Wall Street Naik, Didorong Kenaikan Saham Teknologi dan Melandainya Harga Minyak



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street kembali bangkit dan ditutup menguat pada akhir perdagangan Kamis (17/9/2026) seiring meredanya harga minyak, turunnya imbal hasil obligasi AS dan data tenaga kerja yang solid membantu pasar melawan sentimen kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 317,95 poin atau 0,62% ke level 51.779,85; S&P 500 naik 85,93 poin atau 1,14% ke level 7.637,74; dan Nasdaq Composite naik 439,87 poin atau 1,69% menjadi 26.418,30.

Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 17,5 miliar saham dengan rata-rata 15,37 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.


Baca Juga: Cermati Saham Net Sell Terbesar Asing Saat IHSG Rebound ke 6.462, Kamis (17/9)

Sektor teknologi memimpin kenaikan di antara 11 sektor utama S&P 500. Sektor keuangan dan barang kebutuhan pokok konsumen (consumer staples) menjadi dua sektor yang ditutup melemah, meskipun hanya mencatat penurunan tipis.

Saham perusahaan tambang emas dan perak serta produsen cip mencatat kinerja yang sangat baik, dengan kenaikan masing-masing lebih dari 3%.

Saham perbankan yang sensitif terhadap suku bunga kembali stabil setelah mengalami penurunan 2,3% pada hari Rabu.

Ketiga indeks utama saham AS ditutup jauh lebih tinggi, didorong oleh reli luas yang dipimpin sektor teknologi, dengan Nasdaq mencatat kenaikan terbesar.

"Kami melihat adanya minat pada sektor-sektor pasar yang sebelumnya terpukul keras akibat antisipasi kenaikan suku bunga Fed ini," kata Robert Pavlik, manajer portofolio senior di Dakota Wealth di Fairfield, Connecticut. "Dan orang-orang mulai masuk, melakukan sedikit pembelian saat harga terkoreksi."

Baca Juga: Wall Street Dibuka Naik Kamis (17/9), Harga Minyak Turun Redakan Kekhawatiran Inflasi

Harga minyak mentah turun, menyentuh level terendah dalam satu minggu setelah kekhawatiran gangguan pasokan mereda berkat laporan mengenai minyak Arab Saudi yang dialirkan melalui Oman.

Penurunan harga minyak sempat tertahan karena situasi Timur Tengah yang masih tegang. Harga energi telah melonjak sejak dimulainya konflik AS-Israel melawan Iran, yang turut memicu tekanan inflasi global yang lebih luas.

Pada hari Rabu, para pembuat kebijakan Fed sepakat dengan suara bulat untuk menaikkan suku bunga acuan (Fed funds rate) untuk pertama kalinya sejak Juli 2023. 

Pernyataan bank sentral tersebut menyebutkan bahwa Fed berkomitmen untuk mewujudkan kembali lebih cepat ke target inflasi 2%, yang membuka jalan bagi pengetatan kebijakan lebih lanjut tahun ini.

"Pasar merasa sedikit lega dengan kekompakan sikap Fed, di mana mereka semua memberikan suara yang sama," kata Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird di Louisville, Kentucky. 

"Ketua Fed Warsh kembali menegaskan independensi Fed." Menurut perangkat FedWatch dari CME, pasar keuangan saat ini memperhitungkan kemungkinan sebesar 53,1% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi pada pertemuan The Fed berikutnya di bulan Oktober; angka ini naik dari 27,2% pada pekan sebelumnya.

Baca Juga: IHSG Jumat (18/9) Diproyeksi Menguat, Ini Sektor Pilihan Analis

Dalam konferensi pers hari Rabu kemarin, Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyatakan bahwa ekonomi AS dalam kondisi kuat dan upaya menjaga stabilitas harga tidak harus merugikan pasar tenaga kerja. 

Pandangan ini didukung oleh laporan mingguan klaim tunjangan pengangguran dari Departemen Tenaga Kerja, yang menunjukkan penurunan klaim awal hingga mendekati level terendah sejak tahun 1969.

Indeks Volatilitas Pasar CBOE—yang sering dijuluki "indeks ketakutan" (fear index)—menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan, bergerak seiring dengan meredanya harga minyak mentah.

"Ketika terjadi guncangan harga minyak yang berkepanjangan seperti ini, dampaknya pasti akan mulai merembes ke harga-harga di seluruh sektor ekonomi. Ini benar-benar satu-satunya hambatan utama yang dihadapi ekonomi global saat ini," tambah Mayfield. 

"Dan jika ada perbaikan atau penyelesaian masalah ini, hal itu akan menjadi angin segar bagi konsumen maupun perusahaan, serta memungkinkan The Fed untuk bersikap tidak terlalu agresif (hawkish)."

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: