Wall Street Ragukan Resep Trump Tekan Biaya Hidup Jelang Pemilu AS



KONTAN.CO.ID - DAVOS, SWISS. Sejumlah bank besar Wall Street menyuarakan keraguan terhadap beberapa gagasan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menurunkan biaya hidup masyarakat AS, menjelang pemilu paruh waktu (mid-term elections).

Namun, di sisi lain, para bankir juga menawarkan sejumlah alternatif kebijakan guna ikut membentuk arah kebijakan ekonomi pemerintah, menurut sumber-sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.

Diskusi ini berlangsung di sela-sela pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. Para pelaku industri keuangan menyampaikan pandangan mereka kepada pejabat pemerintahan Trump, sembari menunggu kejelasan arah kebijakan sebelum mengambil langkah konkret.


Baca Juga: Proyeksi Harga Emas 2026 Versi Para Analis Wall Street Top

Salah satu usulan Trump yang menuai sorotan adalah rencana pembatasan suku bunga kartu kredit. Wall Street menilai kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan dampak negatif, termasuk terhadap kinerja saham perbankan besar.

Para bankir meragukan efektivitas langkah itu dalam meningkatkan keterjangkauan biaya hidup masyarakat.

Sebagai alternatif, bank-bank besar mengusulkan kebijakan yang dinilai lebih berkelanjutan, seperti mendorong peningkatan tabungan pensiun serta mempercepat transfer kekayaan dari orang tua kepada anak.

Meski demikian, sumber-sumber tersebut menilai tidak satu pun dari gagasan itu akan berdampak signifikan dalam waktu dekat terhadap persoalan biaya hidup, yang kini menjadi isu sensitif bagi para pemilih menjelang pemilu November.

“Yang kami sampaikan adalah: apa tujuan yang ingin dicapai? Mari kita cari cara untuk membantu,” ujar seorang eksekutif perbankan senior AS.

Isu Biaya Hidup Jadi Penentu Politik

Isu ekonomi, terutama melonjaknya biaya hidup masyarakat Amerika, menjadi salah satu faktor kunci kemenangan Trump dalam pemilu presiden 2024.

Walaupun inflasi telah menurun dari puncaknya pascapandemi COVID-19, harga kebutuhan pokok seperti perumahan dan bahan pangan masih tinggi. Kondisi ini dinilai dapat mengancam peluang Partai Republik dalam pemilu paruh waktu mendatang.

Baca Juga: Di Sepanjang 2026, Transaksi yang Ditangani Bankir Wall Street Diproyeksi Tinggi

Trump mengajukan sejumlah proposal untuk menekan biaya hidup, termasuk penurunan suku bunga kartu kredit dan rencana mengizinkan investor menggunakan sebagian dana pensiun untuk uang muka pembelian rumah. Presiden AS dijadwalkan kembali menyinggung isu ini dalam pidatonya di Davos pada Rabu waktu setempat.

Hingga kini, Gedung Putih dan Departemen Keuangan AS belum memberikan tanggapan resmi terkait pembahasan dengan bank-bank besar tersebut.

Dukungan pada Fokus, Bukan pada Pembatasan

Sejumlah CEO bank secara terbuka mendukung fokus pemerintah pada isu keterjangkauan, meski menolak pembatasan suku bunga kartu kredit. CEO Citigroup Jane Fraser, misalnya, menilai kecil kemungkinan Kongres menyetujui kebijakan pembatasan tersebut.

“Presiden benar dalam menyoroti isu keterjangkauan. Namun, pembatasan suku bunga tidak akan baik bagi perekonomian AS,” ujar Fraser dalam wawancara dengan CNBC dari Davos.

Para pelaku pasar juga mempertanyakan efektivitas kebijakan yang memperbolehkan masyarakat meminjam dana pensiun untuk uang muka rumah. Menurut mereka, akar persoalan utama adalah keterbatasan pasokan perumahan, bukan sekadar akses pembiayaan.

Sumber-sumber menyebutkan, pembatasan harga berpotensi membuat bank mengurangi limit kredit nasabah secara signifikan untuk menekan risiko kerugian.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan diskusi mengenai praktik perusahaan kartu kredit bukanlah hal yang tidak masuk akal, dan terdapat berbagai opsi yang bisa dipertimbangkan.

Tantangan Pasokan Perumahan

Salah satu gagasan lain yang mengemuka adalah mengizinkan orang tua atau kakek-nenek menggunakan dana pensiun mereka untuk membantu uang muka rumah anak-anaknya.

Alasannya, kelompok usia lebih tua cenderung memiliki saldo dana pensiun lebih besar dibandingkan generasi muda yang baru memulai karier.

Baca Juga: Wall Street Dibuka Melemah Setelah Serangan Pemerintahan Trump Terhadap The Fed

Namun, tanpa peningkatan pasokan rumah, kebijakan ini dikhawatirkan justru mendorong kenaikan harga properti. Ide lain yang muncul adalah memberikan insentif pajak, seperti membebaskan pajak bagi warga lanjut usia yang menjual rumah mereka, guna meningkatkan pasokan hunian di pasar.

Meski demikian, perubahan struktural di sektor perumahan dinilai membutuhkan waktu panjang. “Itu membutuhkan kesabaran yang saat ini hampir tidak dimiliki siapa pun,” ujar salah satu sumber.

Menurut sumber tersebut, pemerintah Trump sejauh ini bersikap terbuka. “Mereka mendengarkan. Ada orang-orang pintar di dalam pemerintahan yang bekerja keras menangani isu ini,” katanya.

Dengan isu biaya hidup yang semakin krusial secara politik, perdebatan antara pemerintah dan pelaku industri keuangan diperkirakan akan terus berlanjut dalam upaya mencari solusi yang efektif dan berkelanjutan.

Selanjutnya: BI Perkuat Pelonggaran Moneter, Outstanding SRBI Turun Jadi Rp 694 Triliun

Menarik Dibaca: Wyndham Culinary Journey Tawarkan 10 Kuliner Nusantara nan Menggoda