Wall Street Perkasa, Indeks S&P 500 dan Nasdaq Melonjak Lebih Dari 2%



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street tampil perkasa dengan tiga indeks utama ditutup lebih dari 1,5%. Di mana, indeks S&P 500 juga mengakhiri penurunan tiga hari berturut-turut setelah kekhawatiran inflasi di kalangan investor mereda. Kini fokus pelaku pasar beralih ke pengumuman kebijakan Federal Reserve yang akan datang.

Selasa (15/3), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 1,82% menjadi 33.544,34, indeks S&P 500 menguat 2,14% ke 4.262,45 dan Nasdaq Composite naik 2,92% ke 12.948,62.

Indeks S&P 500 merosot sekitar 2,4% dalam tiga sesi sebelumnya dan baru-baru ini bergabung dengan Dow, Nasdaq dan Russell 2000 dalam membentuk pola teknikal death cross. Ini terjadi ketika rata-rata pergerakan jangka pendek melintasi di bawah rata-rata pergerakan jangka panjang, yang diyakini beberapa investor menandakan kemungkinan kelemahan jangka pendek.


Pada perdagangan ini, 10 dari 11 sektor utama di indeks S&P menguat, dengan saham teknologi dan konsumen memimpin kenaikan. Sementara sektor energi, yang menjadi satu-satunya sektoral yang  positif di tahun ini, malah merosot hampir 4% pada hari ini bersama dengan koreksi tajam harga minyak mentah.

Saham berkapitalisasi besar naik dengan Microsoft Corp yang melonjak 3,87% dan Apple menguat 2,97%. Hal tersebut sudah cukup untuk memberikan dorongan terbesar bagi indeks S&P 500 dan indeks Nasdaq.

Baca Juga: Wall Street Naik Saat Harga Minyak Terkoreksi, Fokus Investor Beralih ke The Fed

Di sisi kali ini, tekanan besar dirasakan saham sektor energi setelah harga minyak mentah jenis Brent ditutup di bawah US$ 100 per barel, setelah sempat berada di level tertinggi di US$ 139 per barel pada minggu lalu.

Hal tersebut memberikan beberapa bantuan sementara bagi investor yang telah melihat saham berada di bawah tekanan tahun ini dari melonjaknya kekhawatiran inflasi, ketidakpastian atas jalur kebijakan The Fed untuk menjinakkan kenaikan harga dan banyak lagi. Sentimen terbaru datang dari meningkatnya konflik di Ukraina.

Sementara itu, harga produsen di Amerika Serikat (AS) meningkat dengan kuat di bulan Februari karena harga barang seperti bensin melonjak, dan kenaikan lebih lanjut sedang dalam proses menyusul invasi Rusia ke Ukraina, yang telah membuat minyak mentah dan komoditas lainnya lebih mahal.

Namun, data untuk 12 bulan hingga Februari, sesuai dengan ekspektasi yang memprediksi kenaikan 10% pada harga produsen. Sedangkan indeks harga produsen untuk permintaan akhir pada basis bulanan meningkat 0,8%, hanya sedikit di atas dari perkiraan 0,9% dan lebih rendah dari kenaikan 1,2% yang tercatat pada bulan Januari.

Pasar sekarang sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga, setidaknya 25 basis poin, ketika bank sentral membuat pernyataan kebijakannya pada hari Rabu (16/3). Investor juga akan mencermati proyeksi The Fed untuk jalur kenaikan suku bunga tahun ini dan di tahun-tahun mendatang untuk mengendalikan inflasi.

Ketua The Fed Jerome Powell, baru-baru ini mengajukan beberapa kenaikan suku bunga tahun karena bank sentral AS tersebut berusaha untuk mengekang inflasi.

"Faktanya (PPI) lebih lemah dari ekspektasi sehingga gagasan bahwa kenaikan 25 basis poin tampaknya banyak dipercaya untuk hari ini, tetapi semua bisa berubah besok," kata Ken Polcari, Managing Partner di Kace Capital Advisors di Boca Raton, Florida.

Baca Juga: Maskapai AS Pangkas Kapasitas Imbas Lonjakan Biaya Bahan Bakar Pasca Krisis Ukraina

"Pasar berada dalam posisi yang sangat oversold, masih akan ada jalan bergelombang di depan, tetapi hari ini bisa saja menjadi salah satu reli cepat seperti yang kita lihat minggu lalu," lanjutnya.

Di sisi lain, investor juga mengamati dengan cermat lonjakan tajam dalam infeksi Covid-19 harian di China untuk kemungkinan menghambat pertumbuhan ekonomi global. Selain itu pasar juga menanti kemajuan dalam pembicaraan Ukraina-Rusia untuk mengakhiri konflik selama berminggu-minggu.

Dalam petunjuk terbaru tentang kompromi, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan, Kyiv siap menerima jaminan keamanan yang menghentikan tujuan jangka panjangnya dari keanggotaan aliansi NATO, yang ditentang Moskow.

Pada sesi ini, saham Delta Air Lines Inc naik 8,70% dan United Airlines melonjak 9,19% setelah operator AS menaikkan perkiraan pendapatan kuartal mereka saat ini, bahkan ketika mereka memangkas kapasitas. Indeks Arca Airline juga terkerek 5,57%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari