Wall Street Mixed, Nasdaq Turun Jelang Rilis Laporan Laba dan Data Ekonomi



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks Utama Wall Street ditutup beragam pada akhir perdagangan Senin (12/10/2026), dengan indeks Nasdaq melorot karena harga minyak melonjak hampir US$ 2 per barel menyusul serangan terhadap bandara di Arab Saudi, serta investor menantikan dimulainya musim laporan laba kuartal ketiga oleh bank-bank dan rilis data ekonomi minggu ini.

Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 195,60 poin atau 0,38% ke level 51.850,55; indeks S&P 500 turun 4,30 poin atau 0,06% ke level 7.807,24; dan indeks Nasdaq Composite turun 120,27 poin atau 0,44% ke level 27.245,90.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 12,67 miliar saham, dengan rata-rata 17,62 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.


Kontrak berjangka minyak melonjak setelah serangan mematikan di bandara internasional Riyadh selama akhir pekan. Serangan tersebut membayangi prospek peningkatan pasokan setelah Presiden AS Donald Trump menyambut baik ekspor solar baru dari Rusia dan membahas gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina terkait target infrastruktur energi.

Baca Juga: Wall Street Dibuka Variatif, Investor Cermati Harga Minyak dan Inflasi AS

Dalam beberapa hari mendatang, investor AS akan fokus pada laporan laba perusahaan, di mana bank-bank besar AS termasuk Goldman Sachs, Citigroup, dan JPMorgan Chase dijadwalkan melaporkan kinerja mereka pada awal hari Selasa. 

Analis memperkirakan laba perusahaan-perusahaan S&P 500 akan melonjak 30,6% pada kuartal ketiga, menurut data LSEG IBES.

Data lain yang akan dirilis minggu ini mencakup angka inflasi konsumen dan produsen AS untuk bulan September serta data penjualan ritel. 

Meskipun pasar obligasi pemerintah AS (Treasury) tutup pada hari Senin untuk memperingati Columbus Day, investor saham tetap waspada terhadap kenaikan imbal hasil obligasi baru-baru ini ke level tertinggi dalam 24 tahun, karena tingginya harga energi telah memicu kekhawatiran akan inflasi.

"Menjelang hari-hari berikutnya dalam minggu ini, ada beberapa laporan ekonomi penting yang dinantikan," kata Tim Ghriskey, ahli strategi portofolio senior di Ingalls & Snyder di New York. 

Ia mengatakan investor juga bersikap hati-hati karena kurangnya arah yang jelas dari pasar obligasi. "Kami juga sedang menantikan laporan laba perusahaan, dan hal itu penting. Laporan dari empat bank besar pada hari Selasa bisa memberikan dampak yang signifikan," ujarnya.

"Ada banyak hal yang perlu diwaspadai," kata Robert Pavlik, manajer portofolio senior di Dakota Wealth yang berbasis di Fairfield, Connecticut, seraya menyoroti data dan laporan laba mendatang serta kenaikan harga minyak.

"Anda sedang berjalan di sepanjang rel kereta dan tidak tahu—karena kondisinya gelap—apakah ada kereta yang datang; jadi, Anda harus sangat berhati-hati," ujarnya.

Baca Juga: IHSG Anjlok 2,59% di Tengah Rumor Pasar Terkait Sanksi Emiten

Di tengah kenaikan harga minyak, sektor energi mencatat kinerja terbaik di antara 11 sektor industri utama S&P 500 dengan kenaikan sebesar 1,5%. Sektor barang kebutuhan pokok konsumen (consumer staples) naik lebih dari 1%, begitu pula indeks layanan komunikasi S&P 500, yang terdorong oleh kenaikan lebih dari 3% pada saham Meta.

Sektor teknologi, yang turun 0,9%, dan sektor barang konsumsi non-pokok (consumer discretionary), yang turun 0,7%, menjadi sektor dengan kinerja terlemah. Pelemahan di sektor teknologi paling terasa pada saham-saham produsen cip; indeks semikonduktor Philadelphia ditutup turun 2,7% setelah sempat menyentuh level terendah dalam tiga minggu.

Di sektor barang konsumsi non-pokok, saham Chipotle Mexican Grill turun 3,8% setelah Starbucks menyatakan tidak akan mengakuisisi jaringan restoran burrito tersebut. 

Sementara itu, saham Starbucks ditutup naik 1,7%. Saham Microsoft ditutup naik 1,1% dengan kapitalisasi pasar yang menembus angka $4 triliun untuk pertama kalinya dalam setahun, menyusul pengumuman rencana perusahaan untuk menggelar penggunaan chip AI buatannya sendiri secara besar-besaran.

Baca Juga: IPO Masih Jauh dari Target, Ini Kata Bursa

Sementara itu, Pejabat Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, menyatakan bahwa bank sentral AS sebaiknya beralih "relatif cepat" menuju kebijakan moneter yang lebih restriktif guna memerangi inflasi; ia menilai inflasi kini telah meluas dan mulai memoengaruhi rencana penetapan harga oleh perusahaan-perusahaan.

Para pelaku pasar memperhitungkan adanya peluang Federal Reserve AS akan menaikkan suku bunga bulan ini hampir 22% bahwa —berdasarkan data alat FedWatch milik CME—naik dari angka 17,7% pada hari Jumat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: