KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street dibuka nyaris stagnan pada perdagangan Jumat (4/9/2026), setelah data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan mendorong investor untuk memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve dapat menaikkan suku bunga bulan ini. Mengutip
Reuters, pada bel pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 101,2 poin, atau 0,19% ke level 53.584,89. S&P 500 naik 2,5 poin, atau 0,03% menjadi 7.750,19, sementara Nasdaq Composite naik 3,8 poin, atau 0,01%, menjadi 26.587,896. Laporan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan ekonomi AS menambah 162.000 lapangan kerja pada bulan Agustus, dibandingkan dengan perkiraan 56.000 menurut para ekonom yang disurvei oleh Reuters.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi, Cermati Saham Net Sell Terbesar Asing, Jumat (4/9) Tingkat pengangguran berada di angka 4,1% bulan lalu, sesuai dengan perkiraan. Para pelaku pasar meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan bank sentral tanggal 15-16 September; kontrak berjangka suku bunga jangka pendek kini mengindikasikan peluang kenaikan sebesar 65%, naik dari 55% sebelum laporan tersebut dirilis. "Ini jelas merupakan laporan yang sangat fluktuatif, namun hal ini menunjukkan bahwa saat ini fokus The Fed akan tertuju pada inflasi," ujar Josh Stevens, kepala investasi di Cresalta Investment Management. "Argumen bahwa pasar tenaga kerja masih lemah memang memiliki dasar, namun jika lapangan kerja menunjukkan penguatan dalam beberapa bulan ke depan, kita akan melihat kenaikan upah, dan hal itu akan menarik perhatian The Fed." Pasar Pasar mengurangi spekulasi mengenai kenaikan suku bunga pada hari Kamis setelah Gubernur The Fed, Christopher Waller, menyatakan dukungannya untuk mempertahankan suku bunga tetap jika data menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda. Komentar tersebut membantu pasar saham kembali stabil setelah mengawali bulan September dengan lesu. Data ekonomi belakangan ini menjadi sorotan utama, mengingat Ketua The Fed Kevin Warsh tetap pada pendiriannya untuk tidak memberikan panduan ke depan (
forward guidance).
Baca Juga: Proyeksi Harga Energi Hingga 2026, Batubara Bisa Naik & Minyak Tertekan Geopolitik Fokus terbarunya pada inflasi memicu pertanyaan di kalangan analis mengenai apakah tren pasar tenaga kerja dapat mempengaruhi pandangan bank sentral terhadap suku bunga. Momentum pasar tenaga kerja melambat setelah kinerja yang kuat di musim semi; hal ini sebagian disebabkan oleh kenaikan biaya energi akibat konflik Iran serta gangguan pasokan yang menghambat perekrutan. Pertumbuhan lapangan kerja juga tertekan oleh dampak kebijakan tarif luas yang diterapkan Presiden Donald Trump. Di sektor saham, saham Lululemon Athletica anjlok 19,5% dalam perdagangan
pre market setelah memangkas proyeksi laba dan pendapatan untuk tahun fiskal berjalan.
Saham Adobe turun 4,4% setelah mengumumkan bahwa CEO lama Shantanu Narayen akan menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada Anil Chakravarthy, seorang eksekutif internal perusahaan. Saham perusahaan pelaporan kredit AS melemah setelah pejabat Federal Housing AS, Bill Pulte, menyatakan pada hari Kamis bahwa ia telah menginstruksikan Fannie Mae dan Freddie Mac—lembaga yang dibentuk Kongres AS untuk mendukung pasar perumahan—agar mengizinkan seluruh pemberi pinjaman menggunakan sistem penilaian kredit VantageScore. Menjelang akhir pekan libur Labor Day, perdebatan mengenai tren pelemahan musiman di bulan September juga terus berlanjut. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News