chip memori mencatat penguatan. Micron Technology dan Sandisk masing-masing naik sekitar 3%, menjelang laporan keuangan Micron yang dijadwalkan rilis pada Rabu pekan ini. Indeks semikonduktor Philadelphia SE Semiconductor Index juga naik 1,3% dan mencetak rekor tertinggi baru. Sementara itu, saham Intel naik 2% dan Nvidia menguat 1%. Di sisi lain, sektor layanan komunikasi menjadi pemberat pasar dengan penurunan 2,3%. Saham Alphabet turun 3,8%, sedangkan saham SpaceX merosot 7,9%, sehingga membebani pergerakan Nasdaq.
Baca Juga: Dampak Refocusing Anggaran MBG ke Emiten Konsumer & Poultry, Serta Rekomendasi Analis Sentimen positif juga datang dari pasar energi. Harga minyak dunia sempat turun hingga 2% setelah Washington dan Teheran menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam 60 hari ke depan. Penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan inflasi akibat konflik di Timur Tengah. Kepala Riset Pasar AJ Bell, Dan Coatsworth, mengatakan pasar masih menunjukkan optimisme terhadap peluang penyelesaian konflik Timur Tengah. Namun, investor belum sepenuhnya berani mengambil risiko karena situasi geopolitik masih berpotensi berubah. "Pasar cukup tangguh dalam beberapa pekan terakhir karena berharap konflik Timur Tengah dapat diselesaikan dan inflasi tidak kembali meningkat. Namun konflik tersebut masih menjadi isu yang hidup sehingga investor belum sepenuhnya masuk ke mode
risk-on," ujarnya.
Baca Juga: Keluarnya GOTO dan NCKL dari Indeks FTSE Picu Tekanan Jangka Pendek, Ini Kata Analis Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menanti rilis data
Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Kamis mendatang. Data tersebut merupakan indikator inflasi pilihan Federal Reserve dan akan menjadi petunjuk penting arah kebijakan suku bunga bank sentral AS. Jika inflasi kembali menunjukkan kenaikan di atas ekspektasi, pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan sikap hawkish. Saat ini, berdasarkan data LSEG, investor memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September mendatang. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga juga sempat menyentuh level tertinggi sejak awal 2025, yakni 4,23%.
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Teknikal Saham CTRA, ASII, BBRI untuk Selasa (23/6) Di luar itu, perhatian investor pekan ini juga tertuju pada sejumlah pejabat The Fed, termasuk Presiden The Fed New York John Williams dan Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee, yang dijadwalkan menyampaikan pandangannya mengenai kondisi ekonomi dan arah kebijakan moneter. Pada perdagangan individual, saham Apogee Therapeutics melonjak hampir 47% setelah AbbVie mengumumkan rencana akuisisi perusahaan bioteknologi tersebut senilai US$ 10,9 miliar secara tunai. Saham AbbVie turut naik 4,7%. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News