Wall Street: Nasdaq Turun di Awal Perdagangan Kamis (5/11), Saham Chip & AI Tertekan



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak variatif pada pembukaan perdagangan Kamis (5/11/2026).

Indeks Nasdaq Composite melemah akibat tekanan pada saham semikonduktor dan perusahaan yang terkait dengan infrastruktur pusat data (data center).

Pergerakan ini terjadi setelah Wall Street mencatat reli pada sesi sebelumnya menyusul kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu (midterm election).


Baca Juga: Pasar Saham Tertekan, Obligasi Korporasi Jadi Alternatif Pendanaan

Melansir Reuters pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average menguat 330,63 poin atau 0,62% ke level 53.686,75.

Sebaliknya, indeks S&P 500 turun 12,86 poin atau 0,17% ke posisi 7.675,76, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 198,95 poin atau 0,77% menjadi 25.537,57.

Tekanan terbesar datang dari sektor semikonduktor. Saham Qualcomm anjlok 11,2% dalam perdagangan pra-pembukaan setelah perusahaan tersebut melaporkan proyeksi penjualan chip smartphone kuartal IV yang lebih rendah dibandingkan ekspektasi Wall Street.

Lemahnya permintaan pasar smartphone serta penurunan pendapatan yang berkaitan dengan Apple menjadi faktor utama di balik kinerja tersebut.

Pelemahan Qualcomm turut menyeret saham semikonduktor lainnya. Nvidia turun 1,5%, Marvell Technology melemah 4,5%, sementara Intel terkoreksi 2,3%.

Baca Juga: Harga Minyak Melandai Pasca Pemilu AS, Simak Prospek Harga Selanjutnya

Kekhawatiran Regulasi Tekan Saham Infrastruktur AI

Selain sektor chip, saham perusahaan yang terlibat dalam pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) juga mengalami tekanan.

Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu AS, termasuk di sejumlah negara bagian yang menjadi pusat pengembangan data center, memunculkan kekhawatiran mengenai potensi pengetatan regulasi terhadap ekspansi industri tersebut.

Dalam beberapa waktu terakhir, penolakan masyarakat terhadap pembangunan pusat data berskala besar semakin meningkat di sejumlah wilayah AS.

Analis BCA Research menilai, pengetatan aturan pembangunan data center berpotensi membatasi pasokan kapasitas komputasi, terutama di negara bagian penting seperti Texas, Georgia, dan Ohio.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan nilai pusat data yang sudah beroperasi, khususnya milik perusahaan teknologi besar atau hyperscaler yang memiliki jaringan dan sumber daya global lebih luas.

Baca Juga: Surat Utang Korporasi Makin Ramai, Pendanaan Lewat IPO Tertinggal di 2026

Sebaliknya, perusahaan penyedia layanan komputasi awan generasi baru atau neocloud dinilai menghadapi risiko yang relatif lebih besar.

Sejumlah saham perusahaan pusat data pun mengalami penurunan lebih dari 4%, termasuk IREN, Hut 8, dan Applied Digital. Sementara itu, saham CoreWeave dan Nebius Group masing-masing turun 3,9%.

Tekanan juga meluas ke perusahaan utilitas dan pemasok peralatan yang memperoleh manfaat dari pesatnya pembangunan pusat data. Saham GE Vernova dan Constellation Energy turut bergerak melemah.

Di sektor perangkat keras, saham Dell, produsen server yang banyak digunakan untuk kebutuhan AI, turun 5,3%.

Baca Juga: Sentimen Pemilu AS Bayangi Harga Minyak Mentah, CORE Proyeksi Tren Melemah Berlanjut

Saham Big Tech Justru Menguat

Di tengah tekanan pada saham semikonduktor dan infrastruktur AI, sejumlah perusahaan teknologi berkapitalisasi besar justru mampu mempertahankan tren penguatan.

Amazon menguat 2,2%, sedangkan Meta Platforms dan Alphabet masing-masing naik sekitar 1%.

Investor tampaknya melihat potensi perlambatan ekspansi infrastruktur AI sebagai faktor yang dapat menguntungkan perusahaan teknologi besar yang telah memiliki kapasitas, jaringan, dan sumber daya komputasi sendiri.

Sementara itu, saham Tesla dan SpaceX, perusahaan yang dipimpin Elon Musk, masing-masing turun lebih dari 2% dan melanjutkan pelemahan dari sesi sebelumnya.

Musk diketahui menggelontorkan dana hampir setengah miliar dolar AS untuk mendukung sejumlah kandidat Partai Republik, termasuk upaya mempertahankan dominasi partai tersebut di Texas, negara bagian yang menjadi basis kedua perusahaan.

Baca Juga: Bitget Memperluas Layanan Investasi Pra-IPO, Kini Menyasar Anthropic

Ketidakpastian Politik AS Mulai Mereda

Pada perdagangan Rabu (4/11), indeks S&P 500 mencatat kenaikan harian terbesar dalam tiga bulan terakhir. Hasil pemilu yang memperkuat posisi Partai Demokrat turut meredakan ketidakpastian politik dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.

Sejumlah analis menilai pemerintahan dengan kekuatan politik yang terbagi di Washington berpotensi mengurangi kemungkinan perubahan kebijakan legislatif secara drastis.

Kondisi tersebut juga dapat menyulitkan tercapainya kesepakatan mengenai belanja fiskal, terutama di tengah memburuknya kondisi keuangan pemerintah AS.

Selain faktor politik, penurunan tajam harga minyak pada sesi sebelumnya turut menopang sentimen pasar. Namun, harga minyak mentah kembali menguat pada Kamis.

Kontrak berjangka minyak Brent tercatat naik lebih dari 2,8%, setelah anjlok lebih dari 8% pada perdagangan Rabu.

Pergerakan harga minyak masih menjadi perhatian investor sepanjang tahun ini. Konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, sehingga memicu volatilitas harga dan memperbesar risiko inflasi.

Baca Juga: Bobot BBCA, BBRI dan BMRI Capai 25% di IHSG, Risiko Konsentrasi Meningkat

Investor Menanti Sinyal Kebijakan The Fed

Perhatian pasar juga tertuju pada prospek kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Sejumlah bank sentral dunia mengakui bahwa tekanan inflasi masih berada pada level tinggi. The Fed bahkan telah menaikkan suku bunga pada September, sementara pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan lanjutan pada bulan berikutnya.

Setidaknya tiga pejabat The Fed, termasuk Presiden Federal Reserve Bank of Richmond Thomas Barkin, dijadwalkan menyampaikan pandangan mereka sepanjang Kamis.

Pernyataan para pejabat tersebut menjadi perhatian investor menjelang rilis laporan ketenagakerjaan AS periode Oktober yang dijadwalkan pada Jumat.

Data tenaga kerja tersebut dinilai penting untuk memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi AS sekaligus arah kebijakan suku bunga selanjutnya.

Baca Juga: OJK Perkuat Mekanisme Pemulihan Kerugian Investor Pasar Modal

Saham Individual Bergerak Tajam

Sejumlah saham individual juga mencatat pergerakan signifikan pada perdagangan tersebut.

Perusahaan penyedia skor kredit Fair Isaac anjlok 10% setelah laba kuartal IV tidak memenuhi ekspektasi analis.

Saham Snap, perusahaan induk Snapchat, turut merosot 10,2% akibat pendapatan kuartal III yang berada di bawah perkiraan pasar.

Sebaliknya, saham AppLovin melonjak 21,6% setelah perusahaan platform pemasaran digital tersebut mencatatkan laba kuartal III yang melampaui ekspektasi Wall Street.

Pergerakan saham-saham tersebut menunjukkan bahwa di tengah membaiknya sentimen pasar secara keseluruhan, investor tetap selektif dalam merespons kinerja keuangan dan prospek bisnis masing-masing perusahaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News