Wall Street: S&P 500 dan Nasdaq Jatuh karena Kekhawatiran Resesi Meningkat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. S&P 500 dan Nasdaq jatuh pada perdagangan Rabu (5/4). Terseret serangkaian data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lemah, memperdalam kekhawatiran kenaikan suku bunga The Fed yang cepat dapat mendorong ekonomi ke dalam resesi.

Melansir Reuters, pukul 11:39 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average naik 80,99 poin atau 0,24% ke 33.483,37, S&P 500 turun 13,72 poin atau 0,33% ke 4.086,88, dan Nasdaq Composite turun 145,17 poin, atau 1,20 % pada 11.981,16.

Indeks utama S&P 500 dan Nasdaq yang padat teknologi sekarang berada di jalur penurunan mingguan pertama mereka dalam empat minggu yang dipersingkat liburan.


Saham Nvidia Corp berada di antara hambatan teratas pada S&P 500, turun 2,9%. Setelah Google Alphabet Inc mengatakan superkomputer yang digunakannya untuk melatih model kecerdasan buatannya lebih cepat dan lebih hemat daya daripada sistem yang sebanding dari pembuat chip Nvidia.

Saham teknologi dan pertumbuhan seperti Meta Platforms Inc, Tesla Inc dan Amazon.com Inc turun antara 1,5% dan 4,0%.

Data ekonomi teranyar, laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP menunjukkan pengusaha swasta AS mempekerjakan pekerja jauh lebih sedikit dari yang diharapkan pada bulan Maret.

Situasi ini menambah tanda-tanda pasar tenaga kerja yang mendingin, menyusul data lowongan pekerjaan yang lemah pada hari Selasa.

Selanjutnya, survei Institute for Supply Management menunjukkan sektor jasa melambat lebih dari yang diperkirakan bulan lalu karena permintaan yang menurun. Sementara ukuran harga yang dibayar oleh bisnis jasa turun mendekati level terendah tiga tahun.

Baca Juga: Wall Street Tertekan pada Rabu (5/4) Setelah Rilis Data Ketenagakerjaan AS

Awal pekan ini, data ekonomi menunjukkan penurunan pesanan pabrik dan aktivitas manufaktur yang lemah.

Fokus sekarang akan berada pada data non-farm payrolls bulanan, sebagai laporan ketenagakerjaan yang lebih komprehensif. Dijadwalkan akan rilis pada hari Jumat untuk petunjuk lebih lanjut tentang keadaan pasar tenaga kerja.

"Jika kita melukis gambaran yang lebih luas tentang apa yang terjadi dalam perekonomian saat ini, kita sedang melihat data tenaga kerja yang melemah, inflasi yang turun tetapi masih tetap tinggi," kata Brian Klimke, direktur investasi di Cetera Investment Management.

"Jadi tampaknya kita sedang menuju resesi."

Dengan meningkatnya kekhawatiran tentang prospek ekonomi yang memburuk menyusul gejolak baru-baru ini di sektor perbankan, ekspektasi pasar telah bergeser mendukung bank sentral AS yang mengerem kenaikan suku bunganya.

Taruhan para pedagang tentang jeda oleh Fed pada bulan Mei mencapai 60,5%. Sementara peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin berada di 39,5%, menurut alat Fedwatch CME Group.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto